Dr. Julbintor Kembaren

by - August 29, 2017

Tanggal 19 Agustus 2017 menjadi peristiwa bersejarah, karena akhirnya aku dipromosikan menjadi doktor secara resmi, Dr. Julbintor Kembaren.

Terima kasih yang tak terhingga pada Tuhan Yesus, karena atas karunia-Nya ini bisa terwujud.


Gladi Bersih
Acara persiapan dimulai di tanggal 18, dilakukan gladi bersih untuk persiapan acara besok. Istriku dan adikku berangkat dari bogor untuk ikut dalam acara ini, karena memang pihak keluarga harus ikut serta agar tahu rangkaian acaranya.

Yang cukup menegangkan adalah saat belum mulai gladi, aku sedang testing presentasi. Ibu Dyah tiba-tiba memasuki ruangan, dan meminta aku menampilkan slidenya. Beliau mengkoreksi banyak hal, termasuk yang perlu ditampilkan, yang tidak perlu, dan yang harus dirubah. Lebih lanjut beliau bertanya kok tidak ada animasinya, seharusnya dipakai animasi. Terus terang hal ini menimbulkan rasa panik. Mencoba tetap tenang dan berkata siap, akan diperbaiki.

Persiapan lainnya seperti konsumsi, souvenir, termasuk hand out untuk para dosen juga sudah dipersiapkan.


Hari Sidang
Di hari H, sangat menegangkan. Pagi-pagi aku sempatkan untuk mencuci mobil sambil mencari inspirasi. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, selesai cuci mobil, baru aku membuka laptop, dan mengupdate slide presentasi. Aku menambahkan beberapa animasi supaya lebih menarik, dan menurunkan beberapa slide yang diminta ibu Dyah untuk tidak ditampilkan. Aku mengerjakan itu sampai sekitar pukul 9.30 dimana pasukan Mama Mami, istriku fhea reigo, dan misa serta turangku dan biyas sudah siap untuk berangkat. Aku baru mulai mandi.

Sampai di kampus, suasananya sudah berbeda. Aku mulai bersiap berpakaian, memasang dasi, dan jas. Sementara beberapa tamu saudara sudah mulai berdatangan, aku mulai gugup dan panik. Mencoba tetap tenang, aku mencoba menyambungkan laptop presentasi. Laptop sudah ok, aku mulai membaca-baca keynote yang sudah aku buat untuk setiap slide. Bolak balik aku menyalami beberapa tamu yang sudah hadir, mencoba untuk tetap tenang dan tersenyum.


Berdoa
Pak Pdt Sahat yang sebenarnya konfirmasi tidak dapat hadir, tiba-tiba ada di kampus. Dia menemuiku dan bilang sebaiknya kita berdoa bersama dulu. Akhirnya bersama bapak mamah dan istriku kami ke satu ruangan tertutup dan berdoa bersama, meminta penyertaan Tuhan untuk sidang yang akan berlangsung.


Mulai
Kemudian acara dimulai. Aku keluar ruangan, mc mulai membacakan aturan sidang. Sedikit gemetar saat melihat barisan para guru yaitu Prof dan Doktor yang memasuki ruangan. Muka mereka tidak tersenyum, semua dengan muka yang sangat serius. Aku pikir ini akan menjadi hari yang "menyeramkan". Selagi Bu Dyah berbaris, dia sempat berkata kepadaku, nanti jawabnya yang tenang, jangan terlalu teknis. Anggap saja sedang memberikan seminar, demikian beliau berujar. Entah ada beberapa dosen yang mengiyakan hal tersebut juga sambil mereka memasuki ruangan.

