Dicukur oleh Bapak

by - November 18, 2015

Salah satu cerita masa kecil sampai remaja yang tidak pernah terlupakan bagiku adalah cukur rambut. Hal ini menjadi sebuah kebiasaan yang maksimal 2 bulan sekali dilakukan. Dan yang paling berkesan bagiku yaitu aku hampir tidak pernah bercukur di tempat cukur di luar, aku bercukur di dalam rumah: dicukur oleh Bapak.

Dicukur oleh Bapak menjadi sebuah ritual yang unik. Bapak selalu sedia gunting putih untuk cukur. Gunting putih ini selalu teruji ketajamannya, dilengkapi dengan sisir seadanya untuk mengukur panjang pendeknya rambut yang akan dicukur.
Kursi bulat kayu untuk duduk supaya mudah untuk berputar. Kalau biasanya tukang cukur yang berputar, kalau dicukur oleh Bapak justru sebaliknya, aku yang dicukur yang berputar.
Tidak ada cermin di depanku saat dicukur, jadi pasrah saja model rambut seperti apa yang akan dihasilkan dari cukuran Bapak. Hehehe. Tapi biasanya model rambutnya standard, tidak terlalu kekinian, dan tidak juga terlalu kuno. Yah, memang model rambut kan begitu-begitu saja. Jadi aku selalu pede setelah dicukur oleh Bapak, karena aku yakin pasti oke.

Ritual dicukur oleh Bapak juga menjadi saat-saat dimana aku berbincang-bincang dengan Bapak secara personal. Pembicaraan antara Bapak dan anak laki-laki. Karena adikku perempuan, maka cuma aku dan abangku yang dicukur oleh Bapak. Menit-menit perbincangan bisa menjadi saat menegangkan tapi juga santai, karena Bapak biasanya melontarkan diskusi-diskusi ringan dan tidak tajam. Terlebih saat aku sudah remaja, jarang sekali Bapak memberikan instruksi, lebih kepada mendengarkan cerita apa saja yang terjadi di sekolah dan pergaulan. Suasana diskusi kadang diselipi oleh suasana hening. Aku memang lebih sedikit bercerita kepada Bapak.

---

Kemarin aku membeli hair clipper. Tujuan awalnya adalah untuk mencukur facial hair yang belakangan aku sengaja tumbuhkan, kumis dan jenggot. Aku merasa kesulitan mencukurnya jika dengan pisau cukur maka akan cukur habis, which i don't want it. Kalau pakai gunting, cenderung tidak rapih. Maka aku mencari hair clipper dari phillips yang bagus dan akhirnya dibeli saat ada promo di lazada.

Di tengah perjalanan, aku berpikir, kenapa tidak sekalian aku mempraktekkan untuk mencukur anak laki-lakiku Reigo yang memang kebetulan rambutnya sudah agak panjang. Akhirnya tadi malam begitu alatnya sudah sampai, aku dengan setengah memohon bilang kepada Reigo untuk mau dicukur rambutnya olehku. Dia mau.

Ambil lokasi di kamar mandi, karena waktu juga sudah malam sepulang aku kerja. Memang rambut-rambut bisa membuat saluran air mampet, tapi aku akali dengan memungut potongan rambut yang jatuh dan membuangnya ke tempat sampah.

Reigo kulepas bajunya, sama saat aku dicukur oleh Bapak. Alasannya supaya rambut tidak menempel di baju dan susah dicuci. Dulu aku mencuci pakaian sendiri, jadi aku tahankan gatal-gatal karena potongan rambut menempel di leher pundak punggung demi supaya tidak susah mencuci baju.
Tapi untuk kasus Reigo, hal ini membawa kesulitan. Karena Reigo protes dan sempat mau menghentikan proses cukur karena gatal dan merasa tidak enak dengan potongan rambut yang kena kulitnya. Akhirnya aku harus membersihkan potongan rambutnya dulu, baru dia mau lanjut lagi.

Kesalahan kedua, aku langsung memakai ketebalan clipper agak pendek. Seharusnya di awal menggunakan ketebalan yang standard dulu, baru kemudian diperkecil.

Tapi overal, hasilnya tidak terlalu jelek. Rambut Reigo terlihat lebih rapih dan keren. There will be always the first time, right?



You May Also Like

0 comment