Pelajaran Kekalahan Fhea

by - April 21, 2015

Hari minggu kemarin Fhea diikut sertakan lomba mewarnai lagi mewakili Regina Pacis Bogor. Setelah kemarin juara 2 dari 200 peserta, kali ini pesertanya tidak terlalu banyak dan hanya dari 3 TK di Bogor.

Juara 1 akan mendapatkan uang tunai 1juta, juara 2 hadiahnya 750rb. Kami orang tua sudah menjanjikan membelikan Fhea sepeda baru jika berhasil menjadi juara. Dalam hatiku aku pun yakin anakku pasti akan juara, setidaknya 3 besar.




 


Fhea pun tidak terlihat tegang, dia cukup santai memulai mewarnainya sesuai dengan apa yang sudah dia pelajari dan latih selama ini. Crayonnya diletakkan dengan baik dan cara dia mewarnai sangat santai dan tenang. Kami orang tua mengambil tempat agak jauh dari dia, karena memang arena mewarnai tidak boleh dimasukki oleh orang tua.

Selama lomba berlangsung, aku dan istri pun sering tergoda untuk memberikan komentar ke Fhea, bahwa dia kurang cepat, agak terlalu teliti, waktunya sudah mau habis, takut tidak selesai, dll. Bermacam-macam pikiran "merasuki" kami orang tua untuk setidaknya mengarahkan Fhea untuk melakukan apa yang kami pikirkan. Beberapa kali juga aku mencegah istriku untuk menuju ke meja Fhea untuk memberikan komentar atau sedikit tekanan supaya dia mewarnai lebih cepat selesai dan tidak menghabiskan waktu untuk terlalu rapih.

Selanjutnya saat 15 menit lagi kata MC, kami lihat dari kejauhan gambar langitnya masih putih kosong dan belum diwarnai. Istriku mulai panik dan ingin kesana, katanya memang Fhea itu harus agak ditekan sedikit, dia belum tahu Pah kalau waktunya mepet, dan lain-lain alasannya. Aku bilang tidak usah, dia pasti tahu, kita harus belajar percaya sama dia. Aku sendiri bukannya tidak khawatir atau panik, aku berusaha mengalihkan perhatianku dengan bermain tanding game dengan Reigo. Beberapa kali juga aku terpaku memperhatikan Fhea dan pikiranku berkecamuk sampai-sampai aku tidak memperhatikan pertandingan game yang sedang berlangsung dengan Reigo.

Di akhir waktu, kami orang tua tetap tidak bisa menahan diri. Aku dan istri ke arah Fhea, dan lagi-lagi tidak tahan untuk berkomentar. Aku bilang tentang ban yang terlalu hitam. Fhea protes bahwa memang begitu, tapi akhirnya dia dengan sedikit kesal mewarnai tengahnya dengan warna abu-abu. Overall gambarnya bagus, gradasinya juga halus. Kami tidak melihat hal yang salah di situ untuk anak seusia dia.

Sampai akhirnya pengumuman. Aku dan istriku tidak sengaja melihat bagaimana panitia melakukan seleksi pemenang, karena itu mereka lakukan di pintu resepsionis showroom mobil. Kami sepintas memang melihat bahwa panitia terlihat agak sedikit asal dalam memilih pemenang. Tapi kami tidak mau beralasan dan mencoba bersikap menerima.

Pengumuman berlangsung. Fhea mengajak temannya mengambil tempat agak di depan untuk mendengarkan pengumuman. Satu-persatu pemenang diumumkan dari juara harapan 3 ke juara 1. Teman Fhea termasuk dipanggil menjadi juara harapan 2. Kami bisa melihat di kejauhan bagaimana Fhea sangat berharap sekali, walau tetap tenang, untuk menjadi juara. Kami pun yakin walau aku dan istri sudah mulai berdiskusi bagaimana kalau tidak menang dan bahwa kita harus bisa membuat dia tetap gembira.

