Exam pertama

by - August 12, 2015




Hari ini exam pertama di masa kuliah S3. Rasanya semeriwing!

Bagaimana tidak? Ujiannya dikerjakan di rumah, dan hari ini Rabu deadline dan harus dikumpulkan via email ke Prof. Sementara Prof baru mengirimkan intisari ujian yang harus dikerjakan itu Senin siang, yang adalah membuat paper sesuai dengan outline disertasi dengan topik Higher Education, halaman minimal 20, dan semua references dan jurnal ikut dikumpulkan.

Alhasil sanking paniknya sampai tidak tahu harus berbuat apa (kaya lirik lagu ya?). Hari ini dikumpul, yang ada malah aku menulis blog. Wakakakakaka.

Hari senin malam memang sudah mulai kukerjakan, tapi ternyata memang bahwasanya demikian sehingga menulis itu lebih sulit dari yang dikira. Kemudahannya hanya saat tulisan tersebut ada dipikiran, ketika dituangkan menjadi bentuk tulisan hambatannya bejibun! Ya main handphone, ya ngantuk, ya main dengan anak, ya nonton tv, ya buka facebook, termasuk menulis blog ini juga godaan kali ya.

Jadi teringat saat masa-masa SD kalau sedang mengerjakan PR. Paling berat adalah masa-masa kemarau. Kenapa? Karena masa kemarau berarti masa dimana musim layangan. Itu adalah masa terberat, saat mengerjakan PR didendangkan lagu suara layangan di luar sana, suara teman-teman yang teriak mengejar layangan, suara angin kencang yang berarti surga buat para pemain layangan. Aduh, bener-bener godaan banget dah. Layangan benar-benar membuat aku tidak konsentrasi mengerjakan PR, jangankan mengerjakan PR, saat EBTANAS pun aku tetap menyempatkan diri bermain layangan.

Aku suka sekali bermain layangan VS Aku harus mengerjakan PR.
Sering para motivator bilang bahwa kerjakanlah yang menjadi passionmu.
Man!!! Kalau ditanya passion gua, ya bermain layangan lah. Siapa juga yang mau menjadikan PR sebagai passion. Jadi bener-bener itu teori salah.

Passion kalau aku artikan keinginan hati dan kemauan yang terdalam.
Para motivator bilang, paling enak bekerja jika pekerjaan sesuai dengan passionnya.
So brooo, kalau passionnya nonton film porno, apakah harus menjadi bintang film porno?
Sekali lagi teori yang melenceng.

Image result for purpose driven life

Jadi teringat dengan sebuah buku bagus yang menjelaskan sebenarnya apa yang harus kita kerjakan, apa yang harus kita pilih. Ini buku aku baca pertama kali sampai habis saat kuliah S1 kalau tidak salah. Kemudian ku baca kali yang kedua saat masa-masa pacaran dengan istriku sekarang, pacaran jarak jauh Bogor-Bandung bisa direkatkan dengan membaca buku 1 hari 1 chapter dari buku ini.

Salah satu intisari yang aku ingat dari buku ini bahwa hidup adalah penugasan sementara. Ini terefleksikan dari semua contoh kehidupan di Alkitab bahwa masing-masing orang memiliki tugas dari yang mencipta.

Jadi intinya adalah bertanya kepada Tuhan apa tugas kita hidup di dunia, bukan justru fokus pada diri kita dengan saklek dengan passion-passion kita. Tugas jika diberikan, maka akan dibekali dengan perlengkapan yang cukup oleh yang memberi tugas. PR yang aku kerjakan saat SD pastinya merupakan soal yang teorinya sudah diajarkan di kelas dan perlu diimplementasikan lebih ke dalam jenis atau bentuk yang lain.

Jadi, instead of kerjakan apa yang menjadi passionmu, bukankah lebih baik diganti menjadi "kerjakan apa yang menjadi tugasmu" ?

*ayokerjainujiannyatooooorrrrrrr*

You May Also Like

0 comment