Tanda tangan

by - May 16, 2016

Beberapa minggu ini aku berjuang untuk mendapatkan tanda tangan.
Ya, tanda tangan dari tim promotor, itu termasuk Prof Har, Bu Dyah, dan Pak Ford.

Tgl 30 April aku sudah dapat tanda tangan pertama dari Bu Dyah di lembar pengesahan proposal penelitianku. Aku happy dan senang.

Tapi kemudian comes the nightmare. Aku harus menghadap Pak Ford.
Di beberapa kali email dengan beliau, beliau mengkritisi proposal penelitianku tidak novel, kebaharuan ilmunya kurang bahkan relatif tidak ada, terlebih lagi sudah banyak penelitian yang beliau anggap serupa. Aku stres dan ingin mati rasanya.

Di dalam beberapa email tersebut aku mencoba kuat dengan pendirianku dan mempertahankan apa yang ada di dalam model penelitianku. Tapi semakin ke sini justru aku semakin ragu, dan bahkan semakin sadar bahwa Pak Ford ini benar.

Tanggal 4 Mei 2016 aku bertemu Pak Ford. Bertemu beliau butuh perjuangan, karena beliau sebenarnya orangnya sangat sibuk dan prefer komunikasi by email. Tapi karena komunikasi by email dengan beliau sepertinya deadlock, aku memohon untuk bisa bertemu dengan beliau off-line. Tgl 4 mei tersebut pagi-pagi aku benar-benar meminta kekuatan lebih dari Tuhan, ngeri benar apa yang akan aku hadapi hari ini. Berdoa kepada Tuhan dengan istriku pagi-pagi, saat teduh, dan mendapatkan kekuatan baru. Berpikir ulang, kalaupun memang model penelitian harus dirubah lagi secara total, ya sudah dikerjakan saja dengan secepat mungkin, Tuhan pasti kasih kekuatan.

Aku ke JWC, janji ketemu jam 18. Sampai di kampus jam 5.30, beliau masih di kelas. Saat kelas sudah bubar dan beliau masih di dalam kelas, aku memberanikan diri mengetuk dan masuk ke dalam. Saat aku menyapa selamat sore, beliau langsung melambaikan tangan dan meminta tunggu di luar dengan suara yang sedikit keras. Aku bilang, baik pak, saya akan tunggu di luar.

Sekitar 30 menit aku menunggu di luar, tentunya dengan gemetaran dan sama sekali tidak mengerti apa yang sedang aku hadapi. Di meja ku sudah siap nescafe kopi mocha 2 kaleng yang aku beli untuk diberikan ke Pak Ford.

Pak Ford membuka pintu, dan mempersilahkan masuk.

Aku ingat betul pertanyaan pertama yang dia tanyakan ke saya: "Jadi ibu Dyah sudah tanda tangan?"

Aku berusaha menjawab dengan segala kerendahan hati, bahwa aku butuh arahan beliau untuk proposal penelitian, tidak juga hanya untuk meminta tanda tangan juga.

Akhirnya beliau menjelaskan banyak hal sekitar 15-30 menit di whiteboard. Aku mengangguk, menjawab pertanyaan beliau, dan mengiyakan pendapat beliau. Aku terhenyak bahwa beliau sesungguhnya memang ingin agar penelitianku lebih tajam dan noveltynya tinggi. Sepanjang beliau menjelaskan, muka tegas dan keras terpancar dari beliau. Aku mencoba mengerti bahwa beliau sedang mengajarkan point penting padaku.

Sepanjang penjelasan beliau, berkali-kali menanyakan ke saya, menurut saya apa hal yang lebih novelty yang bisa menjadi kontribusi penelitian saya kepada industri, bahkan kepada negara. Aku jadi berpikir dan tersadar bahwa jenis penelitianku seharusnya bisa punya konten yang tidak sekedarnya. Industri, negara, itu sesuatu yang tidaklah kecil.

Terakhir aku memberanikan diri berkata kepada beliau, bahwa aku punya satu variabel yang menurutku novel dan bisa dimasukkan sebagai variabel tambahan di penelitianku. Saat kusebutkan, beliau kurang setuju dengan frasenya, tapi juga tidak menolak untuk memasukkannya ke dalam penelitian, malahan beliau mendukung.

Tanggal 4 mei tersebut, aku harus setengah memaksa memberikan kopi nescafe mocha kepada beliau di akhir sesi. Beliau menolak karena tidak minum kopi. Tapi aku bilang, aku memang membeli untuk memberikannya kepada beliau. Beliau menerima dengan setengah hati. Namun di penutupan dia sedikit tersenyum, dan bilang "Pak Itor ini saya dengar dari Ibu Dyah sudah bagus dan cepat, bagus itu pak, saya dukung. Saya belum akan tanda tangan hari ini, tapi jika sudah selesai perubahannya, di pertemuan berikutnya saya akan tanda tangan."

