Kutambelin Trip 2014

by - August 27, 2015

Sayang rasanya kalau kisah ini tidak diceritakan. Sebuah perjalanan yang punya sejarah tersendiri dalam hidup ini.

Kami sekeluarga; istri beserta anak-anak, pulang kampung ke tanah kelahiran orang tuaku, namanya KUTAMBELIN. Di google maps mungkin lokasi ini tidak ada, karena memang lokasinya yang cukup jauh dari peradaban dan di daerah gunung.


Berangkat ke Medan. 
Kita semua berangkat ke medan dulu, menemui Mama dan Mami (mertua). Mama dan Mami menyambut kami dengan gembira, terlebih bertemu dengan cucunya. Selagi di sana, kita memang sekalian menghadiri beberapa acara, termasuk acara baptisan keponakan, rumah baru silih yang baru menikah, dan bertemu keluarga-keluarga lainnya.

Acara inti dalam rangka Natal dan Tahun baru pun cukup banyak. Susunan acara per tanggal sudah diatur supaya kami bisa ikut dalam banyak kegiatan. Keluarga Barus dan Anak berunya sudah siap untuk jalan-jalan!

Trip yang direncanakan adalah menuju Tangkahen; daerah konservasi gajah yang cukup jauh di daerah bahorok), dan Pasir putih yang ada di samosir. Wow, ini baru pertama kali kami ke sana, pasti akan seru.


Siantar
Perjalanan pertama dari medan kami menuju Siantar. Di sana ada rumah Mama Tua (abang dari Bulang Fhea) dan juga Bapak (adik dari Bulan Fhea) yang rumah nya berdekatan. Udara di siantar ternyata masih sejuk. Enak sekali tinggal di sana. Setelah berkunjung ke rumah saudara-saudara, kami menginap disitu. Besoknya kami bersiap menuju Pasir Putih, Samosir.

Pasir Putih
Keesokan harinya, kami bersiap menuju pasir putih yang lokasinya di Samosir. Kita harus ngantri menyebrang naik kapal Ferry. Setelah sampai di sana, langsung menuju lokasi pasir putih. Yang istimewa dari pantai ini adalah karena pantainya cukup lebar, jadi kita sudah di tengah pun, tinggi airnya masih se dada, jadi seru sekali. Di pasir putih ini kita naik banana boat, anak-anak bermain pasir dan air sepuasnya.
Disini juga kita merayakan ulang tahun Reigo yang ke-4. Seru sekali dirayakan bersama dengan kalimbubu semua.
Aku juga sebagai anak beru bertugas membawakan sebuah acara perminan dan perenungan bertepatan dengan acara tutup tahun baru. Aku buat acara games loncat-loncat, tiup plastik. Untuk perenungan, aku buat positif thinking untuk ditulis di dalam kertas setiap orang. Syukurlah mereka tampak semua senang dan gembira. Dan tahun 2015 pun di buka di Pasir Putih.

Tangkahen
Lokasinya cukup jauh. Dari siantar, kami menuju ke arah Bahorok. Di sini Mama (Mertua) yang menyetir, katanya nanti saja pulangnya aku yang menyetir. Di perjalanan aku nyalakan Google Maps untuk tahu berapa lama sampainya. Lokasinya mengarah melewati perkebunan sawit juga. Sesampainya di sana suasananya sangat tenang, dan dipinggir sungai. Namun siang agak ribut karena banyak suara gergaji mesin sedang memotong batang pohon (penebangan liar?).
Tangkahen sendiri adalah lokasi konservasi gajah, jadi memang yang istimewa disini adalah gajahnya.
Anak-anak senang bermain di pinggir sungai, bahkan sampai mandi. Kita juga ikut dalam waktu memandikan gajah dan memberi makan gajah. Aku sendiri mencoba mandi di sungai dengan berendam. Airnya dingin sekali, kulitku yang memang tidak terlalu tahan dingin langsung alergi walau saat dihangatkan langsung normal lagi. Makan malam kami juga enak, diiringi dengan suara nyanyian dan gitar dari tourist guide yang sedang menghibur turis dari Korea, Jepang, dan New Zealand. Unik sekali pengalaman di tangkahen ini.