Setelah barisan dosen memasuki ruangan, aku mengantri untuk didampingi masuk ke dalam ruangan. Di detik memasuki ruangan, suasana hatiku mulai berubah. Yang tadinya gundah gulana dan galau, menjadi "ya sudah, apapun yang ada di depan mata, dihadapi saja". Aku hormat pada para guru. Sempat aku tertegun berdiri di tengah, lupa apakah berhenti di depan atau langsung menuju podium. Padahal sebenarnya aku ingat di gladi bersih langsung menuju podium. Saat terdiam di tengah, Prof Har memberikan kode agar segera menuju podium. Maka aku kemudian menuju ke podium. Astaga, what's wrong with me? Haha

Podium
Aku sudah berdiri di podium. Rasanya kok sempit. Aku menaruh keynote kurang lebih 30 lembar, dan pointer serta pulpen di situ. Aku mulai membiasakan diri berdiri di situ sambil memandang ke arah para guru. Tampak ketua sidang sedang membuka acara, kemudian menyerahkan kepada ketua promotor untuk membacakan riwayat hidup.

Saat riwayat hidup dibacakan, Prof sedikit menyelipkan humor. Seperti saat membacakan aku s1, s2, dan s3 di binus, beliau bilang ini setia banget sama binus. Kemudian saat membacakan aku sebagai guru sekolah minggu di GBKP, hobi musik dan mencipta lagu, menulis blog, beliau bilang ini sepertinya salah jurusan.

Momen itu rasanya hanya sekejap mata saja berlalu. Cepat sekali. Momen berikutnya yang terasa lama. Aku dipersilahkan mempresentasikan disertasiku dalam waktu 20 menit. Aku mulai berbicara dengan slide awal. Semua mengalir, ada beberapa keynote yang aku skip karena merasa terlalu kepanjangan karena aku melihat juga time keeper sudah memperlihatkan waktu tinggal 10 menit.
Ada juga beberapa keynote yang tiba-tiba jadi tidak sesuai dengan apa yang ada di slide. Astaga ini kenapa begini aku pikir dalam hati. Tapi mulut tetap harus berbicara mempresentasikan apa yang ada. Saat time keeper bilang waktu habis, aku sudah pas sekali sampai di slide saran. Sehingga aku segera tuntaskan presentasiku. Fiuh selesai juga.

Tapi yang aku anggap selesai, ternyata baru dimulai. Ya, mulailah pertanyaan dari para Prof dan Doktor, guru-guru yang aku hormati dan segani. Mulai dari pertanyaan pertama, tim promotor memulai. Prof Har memulai dengan mempertanyakan transformasi digital. Kalimat pertanyaannya memang berat, tidak bisa dipahami satu kali. Lanjut ke pertanyaan-pertanyaan berikutnya, bu Dyah awalnya mengangkat penelitian ini merupakan yang dia kagumi, namun ternyata saat dibawa kekelas, hal itu dianggap biasa oleh mahasiswa yang lain. Lanjut lagi pak Ford mempertanyakan apa kelebihannya aplikasi mobile yang diusulkan dalam implikasi, karena buatnya hal itu sudah biasa dan tidak ada kelebihannya. Tim promotor sendiri mengajukan lebih dari satu pertanyaan dalam satu ketika. Berat!

Memasuki tim penguji, justru aku merasakan pertanyaannya sedikit lebih ringan. Aneh juga. Prof Tirta mengkonfirmasi pengaruh langsung. Aku juga sekaligus mengoreksi jawaban terhadap ibu Dyah. Pak Haryono menjelaskan banyak hal, termasuk salah satunya beliau bilang bahwa saya termasuk mahasiswa yang agresif. Pertanyaan beliau yang sederhana justru membuat saya terbata-bata dan tidak tahu jawabannya sampai audience yang harus menjawab. Lanjut pada Pak Suroto, mempertanyakan bisnis proses perkebunan. Ditutup oleh Prof Edi yang mempertanyakan hipotesis.

Hal yang cukup menegangkan adalah pada saat pak haryono menanyakan pertanyaan, mertuaku (Mama), terlihat lelah dan terpaksa harus keluar ruangan. Aku mencoba untuk tetap konsentrasi dengan pertanyaan, dan mencoba untuk tetap fokus menjawab.

