Skip to main content

Hadiah Raport

Hari minggu kemarin, anak-anak sekolah baik tk, sd, dan s3 dapat hadiah dari orang tua. Hari yang gembira buat cucu dan anak karena bisa nambah-nambah uang "SPP" yg kebetulan mendekati deadline hehe.
Sedikit cerita, orang tua saya sedari dulu selagi saya kecil selalu memperhatikan detil hasil raport dan memberi komentar positif dan pendapat untuk pengembangan selanjutnya. Momentnya pun dibuat khusus, tidak asal lewat. Semua dinilai bersamaan ketika pembagian raport sudah selesai. Kadang kami harus menunggu abang atau adik yang berbeda beberapa hari pembagian raportnya, sehingga bisa sama-sama menghitung hadiah raport. Kami akan duduk berjejer dan menyerahkan raport kami masing-masing ke orang tua. Di suasana yang santai itu, biasanya komentarnya akan diawali dengan kalimat "Wah hebat...!", "Wow keren...!", atau "Luar biasa...!!!", sambil menepuk-nepuk pundak dan tersenyum dari orang tua kami saat melihat nilai raport kami satu per satu. Setiap mata pelajaran akan di bahas satu per satu dan diberikan komentar satu per satu. 

Tapi jangan berpikir bahwa orang tua saya adalah orang tua yang detil di prosesnya. Justru tidak. Untuk proses belajar di sekolah, orang tua saya cenderung melihat dari jauh, tidak terlibat secara intens. Jarang bahkan hampir tidak pernah saya dicek satu persatu pekerjaan rumah ataupun jadwal ujian dan dimarahi karena belum menyelesaikan ini itu. Tapi justru hal ini yang membuat saya/ kami menjadi lebih bertanggung jawab terhadap sekolah kami beserta tugas-tugasnya. Tentunya hal ini jauh berbeda dengan orang tua jaman ini (saya pun orang tua jaman ini)  yang punya group WA per kelas anak,  yang tak jarang meminta orang tua lain untuk mengirimkan tugas apa yang harus dikerjakan anaknya untuk besok. Sehingga orang tua jaman sekarang was-was kalau-kalau anaknya belum mengerjakan PR ataupun mempersiapkan ujian. Jangan-jangan gara-gara orang tua terlalu terlibat, si anak menjadi enggan untuk bertanggung jawab? 

Back to the story, kemudian bapak dan mamah selalu membuat standard nilai dan merupiahkannya sebagai hadiah tambahan uang jajan. Dulu nilai 7 dapat 1.000, 8 dapat 2.000, dan 9 dapat 5.000. Karena kami di keluarga 3 bersaudara, kami tak jarang berlomba untuk menjadi yang paling banyak mendapat nilai 8 atau 9 dengan begitu memperoleh tambahan uang jajan. Uang jajannya pun bebas kami belanjakan, tanpa ada aturan tambahan. Walau yang dinilai hanyalah nilai raport, tapi saya belajar bahwa nilai raport merupakan hasil dari sebuah proses yang panjang dalam catur wulan atau semester. Sehingga di akhir acara pembagian hadiah raport, saya dan abang adik saya diminta membuat komitmen sendiri, apa yang hendak dilakukan untuk semester berikutnya. Ini bukan komitmen orang tua yang diminta diikuti dan diucapkan oleh anaknya, tapi benar-benar kami anak-anaknya diminta mengarang dan mengatakannya sendiri. Bertanggung jawab terhadap ucapan sendiri membuahkan tanggung jawab yang besar, walaupun dulu kami semua masih anak-anak. 

Tapi point utama yg kami anak-anaknya dapat bukan soal penting uangnya, tapi bagaimana orang tua begitu memperhatikan detil nilai dan prestasi, serta pentingnya ilmu dan sekolah. Uang hanyalah reward, bukan tujuan utama hidup ini.

