Skip to main content

Kisah 2 Orang Kesatria


"Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri." (Roma 14:4)

Ada sebuah cerita tentang dua orang kesatria karangan aku sendiri. Mereka pada masa muda mereka sudah terpanggil untuk berlatih menjadi benar-benar seorang kesatria yang sejati. Setiap hari mereka melatih badan mereka supaya kuat, berlari dengan cepat, memukul dengan kuat, dan mengeluarkan suara keras supaya orang gentar melihatnya. 2 kesatria ini tidak saling mengenal, walaupun sebenarnya rumah tinggal mereka tidaklah jauh.

Setiap hari mereka berlatih sendiri-sendiri di depan halaman. Karena sanking tingginya pagar rumah mereka, mereka tidak bisa melihat ke seberang rumah mereka.
Dua-duanya semakin hari semakin kuat dan tangguh, dan hampir tak terkalahkan. Mereka begitu yakin bahwa mereka sudah mampu untuk membela rakyat mereka ketika nanti ada serangan musuh.
Sampai pada suatu ketika, kedua kesatria ini terpanggil untuk berperang. Rakyat mereka senang dan gembira menyambut kedua kesatria ini untuk berperang. Mereka bersorak-sorai melihat bagaimana postur tubuh kedua kesatria ini begitu meyakinkan untuk dapat mengusir semua musuh yang akan memporakporandakan desa mereka.
Malam harinya, seluruh rakyat merayakan pesta sepanjang malam, tanpa kedua kesatria itu. Di tempat lain, kedua kesatria itu mengalami kondisi menegangkan yang amat sangat, karena besok hari mereka akan berperang. Rakyat begitu yakin akan mereka. Malam itu merupakan pesta bagi rakyat, tapi mimpi buruk bagi para kesatria.
Pagi harinya, perang dimulai. Seluruh rakyat tertidur pulas sanking capenya berpesta semalam suntuk. Sementara kedua kesatria ini bergegas memakai baju zirah, ketopang, pedang, sepatu perang, dan mulai maju berperang. Sementara mereka berperang, seluruh rakyat masih tertidur dengan pulas, yang terdengar hanya suara dengkuran. Dan memang akhirnya mereka membawa kemenangan, seluruh rakyat terselamatkan berkat kedua kesatria ini. Mereka benar-benar tangguh dan tidak terkalahkan.
Malamnya seluruh rakyat merayakan pesta lagi, kali ini bersama kedua kesatria penyelamat mereka. Seluruh rakyat dan kesatria dimabukkan didalam kemenangan yang luar biasa. Semua bersenang-senang, sampai suatu ketika terdengar suara teriakan.
"Aaaaaaa.....", salah satu rakyat yang mabuk itu menghujamkan pisau pemotong daging ke arah salah satu kesatria. Tentu saja kesatria itu mengelak. Tikaman pisau itu berlanjut ke arah kesatria satunya lagi yang kebetulan berada di dekatnya. Kesatria ini tidak sempat mengelak, karena tengah asik bermesraan dengan seorang wanita. Tanpa sadar, pisau itu menusuk tepat di lambungnya. Kesatria tersebut jatuh, dan tewas seketika. Walau masih dalam kondisi mabuk, seluruh rakyat beserta kesatria satunya lagi lantas tersadar akan bahaya yang ada di depan. Kesatria kedua langsung mengeluarkan pedang dari sarungnya, dan menantang pembunuh tadi. Tiba-tiba dari arah belakang, seorang anak muda menusukkan pisau belati kecil ke arah punggungnya. Untungnya sang kesatria sempat melihat kebelakang. Alangkah kagetnya sang kesatria begitu melihat bahwa penusuk adalah anaknya sendiri. Sang kesatria sempat menjauh dari tusukan tersebut, sehingga tidak sampai menembus jantungnya.
Akhirnya jatuhlah juga sang kesatria ini bersimbah darah. Anaknya berdiri dengan memegang pisau tadi dengan mata melotot dan tidak bergeming.
Seluruh rakyat yang melihat kejadian itu hanya bisa menonton tanpa melakukan apapun juga.
Sang kesatria yang kedua belumlah mati...dia masih bisa mengangkat tangannya ke atas untuk meminta pertolongan.
Sampai beberapa menit kemudian, belum ada yang melakukan apapun juga. Semua tidak bergerak dari tempatnya. Malahan kemudian rakyat-rakyat yang menyaksikan itu mulai berbisik-bisik satu dengan yang lainnya, menuding sang kesatria tidak mampu mendidik anak sehingga menjadi pemberontak.

Tangan sang kesatria masih mengepal dan terangkat ke atas...
Sang istri yang melihat itu menangis dan mulai mendekat. Dia berteriak "Tuhan...selamatkan dia...!!!".

Dan rakyat belum ada yang bergerak juga. Si anak pun sudah menurunkan pisaunya, mukanya merah padam dan mulut tertutup.

Dan rakyat belum ada yang bergerak juga...semua masih diam...tapi tidak membisu.

Tangan sang kesatria masih mengepal dan terangkat ke atas...menunggu pertolongan.

