Menyenangkan Walaupun Melelahkan

by - March 07, 2016

Akhirnya kemarin ujian kualifikasi tertulis yang terakhir juga sudah selesai. Tinggal sabtu depan ujian kualifikasi berbentuk interview.

Sebelumnya ujian s3 untuk semester 2 sudah selesai. Hasilnya juga sungguh melegakan.



Perjalanan menuju Doktor ini memang cukup menyenangkan walaupun melelahkan.
  • Selama 1 tahun ini harus mengorbankan waktu weekend hari sabtu dimana biasanya beristirahat dan bersama keluarga, saya harus ke kampus pagi-pagi dan kuliah sampai sore hari. Biasanya sabtu itu saatnya bangun siang dan leha-leha di rumah. Atau berlatih musik di gereja bersama anak-anak sekolah minggu. Ini dihabiskan dengan menyelesaikan tugas dan presentasi di kelas di depan dosen. 
  • Setumpuk tugas yang harus diselesaikan. Tugas membaca jurnal kurang lebih 6 jurnal dalam 1 minggu, dan harus membuat summary and critical analysis. Jurnalnya mulai dari yang dimengerti oleh otak sampai yang hanya bisa dimengerti oleh bahasa kalbu. Kadang harus merangkum buku yang tebalnya 700 halaman dalam 1 minggu. 
  • Online class setiap rabu malam. Dimana waktu sudah sampai ke rumah, disambut oleh keluarga. Anak-anak kadang ingin bermain, tapi harus menahan diri karena Papanya sedang online class dengan Prof dan teman sejawat. Belum lagi kalau saat kebagian Prof yang hobinya bikin jantungan, akan menanyakan pendapat kepada random people, sehingga selama 2.5 jam kita harus bener-bener standby di webex. Kadang kebelet pipis pun harus ditahankan jika kebagian jadwal presentasi. Makan malam pun cenderung buru-buru, atau makan malam sambil online class kalau tidak kebagian presentasi dan dosen agak santai, atau malah makan malam setelah online class karena Profnya sudah mengabsen di awal mulai kuliah. 
  • Penyusunan outline yang tidak mudah. S3 sangat dituntut kemandirian dan kebingungan, karena semakin kita mencoba mandiri dengan banyak bimbingan, semakin banyak inisiatif diskusi dengan beberapa dosen, yang ada semakin bingung. Deadline outline yang akhirnya mepet mengharuskan saya meminta waktu khusus dengan academic advisor, yang benar-benar pencerahan last minute. 
  • Meluangkan waktu membaca disertasi orang lain yang sudah lulus duluan. Hal ini katanya memberi insight, walau akhirnya saat membacanya cuma bingung sendiri. Alur pemikirannya kadang tidak bisa ditangkap, cenderung rumit. Untungnya berbincang dengan dosen bisa memberikan clue disertasi mana yang cenderung mudah untuk dibaca. 
  • Ketemu saat-saat mengharukan ketika sabtu pagi berangkat bersama anak-anak konvoi. Di tengah jalan kami berpisah, mereka ekskul bersama Mamanya dan saya berangkat sekolah. Di banyak waktu anak-anak sering protes dengan kalimat-kalimat sederhana yang kadang lucu tapi menusuk seperti "Papa sih, ngapain juga S3 lagi...", "Papa sabtu ini libur kan?", "Papa kita tidak main uno malam ini karena kuliah ya?", "Papa kok lama banget sih kuliahnya?", "Kuliah terus...kuliah terus...aku nanti ga mau kuliah S3!". Celotehan anak-anak yang lucu pada awalnya, namun mengharukan pada akhirnya. Harus benar-benar tahan badan dan tahan hati. Huhuhu. Sabar ya nak, the pain will over...
  • Ujian-ujian semester 1 dan semester 2 yang juga sangat sulit. Kadang kita belajar konseptual, yang keluar aplikatif, kita belajar aplikatif tapi yang keluar konseptual. Kalau kita belajar 2-2nya, ga cukup waktu. Hahaha. Waktu belajar saat ujian kadang h-1, bisa berarti 1 hari sebelum ujian atau 1 hour sebelum ujian. Tapi puji Tuhan nilainya bisa lumayan lah. 
  • Dana yang disediakan tidak sedikit. Teman-teman lain ada yang mendapat semacam subsidi dari kantor tempat dia bekerja, atau bahkan di fully supported dari kantornya, tapi tidak sedikit juga yang menggunakan dana sendiri. Menyediakan 50juta dalam satu semester sangat tidak mudah (bagi saya), bisa jadi bagi yang lain tidak terlalu sulit. Namun bagi saya, karena sudah mempercayakan semua hal tentang keuangan kepada istri, itu berarti juga mempercayakan semua penghematan dan alokasi dana kepada istri juga. Thanks God punya istri yang bijak untuk mengatur semua perihal keuangan sehingga uang semesteran bisa tetap terbayar tanpa terlambat dan tetap punya saving. 
  • Bantuan dari orang tua juga punya peran penting. Mereka memberi semangat, bahkan secara finansial mereka selalu memastikan tidak ada masalah. Mereka selalu bilang bahwa "jangan sampai karena tidak ada uang, sekolah jadi tersendat." Mereka paham betul pergumulan keluarga muda saat masa-masa persekolahan. 





Dari semua hal di atas, tinggal sabtu depan tanggal 12 maret ujian terakhir kualifikasi berbentuk interview. Setelah itu akan dirapatkan, dan dikeluarkan SK untuk promotor, co-promotor, dan mulai penelitian. Semoga Tuhan memberi kekuatan untuk melewati semuanya ini. 


You May Also Like

0 comment