Skip to main content

Proyek Ketaatan : Mijitin Bulang tiap malem

Hari-hari belakangan ini aku disibukkan dengan kegiatan yang cukup unik. Sebuah proyek kecil dan tidak terlihat, karena terjadi di rumah setiap aku pulang kerja. Proyek ketaatan itu berjudul mijitin Bulang tiap malam.
Bulang sekarang tinggal di rumah, bogor. Nenek yang pergi meninggalkan Bulang memaksa keadaan menjadi tidak mudah buat kami semua. Dan Bulang
sendiri yang memutuskan untuk tinggal di bogor, karena kalau tetap tinggal di sei batu gingging pasti akan terasa sekali suasana sedih dan sendiri.
Paulus Keliat, begitu nama Bulangku. Seorang yang bijaksana dan keras. Latar belakang kehidupan pada saat jaman kemerdekaan membentuk karakter yang begitu kental dengan militer di dalam diri Bulang. Namun demikian, belakangan aku melihat sosok ini berubah di mataku, berubah menjadi sosok yang berpikir panjang dan penuh kasih.

Sudah hampir 4 malam berturut-turut aku memijit bulang. Ah, malam ini aku pulang jam 10 dari kantor. Badan sudah penat, dan mata sedikit berkunang-kunang. Yang aku ingin lakukan hanyalah langsung rebahan di tempat tidur dan beristirahat. Sampai di rumah jam 00.00, beruntung Bapak sempat telepon ketika di jalan, dan aku meminta supaya gerbang tidak digembok dahulu. Langkah gontaiku menuju gagang pintu dan membuka kuncinya dengan milikku yang kuambil dari dompet. Pelan sekali aku memasuki rumah. Kulepas sepatu dan kaos kaki. TV masih hidup dan kulihat Bulang masih menonton.
"Bulang belum tidur?", sahutku.
"Belum, tadi sudah tidur tapi kaki Bulang kedinginan. Bulang tarik selimut supaya ga dingin, malah jadi keringetan", kata Bulang dengan suara agak lirih.

Aku bergegas ke dapur, dan meneguk segelas air putih segar. Di dalam otakku berkecamuk pikiran untuk segera ke atas dan tidur. Tapi waktu kulihat Bulang kuingat proyek ketaatanku. "Tapi ini udah jam 00.00 dinihari man! "
"Proyek ketaatan..."
"Gila lu! Nanti-nanti juga bisa kaleeee. It's time for sleep!"
"Look at your granpa...look at his eyes..."

Kuputuskan sudah. Aku segera meletakan gelasku. Dan melangkah dengan agak cepat menuju ke tangga atas.
Sambil lewat aku bilang "Bulang, aku ke atas dulu ya...".
"Eh, Itor...coba tolong dulu Bulang ini. Ga bisa tidur. Mungkin kalau dipijit jadi bisa tidur.", sahut Bulangku dengan nada berharap, sama sekali bukan memerintah.
Aku lantas tertegun. Langkahku terhenti dan aku memutar balik badanku.
"Ya, aku harus memijit Bulang", seru hatiku.
"O iya Bulang", kataku. Masih dengan pakaian kerja, aku duduk disamping Bulang dan mulai memijit dari kaki.
Bulang langsung mengerang keenakan. Sepertinya dia menantikan sekali pijitanku sekali ini.

"Tor, kok pulang malam sekali", kata Bulang sambil menikmati pijitanku.
"Iya Bulang, tadi di kantor ada kerjaan dan harus selesai malam ini". kataku hampir terkantuk-kantuk namun tetap serius memijit.
"Bulang khawatir sekali kalau kam pulang malam seperti ini. Perlu dipikirkan itu. Seandainya gajinya kurang setengah dari sekarang pun kalau bisa pulang lebih awal, tidak mengapa itu", kata Bulang dengan suara pelan. Tapi dalam setiap nadanya ada ketegasan yang tersirat.
"Iya Bulang...", kataku pelan.
"Iya, jangan gaji aja yang besar. Kam harus mulai pikirkan juga kesehatan. Maksimal bekerja itu 10 jam sehari. Kalau kerja kam seperti ini sudah tidak sehat lah", kata Bulang lagi.

