Skip to main content

Bulang Fhea sudah tiada...

Pt Kornelius Barus, SH 
20 April 1956 - 15 Maret 2019

Begitulah tulisan di kayu salib Bulang Fhea (Mertua, Bapak dari istriku), kini Ia sudah tiada. 

Opname
14 Maret 2019, dalam perjalanan menuju pulang ke bogor, istriku yang baru saja kena jambret di motor gojek yang dia tumpangi, masih menangis dan kesakitan. Ia duduk di tengah sambil berucap syukur karena masih diberi kesempatan Tuhan untuk masih hidup. Karena saat dia terlempar dari motor di tengah jalan besar persimpangan KPK dan Sudirman, ada 2 mobil dengan kecepatan tinggi hampir menabraknya. Untungnya motor-motor yang ada di situ segera menghentikannya dan istriku selamat. 
Di perjalanan pulang itu, tanpa sepengetahuan istriku, aku WA ke Misa di medan, adik istriku, memberitahukan bahwa kakaknya baru saja terjatuh dari motor dan minta didoakan. Dibalas oleh Misa bahwa Mama (bapak mertuaku) pun sedang diopname di rumah sakit karena tidak mau makan dan kondisinya lemas. 
Seketika itu aku berujar dengan kalimat yang tidak terlalu panik, supaya istriku menelpon Mami (ibu mertuaku), menanyakan kabarnya. 
Saat itu juga istriku langsung menelpon, awalnya hendak menanyakan kabar saja, dan tadinya mau bercerita tentang jatuh dari motor. Tapi kabar dari Mami bahwa Mama sedang diopname. Istriku agak khawatir dengan kondisi itu, sehingga cerita tentang jatuhnya pun tidak jadi diceritakan. 

Tidak sadarkan diri
Tanggal 15 Maret 2019, pagi-pagi kami mendapatkan kabar dari Medan bahwa tensi Mama terus-menerus rendah. Kondisinya sudah tidak sadar. Kami semakin khawatir. Aku minta istriku menelpon Mami, supaya dia bisa pulang ke Medan menengok Mama. Tapi Mami bilang tidak usah dulu, kondisinya sudah agak membaik katanya. 
Tapi aku bilang ke istri, besok (sabtu) nanti kita atur saja segera pergi ke Medan, sepulang dari istriku selesai kuliah. 
Siang sekitar jam 11 aku telpon lagi ke Misa, tapi yang angkat Bik Tengah, untuk tanya kondisinya sudah seperti apa. Kata Bik Tengah, kondisi masih tidak sadarkan diri, tensinya rendah. Aku pun menanyakan lagi supaya kami bisa pulang ke Medan, tapi dibilang tidak perlu dulu. 

Sudah tiada
Persis jam 15, aku mendapatkan telpon dari nomor handphone Misa. Aku saat itu sedang meeting di ruangan, dan segera keluar untuk mengangkat telpon. Saat kuangkat, sudah meledak tangis di ujung telpon, sambil bilang dengan kalimat yang tidak begitu jelas, bahwa Mama sudah dipanggil Tuhan, sudah tidak ada lagi. Aku sontak kaget dan menangis. Bik Tengah bilang segera kabarin Chicha, istriku. 

Mengabari Istri
Aku coba telpon istriku langsung. Tapi tidak diangkat-angkat, karena mungkin sedang kuliah di kelas. Kemudian dia WA, menanyakan ada apa. Aku langsung telpon lagi. Barulah dia angkat. Aku langsung dengan menangis bilang bahwa Mama sudah tiada. Istriku langsung panik, menangis, dan hampir menjerit di ujung sana. Aku bilang bahwa aku akan jemput dia.
Telpon ditutup. Aku pun setengah bingung mau melakukan apa. Akhirnya aku ke meja kerja, merapihkan barang-barang, dan siap untuk menjemput istri. Di tengah-tengah itu, istriku menelpon dan bilang bahwa dia saja yang naik gocar ke kantorku, supaya lebih cepat. Akhirnya aku tunggu di lobby.
Abang bapak Kirey yang menyetir mobil, sementara aku duduk mendampingi istriku di bangku tengah, meluapkan kesedihannya. 