(based on true story)
-------------------

Memang kekristenan itu bukan soal seberapa besarnya kamu dipandang rohani oleh orang lain. Bukan juga soal cara bicaramu yang benar-benar penuh dengan ayat-ayat alkitab.
Tidak juga tentang melakukan suatu kegiatan rohani yang sangat banyak sehingga kita hampir menghabiskan waktu kita seolah-olah untuk Tuhan.
Kekristenan juga tidak membahas tentang seberapa hebatnya kita di mata dunia karena sanggup membawa orang lain bertobat.

Karena semuanya itu sia-sia apabila kita tidak memiliki kasih.
Kasih menurut saya identik dengan kesetiaan, karena kesetiaan berarti memiliki komitmen untuk mengasihi apapun yang terjadi.


Mungkin, hanya mungkin...
Kekristenan itu berarti ketika kita dipandang rendah oleh orang lain secara rohani, kita tetap setia.
Ketika kadang kita gagap berbicara di depan orang banyak dan dicerca orang karena cara bicara kita, kita tetap setia.
Sewaktu kita tidak memiliki bakat lain selain satu bakat itu, dan sepertinya kita terkucilkan karena tampaknya kita tidak bisa mengambil bagian banyak dalam suatu kegiatan rohani, kita tetap setia.

Kekristenan berarti ketika kita sedang berada di dalam kejatuhan yang amat dalam...kita tetap setia.

Comments

Popular posts from this blog

Mesin Cuci Baru Samsung Bikin Listrik nge-Jepret

Beberapa waktu yang lalu saya beli mesin cuci baru di Hartono Elektronik. Merk Samsung, Front Loading, seri: WW85H5400EW.
Saat barang sampai, saya langsung coba pasang sendiri. Karena begitu lihat instruksinya sederhana, hanya melepas 4 baut yang mengunci saja, dan sudah langsung bisa digunakan. 
Masalahnya adalah: Listrik saya dayanya 1300 watt. Saat saya coba mencuci pakaian, saya nyalakan dan pilih mode mencucinya, berjalan lancar. Saya langsung pencet START. Mesin cuci pun mulai mengisi air dari air pam di rumah saya. Saat selesai mengisi air, listrik rumah langsung "nge-jepret". Saya naikkin lagi mcb-nya, dan mesin cuci start lagi. Jepret lagi. Sampai beberapa kali saya naikkin, baru mesin cuci bisa berjalan lancar. 
Keanehan ini pun saya analisa dan ujicoba: Pompa air: saya akhirnya pakai jalur air yang tidak menggunakan pompa air (langsung dari pam), untuk mengurangi konsumsi listrik. Tapi listrik tetap turun. AC: saya matikan ac dan lampu untuk mengurangi konsumsi list…

Pilih kulkas SHARP!

Minggu kemarin kami membeli kulkas baru. Prosesnya agak sedikit lucu, karena sebelumnya kita pergi ke electronic city di Botani Square untuk melihat-lihat saja. Setelah hampir 1 jam ngobrol2 dengan salesnya kita memutuskan beberapa merk dan tipenya yang menjadi pilihan. Ada 2 merk yang kita pilih, yaitu Samsung dan LG. Tipenya kurang lebih 400-450 liter.
Tapi entah kenapa saat itu kita lupa membawa kartu atm bni untuk melakukan debit pembayaran. Sementara bonus dari kantorpun belum turun, jadi dana di kartu atm mandiri masih kosong. Terpaksalah kita pulang dengan tangan hampa, terlebih barangpun memang indent kalau kita jadi pembelian. Kita sangat tertarik dengan diskon yang hampir 30% diadakan di toko itu, dan terakhir katanya hari itu pula.

Setelah pulang, kita sepakat jalan-jalan ke BellaNova, sekalian cari perbandingan kulkas yang lain disana. Kalau misalnya memang tidak ada yang cocok, kita akan balik lagi ke electronic city untuk menjadikan pembeliannya. Sampai disana benar sa…

Ucapan Syukur Rumah sudah selesai renovasi

Dan 1 hari setelah acara ucapan syukur Mamah jadi Prof di bale binarum, dilanjut dengan ucapan syukur rumah kami yang sudah selesai di renovasi.
Kebetulan keluarga masih banyak yang belum pulang, jadi bisa ikut hadir di acara ini.







Terima kasih kepada Bapak dan Mamah yang sudah luar biasa support untuk terselesaikannya rumah ini. Terutama Bapak yang sudah menjadi kontraktor karena setiap hari harus bolak balik ke cimahpar untuk menengok progres rumah, membeli bahan apa yang kurang, membayar gaji tukang.

Bukan pekerjaan yang mudah untuk melakukan hal itu setiap hari selama 7 bulan. Apalagi menghadapi anak seperti aku yang "banyak maunya" dan sedikit-sedikit komplain, tapi untuk itu semua Bapak tidak pernah marah atau bersitegang denganku. Semua permintaanku diiyakan atau diminta dipikirkan lagi. Bahkan untuk hal-hal yang tidak aku pikirkan tapi ternyata sangat essensial, justru Bapak mendorong untuk direalisasikan. Terima kasih Bapak, semangatmu untuk menyenangkan anak akan sel…