Hari itu aku pulang dari kampus dengan perasaan yang berkecamuk tapi juga happy, karena akhirnya sesi tersebut selesai. Tanggal 5, 6, 7, 8 adalah perjuangan setengah mati aku merombak total penelitian dan modelku, mencari referensi, literatur, case, dan membangun dimensi serta indikator penelitiannya. Di 4 hari tersebut entah kenapa Tuhan sedang berbaik hati kepadaku, memberiku keajaiban-keajaiban, sehingga ilmu pengetahuan sungguh bisa menyuguhkan kopi mocha yang dingin kepadaku dan menemukan relasi-relasi setiap petunjuk yang ada dan menyambungkannya ke dalam proposal penelitianku.

Tanggal 8 mei aku kirim revisi proposalku dengan variabel baru dan model penelitian yang baru.
Pak Ford bilang Ok, lanjutkan.

Tanggal 11 mei ke kampus, merapihkan proposal dari bab 1 sampai 3.
Rubah judul sesuai saran Ibu Dyah.
Dapat tanda tangan Ibu Dyah lagi di lembar pengesahan yg baru karena judul dan variabel berubah.
Print out draft, kemudian menuju gedung rektorat, diminta Pak Rektor Prof Har menghadap.
Keajaiban terjadi lagi, sewaktu di gedung rektorat kebetulan Prof Har sedang mengobrol di dalam, aku menghadap sekretarisnya. Aku duduk sebentar, Prof Har selesai ngobrol, aku menyapa, dan dia bertanya mau bertemu saya. Beliau langsung mengajak saya duduk di sofa sebelah sana.

Akhirnya konsultasi dengan beliau, revisi di sana sini, draft proposal dicoret coret dengan note. Saya happy. Terakhir beliau minta lembar pengesahan, dan menanda tanganinya.

Pulang dari kampus menuju kantor lagi, baru sadar, di lembar pengesahan ada kesalahan, kurang spasi antar kata. Info Bu Dyah. Keajaiban terjadi lagi, beliau  meminta saya komunikasi dengan sekretariat untuk print ulang lembar pengesahan, beliau jg bersedia untuk tanda tangan ulang, dan akan bantu untuk meminta tanda tangan ke Prof.
Saya bilang ke Bu Dyah, beruntungnya saya bu. Beliau kasih emoticon tersenyum.

Tanggal 12 saya janjian dengan Pak Ford untuk menghadap. Tentunya berharap kalau bisa ada tanda tangan juga. Menghadap beliau tetap dengan gentar. Masuk ke dalam ruang dosen. Sekilas bertemu dengan Prof Edi, salaman dan menanyakan kabar. Begitu sampai di meja Pak Ford, belum pun sampai di mejanya beliau terima telpon, tapi sambil memberi kode dengan tangan bahwa dia ingin aku mengeluarkan lembar pengesahan untuk dia langsung tanda tangan.

Beliau menelpon sebentar keluar ruangan, kembali lagi 15 menit. Dia langsung tanda tangan tanpa basa basi. Aku mengucapkan terima kasih banyak, karena masukan dari beliau merubah semua proposal penelitanku. Beliau bilang bahwa harus dirubah agar penelitian menjadi lebih tajam, dan tidak seolah-olah dicari masalah padahal tidak ada.

3 orang dari tim promotor sudah tanda tangan. Berarti tinggal diketahui oleh head of doctor yaitu Prof Arief, dan saya sudah siap sidang proposal. Aku sms beliau, tidak ada balasan. Akhirnya 1 lembar aku tinggal di sekretariat titip ke Tommy, kalau-kalau bisa dimintakan tanda tangan beliau dari lembar pengesahannya saja walau belum print hardcover proposal disertasinya.

Hari minggu 15 mei dapat kabar bahwa Prof Arief sudah tanda tangan.

Haleluya.

Sore ini pulang kantor akan menuju ke kampus, untuk ambil lembar pengesahan, dan print out serta fotocopy dan jilid hardcover proposal penelitian. Dapat kabar antara tanggal 22 atau 28 mei sidang proposal. Tapi kemudian diupdate lagi tgl 30 atau 31 mei.

Dan jika Tuhan Yesus menyertaiku untuk memulainya dan tetap menyertai sampai hari ini, Dia juga yang akan memberiku kekuatan untuk menyelesaikannya. Amin



You May Also Like

0 comment