Persiapan berangkat
Malam itu kami langsung berniat untuk berangkat ke Medan. Mencari tiket dan mau langsung berangkat. Mamah dan Bapak pun ikut. Jadi total kami bertujuh orang. Sayangnya malam itu tiket sudah tidak ada. Akhirnya kami cari tiket besok pagi-paginya, dan langsung diconfirm. 
Malam itu sungguh seperti petir menggelegar, tiba-tiba, dan mengagetkan, kabar Mama sudah tiada. 
Dari PJJ SWRJ datang untuk ngapuli, bersama dengan pendeta. Keluarga pun berkumpul semua. Fhea dan Reigo sedih dikabari akan hal ini. 
Kami menyanyikan lagu, berdoa, dan dikuatkan oleh semua untuk bisa berangkat dengan tetap menguatkan diri. 

Sampai di Medan
Tanggal 16 Maret jam 7 pagi kami sampai kualanamo. Dijemput Amsal di bandara. 
Menuju rumah duka, rumah Bik Tengah dengan penuh langkah berat dan sedih tidak sanggup membayangkan suasana haru dan kesedihan yang akan ada di sana. 
Setengah berlari setelah turun dari mobil, disertai tangisan yang meledak, kami pun menuju tempat berbaringnya Mama. Semua keluarga menyambut dengan tangis, sungguh tidak menyangka hal ini terjadi. 

Foto dan lagu pujian
Sudah dipersiapkan dari Bogor, aku pun bergegas untuk mencetak foto Mama. Pergi ke Mari Foto untuk mencetaknya. Diedit sedikit supaya fotonya lebih baik. 
Selesai itu, aku pun diminta Mamah aku mengetik lagu-lagu pujian. Aku mencari 10 lagu-lagu pujian penghiburan yang bisa menguatkan hati, aku pergi ke warnet dan aku ketik. Setelah itu minta Yeyep fotocopy sebanyak 50 lembar. Lagu-lagu itulah yang siangnya kami nyanyikan dipimpin oleh Kila Pdt Firman Ginting. 

Runggu
Malam hari langsung dilaksanakan runggu untuk menentukan susunan acara mulai dari adat, gereja, sampai dengan penguburan. Ditetapkan penguburan akan dilakukan besok, 17 Maret 2019 di simalingkar B. Acara adatnya sendiri di jambur pemere, dan dilanjut ke gereja gbkp km 7. 

Acara adat
Acara adat cukup panjang. mulai dari pagi sampai jam 16 sore. Semua keluarga berbicara dan bersedih dengan keadaan duka yang terjadi. Saudara yang datang sangat banyak, hampir 800 orang di jambur pemere. 

Gereja
Akhirnya jam 16 sore peti dibawa ke gereja. Di gereja aku dan istri agak terlambat sedikit karena kemacetan. Kami duduk di depan disamping peti. Bernyanyi, mendengarkan khotbah, dan menaruh bunga terakhir di peti Mama. Semua kami sedih. 
Peti ditutup oleh pertua diaken untuk selama-lamanya. 

Penguburan
Acara penguburan di TPU simalingkar B. Kami semua pergi ke sana, dan menyaksikan Mama dikubur untuk selama-lamanya. Sungguh tak terbayangkan hal ini bisa terjadi. 
Akhirnya acara selesai, dan kami semua pulang ke rumah. 

Mami sakit
Setelah semua rangkaian acara selesai, baru tahulah kami bahwa Mami pun sebenarnya sakit, ada luka yang membesar di sekitar perut. Aku segera coba kontak Mamah, dan langsung Wocare datang untuk mengobati. Puji Tuhan beberapa kali visit, kondisi luka sudah semakin membaik. 

Saat Teduh bersama
Beberapa hari di medan, kami ber saat teduh bersama. Menyanyikan satu lagu, membaca renungan, bernyanyi lagi, dan berdoa bersama. Sungguh saat-saat itu bisa menguatkan hati dan pikiran kami untuk tidak berpaling dari Tuhan, dan mencoba bersyukur dalam situasi apapun. 

Heart-to-heart
Di saat teduh terakhir sebelum kami besoknya pulang ke bogor, aku usul untuk membuat acara heart-to-heart, hati ke hati, untuk bisa saling menguatkan. Mami, istriku, Boy, Revi, Misa, Erry, dan juga Bapak serta Bibi ikut berbicara. Memang ada hal-hal yang terungkap disitu, tapi Puji Tuhan bisa mulai terbuka satu dengan yang lainnya. 