Saat pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan dan aku coba menjawab, itu rasanya seperti 1000 tahun lamanya. Dalam pikiranku, ini kapan akan selesainya. Stress, dan seringkali buntu dalam memikirkan sesuatu. Yang aku tahu hanya mencoba menjawab saja, jangan sampai blunder, jangan sampai keluar konteks, ya coba dijawab saja.

Break
Pertanyaan selesai. Para guru keluar ruangan untuk mendiskusikan hasilnya. Aku pun istirahat dengan menyalami dan berfoto bersama para tamu untuk menghilangkan penat. Sambil di pikiran, ini jadinya bakal lulus atau tidak ya? Karena hampir semua pertanyaan sepertinya dijawab dengan kurang memuaskan. Aku melihat mimik muka para guru yang juga tidak terlalu puas dengan jawabanku. Ah, ya sudah lah, diserahkan kepada Tuhan, yang Maha Kuasa. Aku berserah!

Tidak ada lapar yang kurasa. Saat sebelum sidang pun ga selera makan. Setelah sidang pun aku tidak ada selera makan. Hanya melihat semua saudara dan teman-teman menikmati hidangan semua. Aku lebih asik ngobrol dan bercengkrama dengan saudara-saudara semua. Sesekali aku melihat beberapa mata yang sembab, mungkin habis menangis. Sepertinya mereka ikut merasakan juga perjuangan dihajar habis-habisan di depan para guru. Bahkan ada beberapa yang sempat emosi saat berbincang.

Aku hanya bisa tersenyum untuk semua ungkapan pembicaraan. Sementara pikiranku melayang pada setiap pertanyaan yang dilontarkan, dan jawaban-jawaban yang bagaimana yang seharusnya aku berikan. Berkecamuk semua itu di dalam pikiran dan hati, menimbulkan rasa galau yang tak terkirakan, apakah aku sudah cukup baik mempertahankan disertasiku? Bagaimanakah hasil akhir perjalanan riset ini? Dinilai apakah hasil riset ini oleh para guru? Am i good enough to be a PhD?


Hasil
Waktu istirahat selesai. Para guru sudah selesai berdiskusi dan mengambil keputusan atas ujian promosi doktor. Aku kembali ke luar ruangan, menanti para guru untuk memasuki ruangan. Mereka ada 7 orang, berbaris rapih untuk memasuki ruangan sidang. Aku menanti di belakang, dan masuk setelah para guru duduk. Kali ini aku masuk dan berhenti di tengah untuk menanti pengumuman. Aku lihat satu persatu mimik muka para guru besar dan doktor di depanku, tidak ada satu pun mukanya yang tersenyum atau gembira. Apakah ini pertanda buruk pikirku. Aku menghela nafas jarang-jarang, menegaskan kesadaranku untuk tetap tenang dan berdiri tegap.

Ketua sidang, Prof Edi mengumumkan hasilnya. Beliau sedikit bercanda bahwa hasilnya di kertas belum dicoret lulus atau tidak lulus. Semua yang hadir ikut tertawa walau agak hambar. Dan akhirnya diumumkan bahwa aku lulus dari ujian promosi doktor.

Selanjutnya diumumkan bahwa aku lulus dengan nilai angka A. Hati ini melonjak kegirangan. Rasanya senang sekali bisa lulus dengan nilai A.

Tapi Prof belum selesai berbicara. Kalimat selanjutnya...
"Dengan mempertimbangkan nilai dan hasil sepanjang masa kuliah..."
Aku pikir ini mungkin hanya kalimat pelengkap untuk menyatakan bahwa aku sudah sah dinyatakan sebagai doktor.
Namun, kalimat selanjutnya, Prof mendekatkan mulutnya ke mic dan bilang "cum laude!" dengan intonasi yang keras.

Semua yang hadir saat itu memberikan tepuk tangan, aku melihat semua guru ku yang di depan juga memberikan tepuk tangan dan senyuman.

Prof Edi turun ke bawah dan memberikan ijasah sambil berfoto bersama. Prof berbisik bahwa ijasah masih berupa sementara.

