Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2014

Teman dan Uang

Awalnya setiap manusia tidak tahu Bagaimana caranya untuk tetap hidup Kemudian mereka berburu untuk makan Akhirnya mereka bisa hidup Kemudian manusia bertambah pintar Menciptakan jaman semakin maju Makan tetap diperlukan Pertukaran barang dengan makanan dilakukan Jadi manusia memerlukan teman Teman supaya bisa bertukar Supaya bisa makan Supaya bisa tetap hidup Ditemukanlah alat tukar yang lebih baik Uang menjadi alat tukar yang lebih praktis Manusia menggunakannya dengan baik Uang kemudian menjadi barometer Semakin banyak uang Semakin banyak yang bisa dibeli Semakin banyak makanan Semakin bisa hidup Semakin bisa hidup? Bukankah makan hanya tiga kali sehari? Bukankah pakaian bisa digunakan lagi? Bukankah anak akan bekerja sendiri nantinya? Bukankah hidup hanya sebatas umur? Tapi teman tidak bisa dibeli Punya banyak uang bisa tidak punya teman Tapi punya uang tidak segalanya Punya banyak teman masih ada yang bisa ditukar Teman dan uang Bisa dibentu

Kecaplah dan Lihatlah, Betapa Baiknya Tuhan...

Di ulang tahun moria ke-57 tahun 2014, kami sekeluarga didaulat oleh Moria untuk mengisi pujian di gereja.  Karena waktunya hanya selang seminggu dari hari nampil, kami mencari-cari waktu untuk latihan bareng anak-anak. Lagu pun dicari yang mudah dan tidak terlalu sulit untuk diikuti.  Akhirnya dipilih lagu lawas "Kecaplah dan Lihatlah" karya Franky Sihombing.  Kalau Fhea sih langsung semangat untuk bernyanyi, terlihat sekali dia langsung hapal dengan liriknya dan nadanya. Beda halnya dengan Reigo yang acuh tak acuh, cuek, dan cenderung menyatakan tidak mau ikut bernyanyi.  Dalam 1 minggu kami berlatih 2 kali di malam hari sebelum tidur. Di hari minggu kami bangun lebih pagi dan bersiap-siap lebih cepat supaya sempat latihan sebelum berangkat gereja.  Memang butuh dari sekedar bakat seni untuk bisa mempersembahkan pujian keluarga di gereja, karena mencari waktu, menumbuhkan semangat bernyanyi anak-anak, mempertahankan mood-nya, sabar kalau mood mereka ingi