Juara 1 dipanggil agak lama. MC nya bilang namanya agak susah disebut. Fhea tampak tersenyum, mungkin dia merasa itu dia. Tapi memang kenyataannya bukan nama Fhea yang dipanggil. Kami lihat dari kejauhan dia tertegun dan tidak berani melihat ke arah kami orangtuanya. Ada 1 menit dia memandang lurus ke depan. Sampai akhirnya dia memandang ke arah kami dan berjalan ke arah kami. Dia kemudian memelukku dan mulai menangis. Aku pun tak kuasa ikut bersedih, tapi terus membisikkan hal-hal yang menyenangkan dan membuat dia tetap semangat, bahwa itu hanya lomba, masih ada kesempatan yang lain, gambarnya sudah bagus sekali, dan tidak perlu terlalu lama bersedih. Setelah Fhea sedikit reda, memang dia tidak menangis meraung-raung, jadi lebih tenang, kami minta dia memberikan selamat kepada temannya yang juara. Dia awalnya tidak mau, tapi akhirnya bersedia. Kami lihat cukup berat baginya menerima kenyataan bahwa dia kalah, tapi hari itu memang kekalahan lah yang menjadi pelajaran buat dia, bahkan buat kami orang tuanya.

Makna kekalahan hari itu berlanjut saat di mobil. Kami lagi-lagi orang tua tidak tahan untuk memberikan komentar bahwa "gambarnya bagus, hanya...". Kalimat itu sontak membuat Fhea menjadi marah lagi dan mengena hatinya sehingga justru membuatnya menjadi kembali "marah dan menangis", dan dia menyatakan bahwa dia sudah berusaha sekuat tenaga. Akhirnya kami tidak lagi membahasnya sampai dia lebih tenang.

Hari itu memang pelajaran dalam tentang kekalahan. Kami orang tua belajar melepas anak kami berlomba dengan kemampuannya sendiri, padahal banyak orang tua yang lain saat berlomba duduk di samping anaknya dan mulut tidak berhenti berkomentar dengan instruksi sepanjang perlombaan. Beruntung kami tidak seperti itu, walau kedepannya kami harus lebih menahan diri.

Aku jadi ingat kala aku kecil mengikuti lomba apapun di sekolah. Memang jarang sekali diantar oleh orang tua. Tapi jika Bapak dan Mamah ikut mengantar, saat lomba berlangsung aku tidak pernah bisa melihat mereka ada dimana. Jadi saat berlomba memang aku "dipercaya oleh orang tuaku" untuk melakukannya sendiri. Ketika lomba selesai, mereka muncul entah dari mana untuk menyambutku. Terlebih saat memilih sekolah, walau orang tuaku guru dan dosen, tapi mereka tidak pernah ikut campur terhadap pilihan sekolah anak-anaknya. Apa yang kami pilih, itulah yang terjadi dan dijalani. Tidak ada kamus pindah sekolah karena menurut orang tua itu sekolah yang lebih baik. Aku sekolah di sekolah yang kurang populer saat itu, aku tidak masuk ke SMP 1 atau SMA 1, tapi justru di SMP 2 dan SMA 3 yang dahulu tidaklah nomor 1. Sementara dulu aku bisa melihat banyak orang tua yang berlomba-lomba memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang paling bagus, padahal hal itu tidaklah otomatis membuat si anak menjadi paling pintar.  Aku sedari kecil sudah "diberi kepercayaan" untuk mengandalkan kemampuanku, orang tua ku ternyata sedari aku kecil sudah memupuk bahwa aku dipercayai oleh mereka untuk melakukan hal-hal dalam hidupku dengan kemampuanku sendiri. Hal ini tidaklah mudah.
Hal ini membuat karakter "bisa karena kemampuan sendiri" muncul dan menguat sampai hari ini.

Pelajaran kekalahan Fhea menguatkan memori dan pelajaran hidup lagi dari orang tua, bahwa sampai hari ini apa yang mereka dulu pupuk dalam kehidupanku, aku harus ajarkan juga ke anakku.

Terima kasih buat orang tuaku. Terima kasih Tuhan.

You May Also Like

0 comment