Skip to main content

A Single Step

taken from www.langitmerah.blogdrive.com

Tuesday, December 21, 2004
A Single Step....
A journey of a thousand miles must begin with a single step. (Lao-tzu)Inilah yang gue dan temen-temen geng berlima (Gue, Itor, Joyce, DM dan Tiyo) pegang untuk memulai apa yang kita pernah singgung sebagai "bisnis sampingan". Setelah berbagai diskusi untuk memulai usaha sampingan untuk nambah-nambahin kekayaan ini dilakukan, akhirnya kita memulai debutan dengan mengambil bagian di Bazaar gerejanya Stepen, temen kantor gue. Di situ kita berempat (minus Itor karena dia lagi ada acara di gerejanya) jualan macem-macem makanan. Menu utama yang jadi andalan adalah Somay Bude (yang resepnya dari maminya Tiyo) ditambah erwe bikinan maminya DM beserta kue-kue semisal lemper, kue donat dan risoles.
Sejak Sabtu kita udah siap-siap. Setelah semua "modal" dikumpulin pas hari Jumat, kita pun beraksi. Jo kebagian tugas belanja printil-printilan penunjang seperti sendok plastik, kantong plastik dan sejenisnya. Tiyo dan DM mulai mengkoordinir untuk nyiapin barang dagangannya dan gue bertugas bikin label nama, label harga, kartu nama dan sejenisnya untuk dipajang di area dagang kita.
Gue, Jo dan DM nginep di rumah Tiyo, bantuin maminya Tiyo ngolah bahan baku sampe jadi somay. Jam enam pagi kita udah jalan. Ke rumah DM dulu karena mesti ambil rw dan kue-kue. Sampe di gerejanya Stepen jam setengah delapan. Udah agak telat sih karena peserta bazaar lain udah pada siap.
Setelah semua get ready, kita pun mulai deh. Jo udah siap di depan dagangan sambil ngusir-ngusir laler. Tiyo udah kayak bodyguard, nyilangin tangan di depan dada sambil nungguin pengunjung yang saat itu baru beberapa orang saja. DM malah duduk sambil main game. Gue baca buku sambil ngerokok.
Jam sepuluhan, mulailah udah pada rame. Pengunjung pada dateng. Ruangan pun dipenuhi banyak orang. Kita berempat pun mulai meladeni beberapa permintaan. Tapi, gak lama kesibukan itu kita lakuin. Beberapa jam ke depan, suasana udah mulai sepi. Kita pun berpromosi dengan bagi-bagiin kartu nama. Makin siang, makin sepi aja.
Kita udah makin putus asa karena dagangan masih banyak yang belom laku. Ah, mungkin siangan dikit, mereka dateng lagi. Namun, semakin siang, sudah melewati jam makan siang, pengunjung makin berkurang. Hal serupa juga dialami para peserta lainnya. Mereka juga mengeluh bahwa bazaar tahun ini jauh lebih sepi dari tahun kemarin.
Walah... setelah ngerasa bahwa kayaknya mesti ambil tindakan, si DM usul supaya jualan di gereja lain secara "gerilya", yaitu ke gereja di kelapa gading yang konon bubar jam satu. Maka, dibantu Ucon, Tiyo dan DM melesat ke sana. gue dan Joyce nunggu warung.
Ternyata upaya kedua inipun gak ada hasil karena ternyata jam satu itu justru baru mulai kebaktian yang kesekian. Fuih... Oh, God!
Mendekati jam tiga, akhirnya kita mulai itung-itungan. ternyata banyak juga kerugian yang mesti kita tanggung. Tapi satu hal yang bikin kita berlima berbesar hati, bahwa apa yang kita pernah diskusiin itu ternyata bukan omdo tapi ada langkah kecil yang kita telah buat untuk sebuah perjalanan panjang menuju cita-cita kita berlima.
Sebelum pulang, Tiyo pimpin doa. Satu yang gue inget dari doanya Tiyo bahwa Tuhan sudah memberikan yang terbaik lewat pengalaman ini. inilah yang terbaik yang memang telah Tuhan siapkan buat cita-cita kami berlima. Dan Kami semua yakin bahwa ini bukan akhir bukan pula awal, tapi justru bagian dari rencana besar yang sudah tersedia.
Apapun itu.
Thanks, God!
Thanks, my dear Pals

