Skip to main content

Kutambelin Trip 2014

Sayang rasanya kalau kisah ini tidak diceritakan. Sebuah perjalanan yang punya sejarah tersendiri dalam hidup ini.

Kami sekeluarga; istri beserta anak-anak, pulang kampung ke tanah kelahiran orang tuaku, namanya KUTAMBELIN. Di google maps mungkin lokasi ini tidak ada, karena memang lokasinya yang cukup jauh dari peradaban dan di daerah gunung.


Berangkat ke Medan. 
Kita semua berangkat ke medan dulu, menemui Mama dan Mami (mertua). Mama dan Mami menyambut kami dengan gembira, terlebih bertemu dengan cucunya. Selagi di sana, kita memang sekalian menghadiri beberapa acara, termasuk acara baptisan keponakan, rumah baru silih yang baru menikah, dan bertemu keluarga-keluarga lainnya.

Acara inti dalam rangka Natal dan Tahun baru pun cukup banyak. Susunan acara per tanggal sudah diatur supaya kami bisa ikut dalam banyak kegiatan. Keluarga Barus dan Anak berunya sudah siap untuk jalan-jalan!

Trip yang direncanakan adalah menuju Tangkahen; daerah konservasi gajah yang cukup jauh di daerah bahorok), dan Pasir putih yang ada di samosir. Wow, ini baru pertama kali kami ke sana, pasti akan seru.


Siantar
Perjalanan pertama dari medan kami menuju Siantar. Di sana ada rumah Mama Tua (abang dari Bulang Fhea) dan juga Bapak (adik dari Bulan Fhea) yang rumah nya berdekatan. Udara di siantar ternyata masih sejuk. Enak sekali tinggal di sana. Setelah berkunjung ke rumah saudara-saudara, kami menginap disitu. Besoknya kami bersiap menuju Pasir Putih, Samosir.

Pasir Putih
Keesokan harinya, kami bersiap menuju pasir putih yang lokasinya di Samosir. Kita harus ngantri menyebrang naik kapal Ferry. Setelah sampai di sana, langsung menuju lokasi pasir putih. Yang istimewa dari pantai ini adalah karena pantainya cukup lebar, jadi kita sudah di tengah pun, tinggi airnya masih se dada, jadi seru sekali. Di pasir putih ini kita naik banana boat, anak-anak bermain pasir dan air sepuasnya.
Disini juga kita merayakan ulang tahun Reigo yang ke-4. Seru sekali dirayakan bersama dengan kalimbubu semua.
Aku juga sebagai anak beru bertugas membawakan sebuah acara perminan dan perenungan bertepatan dengan acara tutup tahun baru. Aku buat acara games loncat-loncat, tiup plastik. Untuk perenungan, aku buat positif thinking untuk ditulis di dalam kertas setiap orang. Syukurlah mereka tampak semua senang dan gembira. Dan tahun 2015 pun di buka di Pasir Putih.

Tangkahen
Lokasinya cukup jauh. Dari siantar, kami menuju ke arah Bahorok. Di sini Mama (Mertua) yang menyetir, katanya nanti saja pulangnya aku yang menyetir. Di perjalanan aku nyalakan Google Maps untuk tahu berapa lama sampainya. Lokasinya mengarah melewati perkebunan sawit juga. Sesampainya di sana suasananya sangat tenang, dan dipinggir sungai. Namun siang agak ribut karena banyak suara gergaji mesin sedang memotong batang pohon (penebangan liar?).
Tangkahen sendiri adalah lokasi konservasi gajah, jadi memang yang istimewa disini adalah gajahnya.
Anak-anak senang bermain di pinggir sungai, bahkan sampai mandi. Kita juga ikut dalam waktu memandikan gajah dan memberi makan gajah. Aku sendiri mencoba mandi di sungai dengan berendam. Airnya dingin sekali, kulitku yang memang tidak terlalu tahan dingin langsung alergi walau saat dihangatkan langsung normal lagi. Makan malam kami juga enak, diiringi dengan suara nyanyian dan gitar dari tourist guide yang sedang menghibur turis dari Korea, Jepang, dan New Zealand. Unik sekali pengalaman di tangkahen ini.

