Kelahiran Arshi dan perjuangannya di NICU

by - August 10, 2018


Tanggal 1 Agustus 2018 jam 10.35, lahir putri cantik kami Arshify Keyannakov Kembaren di RS PMI Bogor dengan berat 3.5kg dan panjang 45cm. Dilahirkan dengan operasi. Ibu dalam kondisi sehat, sedangkan Arshi harus dirawat di NICU (neo natal intensive care unit). Adanya kemungkinan infeksi di paru-paru membuat perlunya perawatan intensif. 

Hari ke-1 tgl 1. Keputusan yg membingungkan awalnya, saat dia dilahirkan, di ruang pemulihan aku menemani mamanya, dan diinfo bahwa nangis Arshi kurang kenceng dan badannya agak biru, sehingga perlu observasi di ruang nicu. Terpaksa aku meninggalkan istriku di ruang pemulihan, dan bergegas bersama Arshi ke ruang nicu. Di luar semua keluarga yang menunggunya dengan gembira pun berubah sekejap menjadi kekhawatiran.

Di ruang nicu level 2, Arshi diberi oksigen agar saturasi nya bisa segera normal. Namun setelah beberapa waktu harus naik level 3 ke ruang CPAP (continuous positive airway pressure), dengan kadar oksigen 35 namun saturasi masih 60-70. Dokter anak pun kami ganti ke dr. Yus. Segera setelah visit dokter, oksigen dinaikkan ke 50 agar saturasi stabil di angka 90. Di jam 21 aku ke nicu sudah diturunkan menjadi 47. Dokter Yus baik sekali hari ini visit sampai 3x. Sudah terbayang hari-hari ke depan yang akan dilalui dengan angka-angka...

Hari ke-2 tgl 2. Aku diteguhkan dengan arti nama Arshi yaitu Arise, Shine (yesaya 60:1). Dia pasti akan bangkit dan bersinar. Oksigen sudah diturunkan menjadi 45 dengan saturasi yang terus dimonitor masih 90-100. Malam hari aku ke ruang nicu dengan Fhea dapat kabar baik lagi bahwa saturasi diturunkan menjadi 40. Fhea tidak suka dan gelisah di ruang nicu karena banyak selang, alat, dan bunyi monitor heart rate. Aku mulai berhitung, jika 1 hari diturunkan 10 angka, untuk mencapai angka 21 (oksigen bebas) maka butuh 3 hari. Hari ini istriku mulai memaksakan belajar duduk dan belajar ke kamar mandi sendiri. Katanya supaya tidak merepotkan membangunkan aku saat tidur. 

Hari ke-3 tgl 3. Istriku memaksakan diri naik kursi roda untuk bertemu Arshi. Oksigen sudah diturunkan menjadi 35. Kondisi saturasi stabil di atas 90. Sore hari dokter kandungan visit. Istriku minta pulang, karena menginap di rumah sakit tanpa bayi disampingnya rasanya lebih baik di rumah. Aku beli breast pump spectra 9+ via toped lgsg antar hari itu jg karena info dr suster di ruang nicu bahwa asi hrs sdh mulai disiapkan besok. Jam 4 sore kami pulang ke rumah dengan sebelumnya menengok Arshi dulu ke ruang nicu. Arshi demam. Suhu badan 39. Dilakukan cek darah. Akan diberi obat bicnat untuk mengobati asidosis yang terlihat dari hasil cek darah. Malam harinya aku dan istri khawatir. Kami berdua berdoa sambil menangis memohon keajaiban Tuhan.