Comments

Popular posts from this blog

Mesin Cuci Baru Samsung Bikin Listrik nge-Jepret

Beberapa waktu yang lalu saya beli mesin cuci baru di Hartono Elektronik. Merk Samsung, Front Loading, seri: WW85H5400EW.
Saat barang sampai, saya langsung coba pasang sendiri. Karena begitu lihat instruksinya sederhana, hanya melepas 4 baut yang mengunci saja, dan sudah langsung bisa digunakan. 
Masalahnya adalah: Listrik saya dayanya 1300 watt. Saat saya coba mencuci pakaian, saya nyalakan dan pilih mode mencucinya, berjalan lancar. Saya langsung pencet START. Mesin cuci pun mulai mengisi air dari air pam di rumah saya. Saat selesai mengisi air, listrik rumah langsung "nge-jepret". Saya naikkin lagi mcb-nya, dan mesin cuci start lagi. Jepret lagi. Sampai beberapa kali saya naikkin, baru mesin cuci bisa berjalan lancar. 
Keanehan ini pun saya analisa dan ujicoba: Pompa air: saya akhirnya pakai jalur air yang tidak menggunakan pompa air (langsung dari pam), untuk mengurangi konsumsi listrik. Tapi listrik tetap turun. AC: saya matikan ac dan lampu untuk mengurangi konsumsi list…

Pilih kulkas SHARP!

Minggu kemarin kami membeli kulkas baru. Prosesnya agak sedikit lucu, karena sebelumnya kita pergi ke electronic city di Botani Square untuk melihat-lihat saja. Setelah hampir 1 jam ngobrol2 dengan salesnya kita memutuskan beberapa merk dan tipenya yang menjadi pilihan. Ada 2 merk yang kita pilih, yaitu Samsung dan LG. Tipenya kurang lebih 400-450 liter.
Tapi entah kenapa saat itu kita lupa membawa kartu atm bni untuk melakukan debit pembayaran. Sementara bonus dari kantorpun belum turun, jadi dana di kartu atm mandiri masih kosong. Terpaksalah kita pulang dengan tangan hampa, terlebih barangpun memang indent kalau kita jadi pembelian. Kita sangat tertarik dengan diskon yang hampir 30% diadakan di toko itu, dan terakhir katanya hari itu pula.

Setelah pulang, kita sepakat jalan-jalan ke BellaNova, sekalian cari perbandingan kulkas yang lain disana. Kalau misalnya memang tidak ada yang cocok, kita akan balik lagi ke electronic city untuk menjadikan pembeliannya. Sampai disana benar sa…

Ucapan Syukur Rumah sudah selesai renovasi

Dan 1 hari setelah acara ucapan syukur Mamah jadi Prof di bale binarum, dilanjut dengan ucapan syukur rumah kami yang sudah selesai di renovasi.
Kebetulan keluarga masih banyak yang belum pulang, jadi bisa ikut hadir di acara ini.







Terima kasih kepada Bapak dan Mamah yang sudah luar biasa support untuk terselesaikannya rumah ini. Terutama Bapak yang sudah menjadi kontraktor karena setiap hari harus bolak balik ke cimahpar untuk menengok progres rumah, membeli bahan apa yang kurang, membayar gaji tukang.

Bukan pekerjaan yang mudah untuk melakukan hal itu setiap hari selama 7 bulan. Apalagi menghadapi anak seperti aku yang "banyak maunya" dan sedikit-sedikit komplain, tapi untuk itu semua Bapak tidak pernah marah atau bersitegang denganku. Semua permintaanku diiyakan atau diminta dipikirkan lagi. Bahkan untuk hal-hal yang tidak aku pikirkan tapi ternyata sangat essensial, justru Bapak mendorong untuk direalisasikan. Terima kasih Bapak, semangatmu untuk menyenangkan anak akan sel…