Pulang
Tak rela rasanya pulang ke Bogor dengan meninggalkan Mami di Medan. Namun mau tidak mau hal itu dilakukan. 
Kami pulang hari kamis siang. Berpisah sementara dengan semua keluarga di Medan. Semoga kita semua selalu dihiburkan oleh Roh Kudus. 

Comments

Popular posts from this blog

Pilih kulkas SHARP!

Minggu kemarin kami membeli kulkas baru. Prosesnya agak sedikit lucu, karena sebelumnya kita pergi ke electronic city di Botani Square untuk melihat-lihat saja. Setelah hampir 1 jam ngobrol2 dengan salesnya kita memutuskan beberapa merk dan tipenya yang menjadi pilihan. Ada 2 merk yang kita pilih, yaitu Samsung dan LG. Tipenya kurang lebih 400-450 liter.
Tapi entah kenapa saat itu kita lupa membawa kartu atm bni untuk melakukan debit pembayaran. Sementara bonus dari kantorpun belum turun, jadi dana di kartu atm mandiri masih kosong. Terpaksalah kita pulang dengan tangan hampa, terlebih barangpun memang indent kalau kita jadi pembelian. Kita sangat tertarik dengan diskon yang hampir 30% diadakan di toko itu, dan terakhir katanya hari itu pula.

Setelah pulang, kita sepakat jalan-jalan ke BellaNova, sekalian cari perbandingan kulkas yang lain disana. Kalau misalnya memang tidak ada yang cocok, kita akan balik lagi ke electronic city untuk menjadikan pembeliannya. Sampai disana benar sa…

Mesin Cuci Baru Samsung Bikin Listrik nge-Jepret

Beberapa waktu yang lalu saya beli mesin cuci baru di Hartono Elektronik. Merk Samsung, Front Loading, seri: WW85H5400EW.
Saat barang sampai, saya langsung coba pasang sendiri. Karena begitu lihat instruksinya sederhana, hanya melepas 4 baut yang mengunci saja, dan sudah langsung bisa digunakan. 
Masalahnya adalah: Listrik saya dayanya 1300 watt. Saat saya coba mencuci pakaian, saya nyalakan dan pilih mode mencucinya, berjalan lancar. Saya langsung pencet START. Mesin cuci pun mulai mengisi air dari air pam di rumah saya. Saat selesai mengisi air, listrik rumah langsung "nge-jepret". Saya naikkin lagi mcb-nya, dan mesin cuci start lagi. Jepret lagi. Sampai beberapa kali saya naikkin, baru mesin cuci bisa berjalan lancar. 
Keanehan ini pun saya analisa dan ujicoba: Pompa air: saya akhirnya pakai jalur air yang tidak menggunakan pompa air (langsung dari pam), untuk mengurangi konsumsi listrik. Tapi listrik tetap turun. AC: saya matikan ac dan lampu untuk mengurangi konsumsi list…

KECEWA dengan BIGTV !

Sekitar sebulan yang lalu saya mencoba pasang bigtv karena katanya lebih murah dan pilihan channel lebih banyak dalam satu paket.
Di rumah sebenarnya sudah langganan indovision dan berjalan dengan baik. Tapi karena ingin membandingkan, ingin mencoba yang baru, dan kalau memang bagus akan mengganti yang lama dengan yang lebih bagus, maka akhirnya saya coba berlangganan bigtv.

AWALNYA SUDAH KURANG BAGUS, TEKNISI AMATIR.
Teknisi yang datang untuk proses instalasi sudah bermasalah dari awalnya. Proses cabling tidak berjalan baik, sehingga siaran tidak dapat ditangkap dalam sekali instalasi. Besoknya teknisinya datang lagi dengan membawa seniornya, dan akhirnya siaran dapat berjalan baik (walaupun sinyal kecil sekali). Kabel coaxial di rumah saya sebenarnya sudah ditanam duluan saat proses renovasi rumah, sehingga tidak perlu penarikan kabel baru ke dalam rumah, hanya tinggal menyambung di atas. Adapun proses instalasi adalah di kamar saya dan sudah ada kabel instalasinya. Teknisi pada awa…