Perseverance

by - September 22, 2017

Catatan di 23 januari 2015 mengingatkan lagi peristiwa kala itu.
Ini adalah kejadian yang terjadi akibat aku di suatu pagi tidak membelokan mobil ke kantor melainkan lurus menuju hotel mulia untuk ikut info session yang dihadiri untuk menggaet kandidat-kandidatnya.

Saat itu yang ada hanya perasaan nekat tanpa tahu apa yang bakal dihadapi di depan.
Istriku menangis untuk keputusan ini, bukan karena terharu, tapi karena marah, pulang kantor saja malam sudah jarang ngobrol dengan istri dan anak-anak. Ini mau ditambah lagi dengan sekolah. Belum lagi uang sekolah yang tidak sedikit dan harus banyak penyesuaian dari sisi keuangan keluarga. Aku juga tahu istriku khawatir dengan kesehatan karena harus membagi waktu untuk pekerjaan, sekolah, dan keluarga. 

Tapi aku coba meyakinkan bahwa mungkin kita saat ini tidak tahu apa rencana Tuhan di depan, kita jalani dan doakan saja dulu. 

Sekolah itu unlocking the door. 
Kadang kita baru tahu manfaatnya setelah lulus. 
Saat mendaftarnya? Belum tentu kita yakin dan tahu persis untuk apa. 

Tidak mudah menuliskan di blog saat itu, mencoba dengan iman bilang akan lulus s3 di bulan juli 2017, saat berumur 37 tahun. Pada umumnya 3 tahun lulus saja sudah cepat, rata-rata justru lulus dalam durasi 5 tahun. Tapi mimpi itu gratis kan?

Memasuki masa-masa kuliah, harapan itu pupus. Melihat teman-teman kuliah yang jauh lebih senior baik dari umur, pengalaman, dan posisi. Mereka pasti orang-orang yang sudah punya gambaran akan melakukan penelitian tentang apa. Di awal-awal kelas, aku cenderung minder dan pendiam.

Aku mulai mencoba bertemu dengan dosen-dosen yang sangat membantu memberi insight.
Mulai membaca jurnal-jurnal yang juga merupakan bagian dari tugas kuliah.
Kemudian aku mencoba meyakinkan diriku sendiri akan topik yang akan aku ambil.
Setidaknya gambaran kasarnya sudah firm.
Aku mencoba tidak lari dari itu.

Bahkan saat keluar SK tim promotor, topik yang sama yang aku utarakan kepada mereka.
Aku belajar membuka diri, mengosongkan gelasku saat bertemu dan konsultasi dengan mereka.
Walau sering konsultasi diakhiri dengan pahit dan tawar hati, aku mencoba menjalani sesuai dengan apa yang tim promotor arahkan.

Variabel, topik, teori, dan model penelitian benar-benar mengalami metamorfosis yang sangat ekstrim dari setiap konsultasi.
Entah bagaimana aku sadar ini lebih dari sekedar menulis, ini pembentukan mental untuk menerima setiap sanggahan menjadi dorongan, menghadapi kritikan pedas dan mengubahnya menjadi revisi demi revisi yang membuat tulisanku setidaknya menjadi sedikit lebih baik dan lebih banyak barisnya.
Sadar atau tidak sadar, para guru sedang mengajari aku, menempa aku dari sebatang besi yang tak berbentuk, dibakar, dipanaskan, diketok, didinginkan, lalu dipanaskan lagi, dibentuk, dan terus menerus seperti itu.

Tak jarang aku mati kutu akan apa yang harus aku tulis lagi, bagaimana melanjutkan sebuah kalimat atau paragraf. Aku buta dan tidak mengerti.
Di hari-hari seperti itu, aku putar lagu rock, teriak-teriak di mobil sambil nyetir atau saat parkir, berdoa tanpa suara, atau bermain game dengan intense untuk mengalihkan perhatian. Menangis sambil berdoa atau berdoa sambil menangis.
Pikiran dan hati juga butuh relaksasi.

Strategi datang pagi subuh-subuh ke kantor, langsung membuka disertasi, menulis entah sebaris dua baris, kalau bisa satu paragraf, tapi setiap hari mulai membuahkan hasil. Karena dibuka setiap hari, pikiranku selalu menyambung dengan apa yang aku tulis kemarin. Bangun pagi lagi, berangkat kantor lagi, sampai pagi lagi, masuk ruang kerja, buka laptop disertasi yang memang kupisahkan dengan laptop kantor, tulis sesuatu lagi, berpikir, tulis lagi, jam masuk kantor kututup dan kutukar laptop dengan laptop kantor, bekerja, waktu makan siang buka lagi laptop disertasi, dan kutulis lagi, sore hari kalau sempat aku tulis lagi sedikit. Pulang. Berangkat lagi. Tulis lagi. Pulang. Berangkat lagi. Terus sampai satu bulan, dua bulan, enam bulan, satu tahun, satu tahun setengah.

Sampai juga saat hari dimana aku harus menghadapi promosi doktor.
Rasanya seperti mimpi. Seingatku baru saja aku membuka mata dan membeli formulir pendaftaran.

Ah, terima kasih Tuhan. Bersama Engkau aku sampai di titik kehidupan ku ini. Tanpa-Mu, aku tak kan sanggup.


You May Also Like

0 comment