Kabanjahe
Pulang dari Tangkahen, kami mampir di Kabanjahe. Disana kami menginap di rumah Mami (istri dari Adek Mami) di jalan kalihara. Mama itu sudah meninggal, persis 2 hari saat kami mau pasu-pasu / pemberkatan pernikahan. Jadi setiap ke situ, pasti ingat Mama Uda itu dan masa-masa pernikahan kami. Pagi-paginya kami ziarah ke makam Mama Uda sambil berdoa bersama-sama.

Kutambelin
Perjalanan terakhir adalah Kutambelin. Ini perjalanan terjauh dan terseru dalam trip kali ini. Berangkatnya Bulang Fhea tetap mau menyetir, dengan alasan karena aku tidak tahu jalan. Bener juga sih. Sekali kami terhadang lahar dingin yang memang masih sering terjadi karena gunung Sinabung masih dalam proses meletus. Persis saat mobil kami akan melintaas, diteriakin oleh penduduk sekitar, dan persis di depan kami braaasssss meluncur lahar dingin dengan deras. Kalau saja kami memaksakan diri mungkin sudah terbawa hanyut. Puji Tuhan.
Akhirnya kami harus memutar arah dan mencari jalur alternatif. Disini Google Maps memang tidak ada duanya, disaat Bulang Fhea agak kebingungan karena salah jalan alternatif akibat mengikuti mobil orang yang asumsi kami mengarah ke kutambelin juga (wakakaka), walau memang Kutambelin-nya sendiri tidak ada di peta, tapi di google maps terlihat ada jalur lintas kabanjahe. Kita mengarah ke jalan besar tersebut, dan benar. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke kutambelin. Perjalanan cukup melewati jalan terjal, Fhea Reigo yang duduk di belakang bersama Bibinya sampai bermain jungkir balik sanking terjalnya jalan yang dilewati.
Malam hari kami sampai di Kutambelin, disambut oleh keluarga dengan sukacita. Disitu kami mengunjungi Mamak Tengah, Bibi Tengah, Kila, dan Pak Uda / Pak Cik. Bertemu keluarga disana sungguh bersyukur, karena walau bagaimanapun ini lah kampung Bapak saya, kampung Laki-nya Fhea Reigo.

Aku bilang ke Fhea dan Reigo, lihat betapa jauhnya Kutambelin dari kota, bahkan dari Bogor. Tapi perjuangan Laki untuk pergi sekolah, kuliah untuk bisa maju yang membuat kita semua bisa tinggal di bogor. Kalian harus bersyukur bisa hidup di kota bogor sekarang, sekolah di tempat yang sekarang, dan harus rajin belajar. Perjalanan yang jauh ini adalah perjalanan mengingat perjuangan orang tua kita yang luar biasa hebatnya untuk sekolah dan untuk tetap maju. Ini yang harus kita ingat dan teladani.

Walau mereka belum terlalu mengerti, tapi setidaknya saat ditanya oleh orang lain kampungnya dari mana, mereka sudah bisa bilang dengan pasti Kutambelin, dan mereka sudah pernah ke sana.

Pulang dari Kutambelin, mobil tidak bisa naik tanjakan karena licin sekali jalan tanahnya. Untungnya feeling so goodnya Kila yang memang hendak berangkat ke ladang juga berbarengan dengan berangkatnya kami. Seolah memang sudah punya firasat, mobil akhirnya membantu mobil kami naik ke tanjakan. Ada kurang lebih 5 kali percobaan, yang mengakibatkan tali tambang terputus. Untungnya tidak ada kecelakaan. Fhea dan Mami harus turun ke bawah juga. Untung ada pekerja dari Pinus yang lewat dengan membawa motor. Akhirnya Kila minta dia pergi ke kampung dan membawa tali tambang yang besar. Dan Puji Tuhan berhasil.
Saat sudah berhasil, muncul masalah baru, ban terdengar suara kempes. Tadinya mau didongkrak disitu, tapi Bulang Fhea bilang nanti saja di Tiga Nderket di bengkel ban, sepertinya masih kuat.