Setelah itu aku kembali berbalik badan dan berdiri di tengah. Prof Har memberikan prakata dan ucapan selamat. Prof bilang bahwa beliau adalah orang kedua yang memanggil aku sebagai doktor, dan agak dicatat menjadi sejarah bahwa pada tanggal 19 agustus 2017 tepat jam 16.00, aku dipromosi sebagai doktor ke-40 di binus university. Dinyatakan lulus dengan predikat cum laude, dimana hanya ada 5 doktor yang lulus cum laude dari 40.

Beliau berkata bahwa aku itu sudah seperti orang jawa, tangan di depan, membungkuk. Setelah dari sidang ini, aku harus lebih tegap dan berwibawa sebagai seorang doktor. Dan semua ini adalah berkat Tuhan, jangan lupakan itu. Tanpa penyertaan Tuhan hal ini tidak akan pernah terjadi.

Yang mengagetkan, beliau sebagai rektor berbicara di depan, untuk juga menawari aku sebagai faculty member di Binus University. Ini disambut juga dengan tepuk tangan dari yang hadir disitu. Aku bungkuk hormat.


Nara sumber
Dr. Donald Siahaan dipersilahkan juga untuk memberikan kata sambutan terkait dengan sidang yang baru saja berlangsung. Aku lihat beliau benar-benar humble untuk juga memberkan penguatan-penguatan terhadap disertasi yang sudah aku tulis. Bahkan beliau juga berbicara bahwa sedang mencari pembicara untuk event sawit internasional, dan beliau bilang ini cocok sekali dengan aku, dan diminta kesediaan untuk menjadi pembicara di event tersebut. Bahkan formulir juga langsung diberikan kepadaku. Wow!


Ucapan terima kasih
Kemudian aku diminta memberikan ucapan terima kasih. Kuucapkan terima kasih kepada Tuhan Yesus. Dan juga pada para guru. Aku sebutkan satu persatu nama mereka dan kesanku terhadap mereka.
Juga kepada orang tua dan mertua, aku minta mereka berdiri. Aku mengutarakan bahwa semua ini didedikasikan untuk mereka. Aku teringat saat bapak selalu bercerita tentang semangatnya kuliah sampai baca bahan kuliah di bus dengan mengganti lampu, mamah yang menjadi doktor dan prof dengan perjuangan yang tidak mudah. Mama dan mami juga untuk semangatnya terus sekolah. Dan bahwa ilmu adalah harta yang tidak dapat dirampas, namun dapat dibagikan.

Aku juga berterima kasih pada istriku dan keluargaku. Aku minta juga mereka berdiri. Mengucapkan terima kasih karena telah mendukung semua proses yang berjalan, bahkan untuk akhir pekan yang banyak dikorbankan demi terselesaikannya disertasi.

Aku juga berterima kasih untuk teman kuliah. Mohon maaf karena lulus duluan.

Aku juga berterima kasih untuk semua saudara, yang sudah jauh datang. Juga buat rekan kerja dan perusahaan sawit yang sudah menjadi nara sumber demi terselesaikannya penelitian ini.


Foto
Akhirnya acara diselesaikan dengan acara berfoto bersama para guru. Aku disalami oleh setiap guru, dan berfoto bersama.


Fhea Reigo bernyanyi diiringi Istriku
Fhea Reigo pun mempersembahkan lagu untuk merayakan kelulusanku ini. Fhea bernyanyi lagu "Daddy", dan Reigo bernyanyi lagu "Sayap pelindungmu", diiringi oleh gitar oleh istriku tercinta.


Dan hari itu diselesaikan dengan penuh kebahagiaan, kelegaan, dan rasa syukur.
Bahwa ternyata aku yang tidak sempurna ini diberi kekuatan oleh Tuhan untuk bisa melewati semua proses sampai pada akhirnya lulus. Sungguh anugerah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Terima kasih Tuhan Yesus!





























You May Also Like

0 comment