Go Public

by - March 12, 2015

Hari ini aku "Go Public", artinya berangkat dan pulang kantor menggunakan transportasi publik.
Kantorku berada di daerah arteri Pondok Indah, persisnya sebelum gandaria city.
Jadi rute perjalanan yang kutempuh: Bogor - Pondok Indah.



  • Pagi-pagi aku berangkat dari rumah bareng dengan berangkat Fhea dan Mamahnya. Sampai di terminal barangsiang langsung menuju bus Agra Mas, bus warna merah, jurusan Bogor - Lebak Bulus. 
  • Bus ini "ngetem" sekitar 20 menit menunggu sampai busnya penuh. Tarif Rp 16.000
  • Bus berangkat dari terminal bogor, dan masuk ke rest area sebelum sentul dahulu. Disitu ada timer yang cek jumlah penumpang. Uniknya ternyata sekarang cek jumlah penumpang harus difoto juga, jadi si timer melakukan 3-4 kali foto jumlah penumpang. 
  • Bus masuk JORR. Keluar di ragunan untuk menurunkan penumpang, dan kemudian masuk lagi ke tol. 
  • Bus keluar tol di POINTS. Aku turun disitu. Walau sebenarnya aku terlalu cepat turunnya, aku turun persis saat dia keluar tol karena berbarengan dengan penumpang yang lain, seharusnya bisa turun mendekati lampu merah supaya bisa lebih dekat. 
  • Setelah turun aku mendekati pangkalan ojek untuk menanyakan tarif dia sampai ke arteri pondok indah dekat gandaria city berapa. Mas ojek buka harga Rp 30rb. Aku tawar 20rb dia tidak mau. Akhirnya aku memutuskan untuk menyebrang ke arah arteri untuk mencoba mencari bus. 
  • Setelah nyebrang, aku tanya lagi ke orang, bus apa yang lewat arteri terus, karena setahuku banyak yang belok ke kiri. Ada yang bilang 13, ada yang bilang 102. Aku memutuskan untuk menunggu sejenak bus-bus tersebut. 
  • Tunggu sekitar 15 menit, bus tidak datang. 
  • Akhirnya aku jalan dari halte ke arah pangkalan ojek di dekat situ, pricing strategynya masih sama. Dia buka Rp 30rb, aku tawar 20rb. Dia tetap tidak mau, dengan alasan sudah biasa. Akhirnya aku menyerah dan melihat bahwa memang sudah seperti itu kisaran harganya. 
  • Ojek mengambil rute memutar dari BCA dan perumahan untuk menghindari macet. 
  • Sampai di kantor sudah melewati jam masuk, tapi tidak mengapa karena masih dalam kondisi mencoba transportasi publik. 

Rangkuman dari Go Public dari Bogor - Pondok Indah hari ini adalah:
  • Naik bus Agra Mas, turun di POINTS. Tarif Rp 16.000
  • Naik ojek, turun di depan kantor (sebelah Mitsubishi). Tarif 25.000
  • Total pengeluaran 1 trip no return: 16+25= Rp 41.000 
  • Total pengeluaran 1 trip return: 41x2= Rp 82.000
Jika dibandingkan dengan perjalanan menggunakan mobil pribadi;
  • Tol BORR. Tarif Rp 5.500
  • Tol Sentul City. Tarif Rp 8.500
  • Tol JORR. Tarif Rp 8.500
  • Bensin 3 hari Rp 210.000. Per hari: 70.000. Per one trip no return: 35.000
  • Total pengeluaran 1 trip no return: 5.5+8.5+8.5+35 =Rp 57.500
  • Total pengeluaran 1 trip return: 57.5x2=Rp 115.000 
Penggunaan transportasi publik dengan mobil pribadi selisih Rp 33.000. Tapi itupun bisa dikompensasi dengan ketepatan waktu jika menggunakan mobil pribadi. 

Memang menarik masalah transportasi publik, jika dinilai dari kacamata saya: 
  • Transportasi publik seharusnya gaji pegawai atau supirnya dibayar per jarak tempuh, bukan setoran yang didapat per banyaknya penumpang. Dengan menerapkan hal ini tentunya jasa transportasi publik akan bisa berbenah dan lebih teratur dalam operasional. Ambil contoh seperti lama ngetem bus di terminal bisa dikurangi dari 20 menit menjadi 5 menit saja, sehingga waktu tempuh bus lebih banyak beroperasi di jalanan, bukan yang ngetem di terminal. 
  • Kepastian waktu keberangkatan sangat menentukan. Dengan menerapkan gaji pegawai dibayar per jarak tempuh, keberangkatan bus bisa diatur dengan baik dan sudah pasti. Dampaknya tentunya tidak serta merta maka bus tersebut akan selalu penuh setiap jam keberangkatan, bisa jadi di jam-jam tertentu busnya akan tidak penuh atau relatif kosong. Tapi tentunya hal ini menciptakan kepastian buat pelanggan dan juga calon pelanggan. Pelanggan akan semakin nyaman dengan kepastian keberangkatan dan bisa mengatur waktu, dan calon pelanggan lama-kelamaan akan tahu bahwa mereka punya alternatif yang pasti waktu berangkatnya.  
  • Biaya sewa di terminal bisa ditekan oleh penyedia jasa. Dari pihak terminal bisa secara terkoordinasi menerapkan regulasi juga dengan menaikan sewa di terminal yang akhirnya memaksa penyedia jasa transportasi mempersingkat bus mereka berada di terminal.
  • Hasilnya tidak bisa secara sekaligus dinikmati. Tapi berangsur-angsur para pengemudi kendaraan pribadi bisa beralih ke transportasi publik. Karena sebenarnya kenikmatan berkendara pribadi hanyalah kepastian waktu dan kenyamanan sampai tujuan. Di transportasi publik saya hari ini, saya bisa tidur 30 menit dan membaca 1 jurnal pagi ini di atas bus. Tentunya bagi saya ini lebih nikmat dibanding dengan harus menyetir dalam kondisi macet. Tapi sisi tidak enaknya muncul saat transportasi publik ini tidak diintegrasikan dengan moda transportasi lanjutannya, sehingga saya terpaksa naik ojek yang ongkosnya jauh lebih mahal demi untuk mencapai tempat tujuan tepat waktu. 



You May Also Like

0 comment