Di tanjakan berikutnya mobil pun kembali tidak kuat. Memang mobilnya Pajero Sport, tapi tidak double gardan. Jadi harus dibantu di dorong. Mami yang membantu dorong terpaksa harus bermandi lumpur karena ban berputar kencang untuk menanjak. Kami membersihkan badan di pancuran dekat situ.

Sampai di tiga, ban kempes pun ditambal. Aman. Perjalanan yang luar biasa!



Comments

Popular posts from this blog

Mesin Cuci Baru Samsung Bikin Listrik nge-Jepret

Beberapa waktu yang lalu saya beli mesin cuci baru di Hartono Elektronik. Merk Samsung, Front Loading, seri: WW85H5400EW.
Saat barang sampai, saya langsung coba pasang sendiri. Karena begitu lihat instruksinya sederhana, hanya melepas 4 baut yang mengunci saja, dan sudah langsung bisa digunakan. 
Masalahnya adalah: Listrik saya dayanya 1300 watt. Saat saya coba mencuci pakaian, saya nyalakan dan pilih mode mencucinya, berjalan lancar. Saya langsung pencet START. Mesin cuci pun mulai mengisi air dari air pam di rumah saya. Saat selesai mengisi air, listrik rumah langsung "nge-jepret". Saya naikkin lagi mcb-nya, dan mesin cuci start lagi. Jepret lagi. Sampai beberapa kali saya naikkin, baru mesin cuci bisa berjalan lancar. 
Keanehan ini pun saya analisa dan ujicoba: Pompa air: saya akhirnya pakai jalur air yang tidak menggunakan pompa air (langsung dari pam), untuk mengurangi konsumsi listrik. Tapi listrik tetap turun. AC: saya matikan ac dan lampu untuk mengurangi konsumsi list…

Pilih kulkas SHARP!

Minggu kemarin kami membeli kulkas baru. Prosesnya agak sedikit lucu, karena sebelumnya kita pergi ke electronic city di Botani Square untuk melihat-lihat saja. Setelah hampir 1 jam ngobrol2 dengan salesnya kita memutuskan beberapa merk dan tipenya yang menjadi pilihan. Ada 2 merk yang kita pilih, yaitu Samsung dan LG. Tipenya kurang lebih 400-450 liter.
Tapi entah kenapa saat itu kita lupa membawa kartu atm bni untuk melakukan debit pembayaran. Sementara bonus dari kantorpun belum turun, jadi dana di kartu atm mandiri masih kosong. Terpaksalah kita pulang dengan tangan hampa, terlebih barangpun memang indent kalau kita jadi pembelian. Kita sangat tertarik dengan diskon yang hampir 30% diadakan di toko itu, dan terakhir katanya hari itu pula.

Setelah pulang, kita sepakat jalan-jalan ke BellaNova, sekalian cari perbandingan kulkas yang lain disana. Kalau misalnya memang tidak ada yang cocok, kita akan balik lagi ke electronic city untuk menjadikan pembeliannya. Sampai disana benar sa…

Ucapan Syukur Rumah sudah selesai renovasi

Dan 1 hari setelah acara ucapan syukur Mamah jadi Prof di bale binarum, dilanjut dengan ucapan syukur rumah kami yang sudah selesai di renovasi.
Kebetulan keluarga masih banyak yang belum pulang, jadi bisa ikut hadir di acara ini.







Terima kasih kepada Bapak dan Mamah yang sudah luar biasa support untuk terselesaikannya rumah ini. Terutama Bapak yang sudah menjadi kontraktor karena setiap hari harus bolak balik ke cimahpar untuk menengok progres rumah, membeli bahan apa yang kurang, membayar gaji tukang.

Bukan pekerjaan yang mudah untuk melakukan hal itu setiap hari selama 7 bulan. Apalagi menghadapi anak seperti aku yang "banyak maunya" dan sedikit-sedikit komplain, tapi untuk itu semua Bapak tidak pernah marah atau bersitegang denganku. Semua permintaanku diiyakan atau diminta dipikirkan lagi. Bahkan untuk hal-hal yang tidak aku pikirkan tapi ternyata sangat essensial, justru Bapak mendorong untuk direalisasikan. Terima kasih Bapak, semangatmu untuk menyenangkan anak akan sel…