Kabanjahe
Pulang dari Tangkahen, kami mampir di Kabanjahe. Disana kami menginap di rumah Mami (istri dari Adek Mami) di jalan kalihara. Mama itu sudah meninggal, persis 2 hari saat kami mau pasu-pasu / pemberkatan pernikahan. Jadi setiap ke situ, pasti ingat Mama Uda itu dan masa-masa pernikahan kami. Pagi-paginya kami ziarah ke makam Mama Uda sambil berdoa bersama-sama.

Kutambelin
Perjalanan terakhir adalah Kutambelin. Ini perjalanan terjauh dan terseru dalam trip kali ini. Berangkatnya Bulang Fhea tetap mau menyetir, dengan alasan karena aku tidak tahu jalan. Bener juga sih. Sekali kami terhadang lahar dingin yang memang masih sering terjadi karena gunung Sinabung masih dalam proses meletus. Persis saat mobil kami akan melintaas, diteriakin oleh penduduk sekitar, dan persis di depan kami braaasssss meluncur lahar dingin dengan deras. Kalau saja kami memaksakan diri mungkin sudah terbawa hanyut. Puji Tuhan.
Akhirnya kami harus memutar arah dan mencari jalur alternatif. Disini Google Maps memang tidak ada duanya, disaat Bulang Fhea agak kebingungan karena salah jalan alternatif akibat mengikuti mobil orang yang asumsi kami mengarah ke kutambelin juga (wakakaka), walau memang Kutambelin-nya sendiri tidak ada di peta, tapi di google maps terlihat ada jalur lintas kabanjahe. Kita mengarah ke jalan besar tersebut, dan benar. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke kutambelin. Perjalanan cukup melewati jalan terjal, Fhea Reigo yang duduk di belakang bersama Bibinya sampai bermain jungkir balik sanking terjalnya jalan yang dilewati.
Malam hari kami sampai di Kutambelin, disambut oleh keluarga dengan sukacita. Disitu kami mengunjungi Mamak Tengah, Bibi Tengah, Kila, dan Pak Uda / Pak Cik. Bertemu keluarga disana sungguh bersyukur, karena walau bagaimanapun ini lah kampung Bapak saya, kampung Laki-nya Fhea Reigo.

Aku bilang ke Fhea dan Reigo, lihat betapa jauhnya Kutambelin dari kota, bahkan dari Bogor. Tapi perjuangan Laki untuk pergi sekolah, kuliah untuk bisa maju yang membuat kita semua bisa tinggal di bogor. Kalian harus bersyukur bisa hidup di kota bogor sekarang, sekolah di tempat yang sekarang, dan harus rajin belajar. Perjalanan yang jauh ini adalah perjalanan mengingat perjuangan orang tua kita yang luar biasa hebatnya untuk sekolah dan untuk tetap maju. Ini yang harus kita ingat dan teladani.

Walau mereka belum terlalu mengerti, tapi setidaknya saat ditanya oleh orang lain kampungnya dari mana, mereka sudah bisa bilang dengan pasti Kutambelin, dan mereka sudah pernah ke sana.

Pulang dari Kutambelin, mobil tidak bisa naik tanjakan karena licin sekali jalan tanahnya. Untungnya feeling so goodnya Kila yang memang hendak berangkat ke ladang juga berbarengan dengan berangkatnya kami. Seolah memang sudah punya firasat, mobil akhirnya membantu mobil kami naik ke tanjakan. Ada kurang lebih 5 kali percobaan, yang mengakibatkan tali tambang terputus. Untungnya tidak ada kecelakaan. Fhea dan Mami harus turun ke bawah juga. Untung ada pekerja dari Pinus yang lewat dengan membawa motor. Akhirnya Kila minta dia pergi ke kampung dan membawa tali tambang yang besar. Dan Puji Tuhan berhasil.
Saat sudah berhasil, muncul masalah baru, ban terdengar suara kempes. Tadinya mau didongkrak disitu, tapi Bulang Fhea bilang nanti saja di Tiga Nderket di bengkel ban, sepertinya masih kuat.

Di tanjakan berikutnya mobil pun kembali tidak kuat. Memang mobilnya Pajero Sport, tapi tidak double gardan. Jadi harus dibantu di dorong. Mami yang membantu dorong terpaksa harus bermandi lumpur karena ban berputar kencang untuk menanjak. Kami membersihkan badan di pancuran dekat situ.

Sampai di tiga, ban kempes pun ditambal. Aman. Perjalanan yang luar biasa!



You May Also Like

0 comment