Rapat Keluarga: Attention!

by - April 03, 2018

Saat libur panjang paskah kemarin, aku minta anak-anak menyusun jadwal kegiatan liburan kita yang akan dilakukan di rumah. Kita tidak jalan-jalan, karena sedang berhemat pengeluaran untuk menabung uang muka nusa indah.

Aku berikan beberapa point-point yang perlu ada di jadwal kegiatan, salah satunya adalah rapat keluarga. Walaupun mereka bertanya-tanya, barang apakah rapat keluarga ini, tapi tetap dimasukkan ke dalam jadwal. Fhea dan Reigo sempat galau, karena jadwal yang sudah disusun mendadak harus banyak perubahan karena malam harinya diajak menginap di rumah Laki Ribunya.

Fhea awalnya menolak menginap dengan alasan harus menepati jadwal. Tapi aku bicara pelan-pelan ke dia, bahwa perlu juga dipikirkan menginap bareng itu seru juga. Dia bertanya lebih lanjut, lantas jadwalnya berarti dilanggar dong? Aku bilang, tidak dilanggar, tapi mungkin dimundurkan saja jadwalnya, kan malam harinya masih banyak waktu kosong. Dia berpikir sejenak, dan bolak-balik berdiskusi yang menyatakan bahwa dia tetap tidak setuju. Namun akhirnya dia sudah bisa kompromi dan memutuskan untuk menginap, dengan syarat bahwa jadwal rapat keluarga dipindah jadi malam. She's a very strict girl! But i'm glad she's able to compromise with light obstacles.

Malam harinya kita makan malam bersama di meja makan. Aku bilang, kita mulai rapat keluarganya sekalian dengan makan malam, meniru Tuhan Yesus yang mendiskusikan masalah di tempat makan.
Aku mulai dengan bilang bahwa ada satu hal yang penting yang mulai berkurang di dalam rumah kita, di dalam keluarga kita. Aku tanya satu persatu ke masing-masing, apakah satu hal penting itu.

Fhea bilang yang berkurang adalah kebersamaan, karena dia pikir tadinya setelah papa beres disertasi akan lebih banyak waktu bersama, makan malam bersama. Tapi ternyata papa jadi dosen, dan pulangnya pun lebih malam. Hal kedua yang menurut dia berkurang adalah uang, karena kita sedang menabung buat beli rumah di nusa indah.

Giliran Reigo yang berbicara. Dia berkata bahwa yang berkurang adalah keberanian. Keberanian untuk ke ruangan atas, keberanian saat gelap, keberanian saat ke kamar mandi sendiri.

Kalau Mamahnya bilang bahwa yang kurang adalah kasih sayang. Banyak momen anak-anak marah-marah ke orang tua, atau sebaliknya. Padahal bisa dibicarakan dengan baik-baik.

Kemudian aku menyimpulkan. Satu hal penting yang kurang di dalam keluarga adalah ATTENTION alias PERHATIAN.

Apa artinya perhatian?

Artinya mulai dari bangun pagi, kita perhatian tempat tidur dirapihkan walau tidak disuruh. Saat ke kamar mandi, ada bekas odol di wastafel dibersihkan.

Saat ke mobil, merapihkan sisa makanan, sampai di rumah menaruh sepatu di tempatnya dan merapihkan sepatu yang berantakan di rak sepatu, sambil lewat ke ruang tamu mengambil kertas yang berantakan di lantai.

Perhatian juga berarti memperhatikan saat dipanggil namanya dengan langsung menyahut tanpa perlu dipanggil berkali-kali, juga mendengarkan benar-benar saat sedang berbicara dan berdiskusi.

Perhatian juga menutup dahulu gadget saat sedang diajak mengobrol atau diminta melakukan sesuatu yang lebih penting.

Akhirnya, aku minta Fhea dan Reigo menjelaskan komitmen mereka untuk meningkatkan perhatian di keluarga. Mereka berbicara begitu banyak komitmen baru mereka, baik itu mengenai mandi tanpa disuruh, mengerjakan pr tanpa disuruh, merapihkan jadwal dan baju tanpa disuruh, dan begitu banyak hal lainnya. Mereka terlihat semangat.

Esok harinya, yang terjadi luar biasa. Mereka yang sudah tidur di kamar masing-masing, tanpa perlu disuruh sudah bangun pagi, bahkan bangun jam 3 pagi. Ke kamar mandi tanpa harus memanggil mamahnya menemani, dan langsung mandi jam 5 pagi, berpakaian seragam, dan siap pergi ke sekolah jam 5.30.

Ternyata rapat keluarga ini efeknya sangat besar. Wajib diadakan disetiap keluarga, untuk mulai membiasakan diri membicarakan hal-hal yang kecil untuk diselesaikan sebelum hal tersebut menjadi besar dan menjadi masalah.

You May Also Like

0 comment