Hari ke-4 tgl 4. Istriku sudah mulai stok asi dan kirim ke ruang nicu. Namun Arshi blm bisa minum karena masih puasa, hanya lewat infus dahulu makanannya. Saat kami ke nicu, suhu sudah turun ke 37.3. Cpap oksigen dinaikkan jadi 40 karena saturasi turun dan demam juga. Tangan Arshi agak terbakar karena bicnat atau infus aku tidak jelas. Ketemu dgn dokter Yus di nicu. Dia akan lakukan cek darah ulang dan agd untuk mengetahui hasilnya apakah asidosis sudah membaik. Sesaknya sih sudah berkurang. Tapi dia juga berujar bahwa sebelum keluar hasil lab, dia akan langsung intervensi dengan antibiotik agar tidak perlu menunggu terlalu lama. Karena menurut dokter kemungkinan pnemonia atau ada infeksi di paru-paru dan antibiotik bisa membantu menyembuhkannya. Harus dipersiapkan juga worst case bahwa jika antibiotik tidak berhasil harus menggunakan ventilator. Keputusan itu dilakukan setelah melihat hasil cek darah. Terdengar kurang baik dan aku kurang bisa menerima kenyataan. Istriku berjuang untuk stok asi sebanyak-banyaknya karna infonya bahwa Arshi per hari ini sudah diselingi dengan minum asi. Jam 5 sore kami menerima hasil cek lab dari nicu bahwa hasilnya membaik dari cek lab sebelumnya. Nangisnya sudah mulai kencang. Konsul abang tua dgn dokter SpA temannya bahwa prognosisnya "bonam" yg artinya baik. Dr yus pun balas wa bahwa asidosisnya sudah membaik. Dari hasil cek lab memperkuat adanya infeksi di paru. Rencana asi akan dinaikkan dosisnya. Ini semua karena berkat Tuhan, mari kita memohon ampun dan minta pertolongan kepada Tuhan, demikian dr Yus menulis. 

Hari ke-5 tgl 5. Ke rumah sakit untuk stok asi dan menengok Arshi. Asi juga sudah mulai diberikan lewat selang ke dalam mulutnya. Oksigen cpap 38. Saturasi stabil. Kondisi agak kuning, jadi dilasih blue light juga. Matanya ditutup perban. Badannya sudah merah. Antibiotik sudah masuk hari ke-2. Nangis sudah kencang. 

Hari ke-6 tgl 6. Aku sudah mulai ngantor. Istriku naik grab ke nicu untuk bertemu Arshi, berdoa di ruang nicu, dan stok asi. Cpap oksigen 35. Saturasi 99. Antibiotik hari ke-3. Asi dinaikkan 5 ml. Klinis perbaikan, sesak minimal. Respon minum asi baik, akan dinaikkan 8 x 7.5-10 ml. Sore hari cpap oksigen diturunkan jadi 30. Saturasi 100. Malam jam 22 diturunkan lagi jadi 25. Puji Tuhan. 

Hari ke-7 tgl 7. Cpap oksigen 21. Saturasi 100. Kondisi stabil. Haleluya. Peep masih 7, harus diangka 5. Akan diturunkan pelan-pelan. Antibiotik hari ke-4. Asi 8x10 ml. 

Hari ke-8 tgl 8. Tuhan yang baik dan maha kasih. Alat cpap sudah bisa dilepas karena stabil saat peep sudah diangka 5. Istriku diperbolehkan menggendongnya untuk pertama kalinya (mengharukan). Arshi langsung pintar minum asi langsung. Semoga kondisi anak kami Arshi semakin sehat dan dapat segera pulang ke rumah mungkin besok atau lusa. Terima kasih Tuhan. 

Hari ke-9 tgl 9. Jam 09 istriku menengok Arshi di nicu. Kondisinya stabil dan baik. Sudah pintar minum asi, setelah itu langsung tidur lelap. Dokter bilang besok pagi akan di cek darah lagi dulu, jika hasil ok baru boleh pulang. 

Hari ke-10 tgl 10. Pagi-pagi istriku sudah sampai di rumah sakit dan gendong Arshi sambil menyusui. Kondisinya sudah sehat sekali. Cek lab pagi-pagi, diminta menunggu sampai siang hasilnya keluar. Puji Tuhan akhirnya setelah konsul ke dokter perihal hasil labnya, Arshi diperbolehkan pulang ke rumah. 

Arise and shine, my daughter. 

Welcome home, dear.






You May Also Like

0 comment