Skip to main content

(KEYA-SEDI-SEMA) Cing Sumput Maut!


 


Pagi itu kami anak-anak kecil menikmati liburan sekolah lagi. Setiap liburan, di rumahku pasti saja selalu banyak saudara berdatangan. Mungkin karena orang tuaku memang orang perantauan dari Sumatera ke Jawa yang awal-awal dalam sejarah sehingga banyak orang kampung kami di Sumatera sana yang kenal dengan mereka.

Hari itu di rumah sekitar 5 orang. Ada abangku, adikku, aku, dan 2 orang saudara lainnya yang datang dari tempat jauh. Kami bermain Cing Sumput di dalam rumah. Jenis permainannya adalah satu orang akan menjaga 'hong', dan yang lain akan bersembunyi supaya tidak dapat ditemukan. Permainan akan selesai ketika semua pemain ditemukan oleh yang jaga hong atau pemain berhasil melakukan 'hong' saat penjaga tidak ada disitu. Kata asalnya dari bahasa Sunda yaitu Ucing Sumput, atau bahasa indonesianya Petak Umpet. Di luar negeri sana biasa disebut Hide-and-Seek. Arti dari setiap bahasa kurang lebih sama, tidak jauh beda. Berbeda juga dengan permainan elektronik kecil yang besarnya segenggaman tangan seperti gamewatch. Akhirnya gamewatch ini di"indonesia"kan menjadi gimbot. Anak-anak menyebutkan bermain gimbot, bahkan tukang penyewanya pun menyebutnya demikian. Kami anak-anak ini berpresepsi kalau orang dewasa bahkan yang memiliki barangnya tidak akan mungkin salah dalam menyebutkan nama. Lagipula gimbot memang lebih enak disebutkan, tidak perlu berdesis atau muncrat dalam menyebutkannya.

Giliran saudaraku yang jaga 'hong'. Aku harus bersembunyi sedapat mungkin agar tidak dapat ketemu. Kebetulan di kamar aku dan abangku ada lemari pakaian besar yang bisa dikunci. Aku memberi kode kepada abangku tanpa suara bahwa aku akan masuk ke dalam lemari besar itu dan minta tolong dia agar menguncinya dari luar. Di dalam lemari itu banyak pakaian-pakaian, jadi terpaksa aku harus tekan-tekan agar ruangannya cukup untuk aku masuk ke dalam. Lemari itu tentunya gelap dan sumpek, bau kayu yang cukup menyengat bercampur dengan baju yang terpaksa kuinjak-injak.

"Cklek!". Bunyi kunci dari luar, tandanya abangku berhasil menekan pintu lemari dan mengunciku di dalamnya dari luar.

Aku mulai coba mengatur posisiku di dalam lemari itu. Posisi badanku kucoba putar mengarah ke pintu agar aku bisa lebih siaga kalau-kalau ada yang membuka pintu. Putaran ini kucoba supaya tidak mengeluarkan suara sedikitpun, karena hitungan penjaga hong sudah sampai 10, yang tandanya dia sudah mulai mencari para pemain yang bersembunyi.

Selang 10 detik, aku mulai merasa dimakan oleh gelapnya ruangan lemari itu. Tidak ada cahaya sama sekali. Lama-lama aku merasa badanku menciut dan lemari itu semakin lama semakin besar. Aku takut!
Beberapa detik kemudian, nafasku mulai tersengal, telapak tanganku mulai merapat mengarah ke pintu, aku kehabisan nafas.

Aku mulai sadar bahwa aku harus keluar dari lemari ini. Di sekolah aku pernah belajar bahwa manusia itu menghirup oksigen, dan saat ini di lemari ini aku sudah mulai menghirup karbondioksida hasil pernafasanku sendiri. Gawat!

Pintunya terkunci. Kacau! Aku baru ingat kalau abangku itu pun kusuruh membawa kuncinya supaya apabila si penjaga hongnya curiga dengan ada orang di dalam lemari itu pun, dia tetap tidak bisa membuka dan menemukanku. Akhirnya aku terjerembab terduduk di dalam lemari itu. Di tengah keputus-asaan itu aku melakukan tindakan terakhirku.

"Tolooooooooong!!!". Aku berteriak sejadi-jadinya.

Satu teriakan bergema, tetap tidak ada yang menyahuti. Terdengar suara sayup-sayup si penjaga hong masih mengejar-ngejar pemain yang bersembunyi di tempat lain. Aku sudah mulai lemas. Aku terus berteriak tolong karena aku merasa semakin terhimpit di dalam sempitnya ruangan itu. Kondisi badan sudah mulai lemas mungkin karena udara di dalam lemari semakin sumpek. Sementara di luar masih belum ada tanda-tanda evakuasi, aku mulai menendang-nendang lemari menggunakan kaki sambil duduk terjongkok di dalam.

