Anak ke-3

by - January 23, 2018


Image result for third child

Memang berkat Tuhan itu sering datangnya tidak disangka dan tidak diduga.
Di tahun 2018 ini sekitar bulan agustus, akan lahir kembaren ke-3 di keluarga kami.
Belum tahu laki-laki atau perempuan. Apapun juga ya disyukuri.

Yang lucu, kalau Fhea kakaknya yang perempuan mendoakan adik bayi yang diperut Mama supaya perempuan. Sementara Reigo abangnya yang laki-laki mendoakan supaya adik bayinya laki-laki.
Lah, kalau nanti 2-2nya dikabulkan gimana dong? Kembar gituh? Hehe

Proses "sosialisasi" kepada anak-anak (Fhea & Reigo) pun tidak mudah. Mereka yang sudah terbiasa berdua sering mengungkapkan perasaannya jika ditanya kalau punya adik lagi bagaimana. Kalau Fhea sangat sangat sangat tidak ingin punya adik lagi. Dia bilang punya adik Reigo saja sudah repotnya minta ampun, karena harus dijaga, diajarin, dijagain, ditemenin. Bahkan tidak sering kakaknya dibangunin adiknya tengah malam jam 1 pagi hanya karena ingin ditemani pipis di kamar mandi. Ya persis seperti tadi malam, kakaknya ngamuk, teriak ke bawah. Adiknya menangis, karena mungkin tidak tahu lagi harus minta tolong ke siapa untuk menemani dia.

Kalau Reigo beda lagi tanggapannya, dia bilang kalau punya adik lagi akan ditaruh di atas genteng. Astaga! Walaupun sambil becanda yang serius, tapi bisa kelihatan bagaimana dia pun seolah tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau nanti punya adik. Punya kakak saja sudah repot mungkin pikirnya, nah ini punya adik pula. Middle child syndrom juga pasti terjadi, persis seperti aku. Anak tengah harus mencontoh abang atau kakaknya, dan memberi contoh ke adiknya. Sehingga lahirlah sifat yang paling kentara adalah "tidak ingin mencari masalah". Kalau istilah karo kata orang tuaku: "pambako".

But well, anaknya sudah jadi di perut mamanya. Jadi beberapa hari setelah keputusan test pack diumumkan, maka aku dan istriku memanggil satu per satu anak-anak ke kamar untuk menjelaskan. Aku bilang ke mereka bahwa Tuhan mengirimkan satu bayi ke perut mamanya, dan ini adalah sebuah mujizat. Itu adalah berkat dari Tuhan yang luar biasa, dan kita harus menyayanginya, dan mendoakannya setiap hari supaya sehat-sehat di perut mama dan tumbuh dengan sempurna. Akhirnya mereka mulai bisa memahami akan kebenaran dan keseriusan beritanya. Anak-anak pun bisa menerima dengan baik dan mereka bisa mulai senang dengan itu.

Setiap malam tidak lupa kami mendoakan adik bayi yang ada di perut mama. Ya, kemarin sebelumnya kita mendoakan disertasi papa, sekarang adik bayi. Selalu saja ada yang harus didoakan setiap malam bersama-sama.

Inget disertasi, jadi ingat aku pernah bilang ke istriku saat aku masih kuliah s3, setelah aku lulus s3 nanti mau pilih yang mana? Kamu ambil S2, atau anak ke-3? Ternyata inilah jawabannya. Hehe. Puji Tuhan.


You May Also Like

1 comment