Terima kasih buat hadiah raportnya, Bapak Mamah. Hadiah yang dinilai bukan dari jumlahnya tapi dari maknanya. 

Comments

Popular posts from this blog

Mesin Cuci Baru Samsung Bikin Listrik nge-Jepret

Beberapa waktu yang lalu saya beli mesin cuci baru di Hartono Elektronik. Merk Samsung, Front Loading, seri: WW85H5400EW.
Saat barang sampai, saya langsung coba pasang sendiri. Karena begitu lihat instruksinya sederhana, hanya melepas 4 baut yang mengunci saja, dan sudah langsung bisa digunakan. 
Masalahnya adalah: Listrik saya dayanya 1300 watt. Saat saya coba mencuci pakaian, saya nyalakan dan pilih mode mencucinya, berjalan lancar. Saya langsung pencet START. Mesin cuci pun mulai mengisi air dari air pam di rumah saya. Saat selesai mengisi air, listrik rumah langsung "nge-jepret". Saya naikkin lagi mcb-nya, dan mesin cuci start lagi. Jepret lagi. Sampai beberapa kali saya naikkin, baru mesin cuci bisa berjalan lancar. 
Keanehan ini pun saya analisa dan ujicoba: Pompa air: saya akhirnya pakai jalur air yang tidak menggunakan pompa air (langsung dari pam), untuk mengurangi konsumsi listrik. Tapi listrik tetap turun. AC: saya matikan ac dan lampu untuk mengurangi konsumsi list…

Pilih kulkas SHARP!

Minggu kemarin kami membeli kulkas baru. Prosesnya agak sedikit lucu, karena sebelumnya kita pergi ke electronic city di Botani Square untuk melihat-lihat saja. Setelah hampir 1 jam ngobrol2 dengan salesnya kita memutuskan beberapa merk dan tipenya yang menjadi pilihan. Ada 2 merk yang kita pilih, yaitu Samsung dan LG. Tipenya kurang lebih 400-450 liter.
Tapi entah kenapa saat itu kita lupa membawa kartu atm bni untuk melakukan debit pembayaran. Sementara bonus dari kantorpun belum turun, jadi dana di kartu atm mandiri masih kosong. Terpaksalah kita pulang dengan tangan hampa, terlebih barangpun memang indent kalau kita jadi pembelian. Kita sangat tertarik dengan diskon yang hampir 30% diadakan di toko itu, dan terakhir katanya hari itu pula.

Setelah pulang, kita sepakat jalan-jalan ke BellaNova, sekalian cari perbandingan kulkas yang lain disana. Kalau misalnya memang tidak ada yang cocok, kita akan balik lagi ke electronic city untuk menjadikan pembeliannya. Sampai disana benar sa…

Ucapan Syukur Rumah sudah selesai renovasi

Dan 1 hari setelah acara ucapan syukur Mamah jadi Prof di bale binarum, dilanjut dengan ucapan syukur rumah kami yang sudah selesai di renovasi.
Kebetulan keluarga masih banyak yang belum pulang, jadi bisa ikut hadir di acara ini.







Terima kasih kepada Bapak dan Mamah yang sudah luar biasa support untuk terselesaikannya rumah ini. Terutama Bapak yang sudah menjadi kontraktor karena setiap hari harus bolak balik ke cimahpar untuk menengok progres rumah, membeli bahan apa yang kurang, membayar gaji tukang.

Bukan pekerjaan yang mudah untuk melakukan hal itu setiap hari selama 7 bulan. Apalagi menghadapi anak seperti aku yang "banyak maunya" dan sedikit-sedikit komplain, tapi untuk itu semua Bapak tidak pernah marah atau bersitegang denganku. Semua permintaanku diiyakan atau diminta dipikirkan lagi. Bahkan untuk hal-hal yang tidak aku pikirkan tapi ternyata sangat essensial, justru Bapak mendorong untuk direalisasikan. Terima kasih Bapak, semangatmu untuk menyenangkan anak akan sel…