Tips Melatih Vocal Group

by - October 24, 2018

Puji Tuhan, setelah kurang lebih 1 bulan berlatih untuk lomba vocal group memeriahkan HUT GBKP Bogor yang ke-38, PJJ Sektor Warung Jambu (SWRJ) meraih juara 2.

Untuk yang kali ini, aku kembali diminta menjadi pelatih vocal groupnya. Lagunya dari KEE 303 "O Yesus Kam Terang Geluhku". Link penampilan kami bisa dilihat di sini https://www.youtube.com/watch?v=Ysq9euwV2I4

3 tahun yang lalu kami juara 1 saat lomba vocal group ini, jadi lebih kurangnya kami bertanding sebagai juara bertahan, dulu masih dalam satu runggun yang besar. Kalau sekarang sudah mekar dan menjadi dua runggun. Dulu membawakan lagu "Pujilah Tuhan Sibadia" KEE No 160. Bisa dilihat linknya di sini https://www.youtube.com/watch?v=Vr68o9zGGL4

Setiap berlatih dan berkompetisi vocal group, selalu saja ada hal-hal yang lucu dan terkenang. Seru banget proses latihan dan aransemennya.

Sehingga aku ingin menuliskan di sini beberapa tips yang aku terapkan dalam latihan vocal group. Hal ini berdasarkan pengalaman pribadi setelah beberapa kali menjadi pelatih vocal group. Tentunya banyak pelatih yang sudah senior dan punya trik yang lain yang lebih hebat, namun ini hanya sekedar berbagi apa yang aku alami.

1. Direkam
Strategi paling jitu untuk memulai latihan vocal group jaman now adalah setiap hasil latihan direkam. Biasanya saat latihan selesai, aku mengambil hp dan merekam progress latihan hari itu, kemudian mengirimkannya ke semua anggota vocal group. Dengan begitu semua peserta dapat berlatih dan mendengarkan di rumah masing-masing.

Aransemen yang aku buat pun aku rekam, entah itu inspirasinya saat aku sedang menyetir, duduk di rumah, duduk di toilet, atau menonton tv. Inspirasi biasanya datangnya cepat, hilangnya juga cepat. Jadi kalau tidak direkam, hampir dipastikan  pasti akan hilang.

Rekam bisa hanya bersenandung, atau menggunakan alat musik. Keduanya aku sering lakukan. Misalnya di mobil sambil menyetir, aku bersenandung. Saat mendapatkan inspirasinya, langsung aku rekam, dan aku pastikan bahwa nada-nada yang tercipta terekam dengan baik dan jelas.

Menjelang latihan, aku tinggal mendengarkan ide-ide tersebut yang sudah aku rekam, dan aku bisa masukkan ke bagian-bagian lagu.


2. Memecah lagu
Berlatihlah dengan bagian lagu yang kecil. Aku sebagai pelatih biasanya membagi lagu menjadi beberapa bagian kecil. Pada umumnya aku membagi nya menjadi 10 bagian penting:
1. Intro
2. Variasi Interlude 1
3. Bait 1
4. Variasi Interlude 2
5. Bait 2
6. Variasi Interlude 3
7. Reff
8. Variasi Reff
9. Ending
10. Punch line

Jadi total ada 10 bagian kecil di dalam lagu tersebut yang harus punya keunikan, nyambung satu dengan yang lainnya, dan harmonis.
Kenapa harus 10? Karena juga supaya tidak terlalu banyak variasi yang diulang-ulang. Waktu nampilnya lama, namun variasinya hanya itu-itu saja tentunya akan membosankan.

Nah saat sudah punya modal bagian-bagian lagunya, maka aku tidak perlu melatih keseluruhan bagian di setiap latihan. Tetapi dengan pembagian ini, aku jadi punya strategi untuk melatih anggota vocal group secara incremental atau bertahap.

Di latihan pertama kali vocal group ini, kita hanya berlatih menyanyikan lagu itu dengan nada yang benar secara sekaligus semua.
Selanjutnya aku melatih intronya.
Hanya intronya saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Setelah itu latihan pertama selesai.

Baru di latihan ke-2, dilatih mengulang bagian yang sudah dilatih, dan ditambah dengan melatih interlude. Nah di latihan ke-2, aku melihat cukup waktu untuk sekalian melatih bagian ke-3 yaitu bait 1, karena itu hanya menyanyikan bait secara biasa sesuai not saja.