"Bruk! Bruk! Bruk!". Pintu tidak juga bisa terbuka. Kalaupun demikian aku berharap suaranya bisa di dengar oleh orang di luar sana.

"Cklek!". Akhirnya. Pintu dibuka oleh abangku. Wangi udara segar mulai bisa kuhirup, sinar terlihat menyilaukan. Abangku dengan senyum simpul di bibirnya. Di satu sisi aku bersyukur dia menyelamatkan nyawaku yang sudah di ujung tombak terperangkap di dalam lemari. Di sisi lain aku bertanya-tanya, apakah dia sengaja membuat lama proses evakuasi diriku di dalam lemari itu? Apapun itu, akhirnya aku bisa hidup kembali.



 

Comments

Popular posts from this blog

Mesin Cuci Baru Samsung Bikin Listrik nge-Jepret

Beberapa waktu yang lalu saya beli mesin cuci baru di Hartono Elektronik. Merk Samsung, Front Loading, seri: WW85H5400EW.
Saat barang sampai, saya langsung coba pasang sendiri. Karena begitu lihat instruksinya sederhana, hanya melepas 4 baut yang mengunci saja, dan sudah langsung bisa digunakan. 
Masalahnya adalah: Listrik saya dayanya 1300 watt. Saat saya coba mencuci pakaian, saya nyalakan dan pilih mode mencucinya, berjalan lancar. Saya langsung pencet START. Mesin cuci pun mulai mengisi air dari air pam di rumah saya. Saat selesai mengisi air, listrik rumah langsung "nge-jepret". Saya naikkin lagi mcb-nya, dan mesin cuci start lagi. Jepret lagi. Sampai beberapa kali saya naikkin, baru mesin cuci bisa berjalan lancar. 
Keanehan ini pun saya analisa dan ujicoba: Pompa air: saya akhirnya pakai jalur air yang tidak menggunakan pompa air (langsung dari pam), untuk mengurangi konsumsi listrik. Tapi listrik tetap turun. AC: saya matikan ac dan lampu untuk mengurangi konsumsi list…

Pilih kulkas SHARP!

Minggu kemarin kami membeli kulkas baru. Prosesnya agak sedikit lucu, karena sebelumnya kita pergi ke electronic city di Botani Square untuk melihat-lihat saja. Setelah hampir 1 jam ngobrol2 dengan salesnya kita memutuskan beberapa merk dan tipenya yang menjadi pilihan. Ada 2 merk yang kita pilih, yaitu Samsung dan LG. Tipenya kurang lebih 400-450 liter.
Tapi entah kenapa saat itu kita lupa membawa kartu atm bni untuk melakukan debit pembayaran. Sementara bonus dari kantorpun belum turun, jadi dana di kartu atm mandiri masih kosong. Terpaksalah kita pulang dengan tangan hampa, terlebih barangpun memang indent kalau kita jadi pembelian. Kita sangat tertarik dengan diskon yang hampir 30% diadakan di toko itu, dan terakhir katanya hari itu pula.

Setelah pulang, kita sepakat jalan-jalan ke BellaNova, sekalian cari perbandingan kulkas yang lain disana. Kalau misalnya memang tidak ada yang cocok, kita akan balik lagi ke electronic city untuk menjadikan pembeliannya. Sampai disana benar sa…

Ucapan Syukur Rumah sudah selesai renovasi

Dan 1 hari setelah acara ucapan syukur Mamah jadi Prof di bale binarum, dilanjut dengan ucapan syukur rumah kami yang sudah selesai di renovasi.
Kebetulan keluarga masih banyak yang belum pulang, jadi bisa ikut hadir di acara ini.







Terima kasih kepada Bapak dan Mamah yang sudah luar biasa support untuk terselesaikannya rumah ini. Terutama Bapak yang sudah menjadi kontraktor karena setiap hari harus bolak balik ke cimahpar untuk menengok progres rumah, membeli bahan apa yang kurang, membayar gaji tukang.

Bukan pekerjaan yang mudah untuk melakukan hal itu setiap hari selama 7 bulan. Apalagi menghadapi anak seperti aku yang "banyak maunya" dan sedikit-sedikit komplain, tapi untuk itu semua Bapak tidak pernah marah atau bersitegang denganku. Semua permintaanku diiyakan atau diminta dipikirkan lagi. Bahkan untuk hal-hal yang tidak aku pikirkan tapi ternyata sangat essensial, justru Bapak mendorong untuk direalisasikan. Terima kasih Bapak, semangatmu untuk menyenangkan anak akan sel…