Allah yang besar dan heran!

by - August 18, 2015



Cerita sedikit ala mahasiswa, tentang kejadian ujian kemarin hari sabtu.

Memang kuliah S3 sampai sejauh ini yang kupahami kurang lebih dituntut skill menulis yang tinggi, merenung, mengarang dan menghayal yang tinggi, dan merangkai point-point yang ada supaya memiliki makna dan berdasarkan teori yang ada untuk kemudian menciptakan kebaharuan ilmu. People call it philosophy. Dengan mempelajari filosofi, kita para calon doktor diajar untuk menjadi rendah hati. Karena kemudian kita paham, bahwa tidaklah memungkinkan untuk mengemukakan sebuah teori adalah yang paling benar dan orang lain salah, karena di atas ilmu ada ilmu yang lain, diatas teori ada teori lain.
Jadi kalau ada yang bilang orang yang suka dengan ilmu atau science, tapi tingkahnya sombong, merasa paling benar, suka menyalahkan orang lain, menganggap orang lain rendah, dan membuat agar orang lain melihat dia sosok yang hebat, itu justru tingkatan orang yang jika ditinjau dari sisi keilmuan filosofi merupakan strata paling rendah.

Ujian pertama tentang conseptual, 30 menit close book dan mulai mencatat di kertas semua jawaban yang memungkinkan. Karena sudah lama juga tidak menulis fisik di kertas, terbiasa dengan mengetik, maka yang paling dirasakan bukan susah soalnya, tapi pegal tangannya.

Ujian kedua open book, internet access. Kita diminta membuat sebuah paper dengan 3 variabel yang bisa dipilih. Diberi waktu 2 jam untuk menulisnya. Disaat aku berpikir disini bagian tersulit dari ujian, ternyata bukan. Langkah awal aku mulai memilih variabelnya dan menentukan judulnya. In the mean time, aku mulai peering internet ke handphone, login ke pro quest dan emerald untuk siap-siap mencari jurnal yang berkorelasi dengan topiknya. Juga aku buka folder yang berisi jurnal-jurnal yang sudah aku pernah baca dan dibuat summary nya. Saat semua sudah siap untuk dimulai, aku mulai menulis dan mereferensikan. Dan all the sudden, jurnal-jurnal yang semuanya dalam bentuk .pdf tersebut tidak bisa dibuka. PANIK! Aku langsung pikir aku tidak memiliki pilihan lain selain acrobat reader.
Akhirnya aku restart windows. Saat di restart, windows ternyata melakukan instalasi windows update which is memakan waktu. Aku menunggu sambil berdoa di setiap kenaikan % dari updatenya, it takes around 10 minutes. Sampai juga ke 100%. Setelah login, aku buka lagi .pdf jurnalnya, TETAP TIDAK BISA! Oh no! Akhirnya aku berdoa. Aku menyatakan ketidak mampuanku untuk melakukan ini, mengaku berdosa dan tidak berdaya tanpa Tuhan. Barulah aku mulai tenang dan berpikir jernih. Kalau acrobat readernya tidak bisa, kenapa tidak open with aplikasi lain? Akhirnya aku pakai reader bawaan dari windows. Problem solved! Praise the Lord!

Aku menghela nafas, dari sekian banyak kemungkinan hidup yang bisa terjadi di dalam ujian kuliah, Tuhan memilih cara acrobat reader tidak bisa dibuka, untuk menyadarkankan tetap merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kepanikan saat itu tiba-tiba membuat akal budi tidak berfungsi, dan mendangkalkan kreativitas. Padahal di waktu yang lain, kepanikan bisa meningkatkan adrenaline dan meningkatkan performa. Sungguh Allah yang besar dan heran!



You May Also Like

0 comment