Dan latihan-latihan selanjutnya, ditambah satu per satu baik variasi untuk interlude, reff, ending, sampai dengan punch line. Dengan begitu, anggota vocal group pun tidak merasa pusing di awal mereka latihan. Mereka merasa lebih enteng, namun tetap ditambah latihan variasi baru setiap latihannya. Hitungan saya, jika latihan vocal group nya punya waktu 10 kali latihan, maka di latihan ke-8 setidaknya seluruh variasi sudah selesai diajarkan. Sehingga di latihan 9 dan 10 sudah berlatih dengan keseluruhan variasi. 

3. Jangan terlalu perfect di awal 
Aku sering mengalami dan melihat banyak latihan vocal group melatih not-not di awal latihan sampai benar-benar tepat. Tak jarang hal itu bisa menghabisikan waktu sampai 3-4 kali latihan. Aku sangat tidak setuju dengan hal tersebut.

Di latihan-latihan awal, aku memilih untuk tidak melakukan detail kepada not-not yang ada di lagu tersebut, benar atau salahnya, karena itu biasanya memakan waktu banyak dan tidak perlu dilakukan di latihan pertama. Masih banyak hari latihan yang lain dimana hal tersebut akan bisa dikoreksi secara bertahap oleh peserta sendiri.

Contohnya, bagian reff lagu yang kami bawakan, baru dikoreksi notnya saat latihan ke-5, bahkan itu oleh anggota vocal groupnya sendiri. Dan itu bisa dengan lebih cepat dikoreksi dan diajarkan, karena anggota sudah mengenal lagunya.

4. Variasi yang cocok
Variasi memang bisa banyak sekali dibuat. Pasti banyak orang juga yang punya ide variasi lagu yang bagus. Bahkan kita bisa meniru juga dari variasi lagu orang lain, lagu sekuler, lagu india, atau lagu vocal group yang sudah pernah ada.

Namun, kenyataannya tidak semua variasi lagu yang bagus cocok dengan lagu yang akan kita bawakan. Aku punya pegangan, variasi yang cocok lah yang dicari supaya keseluruhan lagu yang kita nyanyikan klop, pas, harmonis, dan tidak bosan didengar.

Di lagu yang kami bawakan, lagunya sebenarnya punya tempo agak lambat. Aku memilih tempo yang lebih cepat dan ceria untuk variasi aransemen.
Sementara itu di awal bait, lagu tersebut harus dinyanyikan tepat dengan tempo dan notnya. Tidak boleh ada variasi. Barulah di bait berikutnya boleh ada variasi aransemen.

Akhirnya yang terpikir variasinya interlude harus bisa menyatukan tempo yang lambat ke yang cepat. Sebisa mungkin tidak terlihat terputus atau kalaupun terpaksa harus terputus masih ada hentakan yang bisa dirasakan merupakan kesatuan lagu.

5. Dinamika
Melatih dinamika ini penting, aku latih di akhir-akhir latihan. Karena saat itu seluruh aransemen sudah dilatih dan lagu juga sudah mulai hapal. Bencana namanya jika melatih dinamika di awal, karena akan percuma dan tertimpa dengan melatih aransemen.

Dinamika menjadi demikian penting, karena hal itu yang akan membawa perasaan, menghanyutkan pendengar ke dalam lagu yang enak di dengar.

6. Punch line 
Aku selalu menyiapkan punch line sebagai akhir dari sebuah lagu. Biasanya terlalu banyak aransemen variasi bisa membuat lagunya out of context, jadi bingung lagunya sudah lari kemana-mana, sehingga bisa jadi tema lagunya sendiri sudah lupa dan tidak jelas. Untuk itu lah harus ada punch line. Punch line buat aku wajib ada sebagai pengembalian lagu kepada tema utamanya. Punch line aku bedakan dengan ending. Jika ending dinyanyikan dengan variasi "Du di du dam", maka punch line sebisa mungkin dinyanyikan dengan kata-kata atau kalimat yang jelas menggambarkan judul atau tema lagu yang bisa diingat oleh yang mendengar. Ingat, ini vocal group gereja, jadi bukan hanya supaya enak di dengar, tapi yang mendengar seharusnya bisa mengingat frase lagu yang bisa jadi jingle buat dia ulang-ulang.

Untuk itu, di lagu ini aku ambil frase kata "Kam o Yesus...kam o Yesus, terang geluhku...terang geluhku", which is judul lagunya. Hal ini diharapkan bisa membawa penegasan lagu buat yang mendengarkan atau juri.

Akhir kata, aku selalu menegaskan kepada teman-teman anggota vokal group, bahwa kita sedang berlatih untuk memuji Tuhan, bukan untuk mendapatkan juara. Biarlah semuanya bisa membawa kemuliaan buat Tuhan Yesus. Selamat memuji Tuhan.


You May Also Like

0 comment