Otakku menerawang mengartikan setiap makna kata yang terkandung dalam kalimat yang baru saja aku dengar. Kalau aku melihat hanya 5 atau 10 tahun ke depan, tapi Bulang melihat 20-50 tahun ke depan mungkin. Sungguh aku dibukakan dengan kata-kata sederhana itu. Banyak sekali rahasia yang terkandung di dalamnya, dimana Bulang ingin mengatakan bahwa uang bukan segalanya, uang masih bisa dicari, Tuhan pasti menyediakan. Mungkin juga Bulang ingin mengatakan bahwa aku harus menjadi bijaksana akan hidup ini.

Selesai memijit, dimukaku ada senyum. Ya, aku beruntung memiliki kesempatan ini setiap malam, sebuah proyek yang kecil dan tidak terlihat. Belajar tentang kehidupan, belajar tentang kebijaksanaan...

Love u, granpa!

Comments

Popular posts from this blog

Mesin Cuci Baru Samsung Bikin Listrik nge-Jepret

Beberapa waktu yang lalu saya beli mesin cuci baru di Hartono Elektronik. Merk Samsung, Front Loading, seri: WW85H5400EW.
Saat barang sampai, saya langsung coba pasang sendiri. Karena begitu lihat instruksinya sederhana, hanya melepas 4 baut yang mengunci saja, dan sudah langsung bisa digunakan. 
Masalahnya adalah: Listrik saya dayanya 1300 watt. Saat saya coba mencuci pakaian, saya nyalakan dan pilih mode mencucinya, berjalan lancar. Saya langsung pencet START. Mesin cuci pun mulai mengisi air dari air pam di rumah saya. Saat selesai mengisi air, listrik rumah langsung "nge-jepret". Saya naikkin lagi mcb-nya, dan mesin cuci start lagi. Jepret lagi. Sampai beberapa kali saya naikkin, baru mesin cuci bisa berjalan lancar. 
Keanehan ini pun saya analisa dan ujicoba: Pompa air: saya akhirnya pakai jalur air yang tidak menggunakan pompa air (langsung dari pam), untuk mengurangi konsumsi listrik. Tapi listrik tetap turun. AC: saya matikan ac dan lampu untuk mengurangi konsumsi list…

Pilih kulkas SHARP!

Minggu kemarin kami membeli kulkas baru. Prosesnya agak sedikit lucu, karena sebelumnya kita pergi ke electronic city di Botani Square untuk melihat-lihat saja. Setelah hampir 1 jam ngobrol2 dengan salesnya kita memutuskan beberapa merk dan tipenya yang menjadi pilihan. Ada 2 merk yang kita pilih, yaitu Samsung dan LG. Tipenya kurang lebih 400-450 liter.
Tapi entah kenapa saat itu kita lupa membawa kartu atm bni untuk melakukan debit pembayaran. Sementara bonus dari kantorpun belum turun, jadi dana di kartu atm mandiri masih kosong. Terpaksalah kita pulang dengan tangan hampa, terlebih barangpun memang indent kalau kita jadi pembelian. Kita sangat tertarik dengan diskon yang hampir 30% diadakan di toko itu, dan terakhir katanya hari itu pula.

Setelah pulang, kita sepakat jalan-jalan ke BellaNova, sekalian cari perbandingan kulkas yang lain disana. Kalau misalnya memang tidak ada yang cocok, kita akan balik lagi ke electronic city untuk menjadikan pembeliannya. Sampai disana benar sa…

Ucapan Syukur Rumah sudah selesai renovasi

Dan 1 hari setelah acara ucapan syukur Mamah jadi Prof di bale binarum, dilanjut dengan ucapan syukur rumah kami yang sudah selesai di renovasi.
Kebetulan keluarga masih banyak yang belum pulang, jadi bisa ikut hadir di acara ini.







Terima kasih kepada Bapak dan Mamah yang sudah luar biasa support untuk terselesaikannya rumah ini. Terutama Bapak yang sudah menjadi kontraktor karena setiap hari harus bolak balik ke cimahpar untuk menengok progres rumah, membeli bahan apa yang kurang, membayar gaji tukang.

Bukan pekerjaan yang mudah untuk melakukan hal itu setiap hari selama 7 bulan. Apalagi menghadapi anak seperti aku yang "banyak maunya" dan sedikit-sedikit komplain, tapi untuk itu semua Bapak tidak pernah marah atau bersitegang denganku. Semua permintaanku diiyakan atau diminta dipikirkan lagi. Bahkan untuk hal-hal yang tidak aku pikirkan tapi ternyata sangat essensial, justru Bapak mendorong untuk direalisasikan. Terima kasih Bapak, semangatmu untuk menyenangkan anak akan sel…