Hadiah Raport

by - January 18, 2016

Hari minggu kemarin, anak-anak sekolah baik tk, sd, dan s3 dapat hadiah dari orang tua. Hari yang gembira buat cucu dan anak karena bisa nambah-nambah uang "SPP" yg kebetulan mendekati deadline hehe.
Sedikit cerita, orang tua saya sedari dulu selagi saya kecil selalu memperhatikan detil hasil raport dan memberi komentar positif dan pendapat untuk pengembangan selanjutnya. Momentnya pun dibuat khusus, tidak asal lewat. Semua dinilai bersamaan ketika pembagian raport sudah selesai. Kadang kami harus menunggu abang atau adik yang berbeda beberapa hari pembagian raportnya, sehingga bisa sama-sama menghitung hadiah raport. Kami akan duduk berjejer dan menyerahkan raport kami masing-masing ke orang tua. Di suasana yang santai itu, biasanya komentarnya akan diawali dengan kalimat "Wah hebat...!", "Wow keren...!", atau "Luar biasa...!!!", sambil menepuk-nepuk pundak dan tersenyum dari orang tua kami saat melihat nilai raport kami satu per satu. Setiap mata pelajaran akan di bahas satu per satu dan diberikan komentar satu per satu. 

Tapi jangan berpikir bahwa orang tua saya adalah orang tua yang detil di prosesnya. Justru tidak. Untuk proses belajar di sekolah, orang tua saya cenderung melihat dari jauh, tidak terlibat secara intens. Jarang bahkan hampir tidak pernah saya dicek satu persatu pekerjaan rumah ataupun jadwal ujian dan dimarahi karena belum menyelesaikan ini itu. Tapi justru hal ini yang membuat saya/ kami menjadi lebih bertanggung jawab terhadap sekolah kami beserta tugas-tugasnya. Tentunya hal ini jauh berbeda dengan orang tua jaman ini (saya pun orang tua jaman ini)  yang punya group WA per kelas anak,  yang tak jarang meminta orang tua lain untuk mengirimkan tugas apa yang harus dikerjakan anaknya untuk besok. Sehingga orang tua jaman sekarang was-was kalau-kalau anaknya belum mengerjakan PR ataupun mempersiapkan ujian. Jangan-jangan gara-gara orang tua terlalu terlibat, si anak menjadi enggan untuk bertanggung jawab? 

Back to the story, kemudian bapak dan mamah selalu membuat standard nilai dan merupiahkannya sebagai hadiah tambahan uang jajan. Dulu nilai 7 dapat 1.000, 8 dapat 2.000, dan 9 dapat 5.000. Karena kami di keluarga 3 bersaudara, kami tak jarang berlomba untuk menjadi yang paling banyak mendapat nilai 8 atau 9 dengan begitu memperoleh tambahan uang jajan. Uang jajannya pun bebas kami belanjakan, tanpa ada aturan tambahan. Walau yang dinilai hanyalah nilai raport, tapi saya belajar bahwa nilai raport merupakan hasil dari sebuah proses yang panjang dalam catur wulan atau semester. Sehingga di akhir acara pembagian hadiah raport, saya dan abang adik saya diminta membuat komitmen sendiri, apa yang hendak dilakukan untuk semester berikutnya. Ini bukan komitmen orang tua yang diminta diikuti dan diucapkan oleh anaknya, tapi benar-benar kami anak-anaknya diminta mengarang dan mengatakannya sendiri. Bertanggung jawab terhadap ucapan sendiri membuahkan tanggung jawab yang besar, walaupun dulu kami semua masih anak-anak. 

Tapi point utama yg kami anak-anaknya dapat bukan soal penting uangnya, tapi bagaimana orang tua begitu memperhatikan detil nilai dan prestasi, serta pentingnya ilmu dan sekolah. Uang hanyalah reward, bukan tujuan utama hidup ini.

Terima kasih buat hadiah raportnya, Bapak Mamah. Hadiah yang dinilai bukan dari jumlahnya tapi dari maknanya. 

You May Also Like

0 comment