Another unknown wire

by - February 05, 2018


Image may contain: text
Saat sidang terbuka dihadapan semua yang hadir dan para guru besar, promotor, dan penguji, Pak Rektor yang merupakan ketua promotor ku bilang bahwa aku diundang atau diminta untuk menjadi faculty member di kampus. Hal ini diiringi dengan tepuk tangan yang meriah dari semua yang hadir.
Saat itu aku  hanya tersenyum gembira, tanpa tahu apa arti dan maknanya.

Setelahnya aku memiliki kesempatan bertemu dengan co-promotorku, dan berdiskusi bahwa dia pun menganjurkan aku untuk mengambil kesempatan tersebut, tanpa harus meninggalkan pekerjaanku yang saat ini. Either mengambil di hari sabtu atau yang paling memungkinkan adalah online class. Lagi-lagi membuat aku bertambah bingung.

Rehat tahun baru aku hampir lupa dengan hal ini. Hingga suatu hari aku dihubungi oleh ketua jurusan untuk bertemu dan berbincang-bincang. Menjelang hari pertemuan aku pun dihubungi oleh jurusan yang lain tapi kelas online.

Setelah berdiskusi dengan ketua jurusan, aku justru sebenarnya tambah ragu. Menjadi faculty member punya banyak kewajiban, juga jam mengajarku belum bisa banyak. Jika dihari kerja pulang kantor tidak memungkinkan, karena pasti tetap prioritas pekerjaan di kantor. Jika sabu tentunya another sacrifice weekend time bersama keluarga. Padahal aku baru mau menikmati nikmatnya bangun siang di hari sabtu, bersama anak-anak dan istri tercinta.

Setelah itu dilanjutkan dengan undangan untuk sosialisasi faculty member dari kampus. Aku tidak bisa hadir di tanggal yang ditentukan, eh dari kampus merubah tanggal supaya aku bisa hadir.

Saat hadir, sejujurnya aku masih ragu. Berpikir sudah waktunya kah pengabdian ini dilakukan? Karena ini bukan tentang uang, ini tentang mimpi masa lalu yang terwujud di depan mata.
Ya aku memang selalu punya mimpi menjadi seorang pengajar. Bahkan setelah aku coba cari, aku pernah menuliskannya di tahun 2008, bagaimana bayangan tersebut selalu menghantui di sini.


Menjadi faculty member atau sederhananya dosen di sebuah institusi kampus yang besar tentunya merupakan hal yang keren, impianku sejak dulu. Tapi aku tak pernah mengira hal ini terjadi begitu tiba-tiba, begitu ujug-ujug. Atau jangan-jangan memang ini rencana Tuhan?

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menandatangani kesediaan untuk menjadi associate faculty member. Dosen asosiasi atau belum tetap, yang belum punya kewajiban apa-apa selain mengajar. Aku beranikan diriku menandatanganinya, menyambut apa yang sedang Tuhan sediakan buatku. Waktu yang sempit untuk keluarga, quality time, semoga masih bisa diatur dengan baik. Pasti bisa, pikirku saja.

Tanggal 27 Januari 2018 keluar surat bahwa aku diterima sebagai associate faculty member di bidang management. Rasanya seperti mimpi.

Semoga Tuhan memberkati pilihanku dan keluargaku.

Well, eventhough this is another unknown wire, but i know God holds my future.

You May Also Like

0 comment