Proyektor

by - October 07, 2015

(tulisan untuk partisipasi di lomba menulis surat ulang tahun GBKP Bogor ke-35). 

Yang terkasih sahabatku,
Gereja Sembiring.

Selamat Ulang Tahun, bro! Tambah gemuk, tambah tinggi, dan tambah besar hehe. Tahu tidak? Aku tiba-tiba terbangun pukul 03.50 dinihari, kok bisa pas dengan umurmu ya? Daripada tidur lagi, kuputuskan menulis surat ini sekaligus mengingat-ingat kejadian lucu saat hari minggu kemarin.

Seperti biasa aku mengikuti kebaktian di gereja. Mengambil tempat agak di tengah, khawatir kalau duduk di belakang banyak yang mengobrol dan membuat tidak konsentrasi. Aku duduk dengan manis di bangku dan kagum saat sadar ada proyektor baru di gereja. Wah, keren! Pastinya akan mempermudah jemaat untuk mengikuti kebaktian minggu. Tapi, pelan-pelan kudengar suara berbisik dengan nada yang sedikit serak-serak horor di belakangku membicarakan proyektor baru tersebut. Mereka berdiskusi mempertanyakan untuk apa proyektor itu dipasang, sok modern dan membuang-buang uang, serta membuat gereja tradisional menjadi seperti gereja kharismatik.

Sontak aku kaget dengan pembicaraan mereka berdua, tapi kepalaku tidak berani menoleh ke belakang karena dari suara mereka sepertinya usianya lebih tua dari aku. Aku hanya tersenyum sendiri sambil meyakini diri bahwa kebaktian sudah sangat lebih baik dengan keberadaan proyektor baru. Memang jenis orang berbeda-beda ya? Memasang proyektor di dalam gereja saja bisa menjadi topik pembicaraan yang hangat dan lucu. Akhirnya saat doa syafaat, aku sisipkan doa semoga dua orang di belakangku diberkati oleh Tuhan dan hidupnya bisa secerah sinar proyektor. Hehehe.

Nah, kejadian kedua, aku lupa bawa alkitab ke gereja! Gawat kan, ibaratnya petani mau pergi ke sawah lupa bawa cangkul, supir berangkat lupa bawa sim, lebah kembali ke sarang lupa bawa madu. Yang naasnya lagi handphoneku habis baterai, yang artinya alkitab digital pun tidak bisa dibuka. Lirik ke sebelahku, dia pun hanya bawa badan ke gereja alias tidak membawa alkitab juga. Harapanku satu-satunya adalah isi nats alkitab akan ditampilkan di proyektor baru gereja. Pendeta pun menaiki mimbar dan mau mulai khotbah. Eng-ing-eng, aku deg-deg-an menatap layar proyektor baru. Dan, ugh! Yang ditampilkan hanya nama Pendeta yang khotbah dan natsnya saja, isinya tidak ditampilkan. Aduh! Memang sih salahku tidak membawa alkitab dan lupa men-charge handphone. (Ampuni aku, Tuhan!). Tapi apa salah ya menampilkan isi nats alkitab di layar proyektor? Bukankah tujuan utamanya adalah supaya firman Tuhan bisa dibaca oleh orang banyak? (Termasuk jemaat yang lupa bawa alkitab seperti aku hehehe).

Aku jadi teringat dengan cerita di negeri jiran saat membaca alkitab dilarang, lembar-lembaran alkitab bahkan dirobek-robek, digulung, dan diselipkan di bagian rahasia tubuh agar supaya isi alkitab tersebut bisa dibawa, dibaca dan ditukar ke sesama anak Tuhan yang rindu membaca alkitab. Ya, semoga kedepannya proyektor baru gereja bisa menampilkan isi nats alkitab, bahkan kalau bisa menampilkan isi khotbah dari pendeta. Wih!

Kebaktian hari itu diakhiri dengan bersalaman dengan pendeta dan keluar dari gedung gereja, bersamaan dengan berhamburannya anak-anak selesai kebaktian sekolah minggu. Dalam hatiku berujar, di luar gedung gereja ini lah dunia sesungguhnya, tantangan sesungguhnya. Kalau mengingat kejadian saat kebaktian sulit konsentrasi karena ada diskusi tentang proyektor dan lupa membawa alkitab pastilah aku keluar dari gedung ini dengan muka datar dan tertekuk. Tapi kemudian aku tertegun saat melihat anak-anak sekolah minggu dengan muka yang begitu ceria dan bahagia selesai mendengar cerita tentang Alkitab. Mungkin memang aku harus menjadi seperti anak-anak saat datang kepada Tuhan.

Di luar gedung gereja ini pasti lebih banyak lagi omongan orang lain dan tantangan yang menghadang, yang paling penting adalah menghadapinya dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan. Yakin bahwa Tuhan pasti memberikan pertumbuhan iman dalam setiap musim kehidupan.

Fiuh, matahari sudah terbit. Saatnya aku mengakhiri surat ini, semoga di hari tambahnya usiamu ini kamu bisa menjadi seperti proyektor baru di gerejaku, tetap memancar dan bersinar walau di tengah dunia yang gelap dan kelam, dan pancarannya menampilkan keceriaan dan kebahagiaan senantiasa. Sampai kita bertemu lagi di surat selanjutnya ya sahabat. GBU.

Sahabatmu,
Julbintor Kembaren. 

source: http://gbkpbogor.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=115

You May Also Like

0 comment