Still Got The Blues

by - November 27, 2014



Siang ini di luar hujan deras sekali. Sambil kerja sambil dengerin lagu mas Gary Moore "Still Got The Blues". Cry, guitar cry...lagu yang sangat menyayat hati. Menyimak mas Gary Moore ini, jadi teringat kejadian yang selalu diingat sepanjang masa (keya-sedi-sema).

Aku masih mengenakan seragam celana pendek warna biru tua, dan kemeja putih kucel dengan bagian ketiak agak lebih hitam dari yang lain akibat penggunaan deodorant yang tidak sebagaimana mestinya. Maklum masa-masa abg, pengen wangi, beli deodorant tapi ga tau cara pakenya. Harusnya diolesin di kulit ketiak, malah diolesin di baju bagian ketiak.

Pulang sekolah aku langsung bergabung bersama teman-teman band. Nama band ku Avonturir, namanya sesuai dengan usulan dari vocalis band ku namanya Ivan Fahlepi. Akibat dia juga, aliran band kami yang skill-nya masih pas-pasan jadi dipaksa untuk membawakan lagu-lagu Aerosmith. Itu lagu yang kerumitannya amat sangat banget. Itu menjadikan kita bukan tipe band yang membawakan lagu-lagu top 40 yang disukai para remaja saat itu, dan karena sok-sokan juga kami suka menertawakan band-band lain yang membawakan lagu-lagu dewa 19 yang kami nilai kurang ber-skill dan cengeng. Padahal kami pun membawakan lagu-lagu Aerosmith masih chord-chord dasar doang, belum atau lebih tepatnya tidak mampu mengulik sampai melodi yang persis sama ataupun variasi yang kurang lebih menyerupai.

Tempat latihan band kami bertempat di kemang. Studionya harus naik angkot nomor 13 berhenti di perhentian terakhir di atas tanjakan bantar kemang, dan berjalan sedikit ke studionya. Hari itu kami berlatih lagu "Cryin" -nya Aerosmith. masih dengan kondisi yang sama, vocalis pede bernyanyi lagunya, sementara aku pemain gitar memainkan chordnya dengan melodi-melodinya yang di skip karena belum diulik. Demikian juga dengan pemain bass kami Billy yang juga memainkan bassnya sambil memasang muka kebingungan. Apalagi pemain drum kami Asep yang lagi-lagi kali itu belum mengulik lagunya. Alhasil kami bermain sekenanya, yang penting enjoy.

Tiba-tiba masuk ke meja mixer ada 2 orang dewasa berambut gondrong yang melihat lewat kaca. Mereka langsung mengambil headphone yang ada di mixer untuk mendengarkan permainan musik kami. Mereka tersenyum simpul bahkan sesekali tertawa selagi berbicara satu sama lain sambil mengamati kami bermain. Hal ini tentu saja membuat kami yang bermain band menjadi grogi. Sambil bermain musik di dalam kami berdiskusi dan menebak-nebak, bahwa bagaimanapun juga orang yang di depan sedang melihat kami bermain sambil tertawa adalah pemain band kawakan sekawakan gondrong rambutnya. Tapi kami membuat prinsip saat itu, bahwa kami harus bermain se-cool mungkin, tanpa harus terganggu sedang diamati oleh mereka.

Selepas kami selesai bermain, mereka masih ada disitu. Terang saja kami yang masih grogi jadi tambah grogi. Tapi yang tak disangka-sangka mereka mengajak kami ngobrol duluan dengan ramah. Menanyakan kami dari smp mana, dan kok bisa-bisanya suka dengan musik-musik Aerosmith. Dan terjadilah pembicaraan yang santai dan penuh canda. Dari situ diketahui bahwa salah satu yang ada disitu adalah seorang pemain gitar kawakan. Entah kenapa aku langsung tertarik dan terpincut ingin les di dia. Aku minta alamatnya dan ternyata di dekat rumah.

Beberapa hari setelahnya kuberanikan diri datang kesitu bersama beberapa teman smp. Aku memang sudah niat ingin les gitar di situ walau aku tidak tahu seperti apa bentuk les dan skill si gurunya. Aku pertama kali les gitar di yamaha, tapi berhenti karena pelajaran setengah jam tapi gurunya hanya masuk 5 menit dan memberi latihan yang aku latih sendirian di ruangan. Kadang 5 menit itu pun digunakan untuk bercerita tentang sejarah gitar.

Lokasinya tempat lesnya ada di belakang smp di daerah malabar. Kami agak kesulitan mencari lokasi rumahnya, dan setelah tanya sini situ, akhirnya kami berhasil juga menemukan dan baru tahu bahwa si guru ini adalah anak dari penjaga sekolah di situ. Kami masuk ke situ, sebuah kamar kecil, penuh dengan gantungan baju sana dan sini. Si guru ini berambut gondrong, agak ikal, berkulit putih. Perawakannya tinggi dan kurus.

"Aku mau les gitar mas. Kira-kira berapa bayarnya sebulan?", kataku.
"Empat puluh lima ribu rupiah per bulan. Awalnya mendaftar dulu", kata si guru gitar.
"Oh berarti awal bayar dua kali ya, untuk les dan uang pendaftaran?", kataku lugu.
"Eh...iya...iya", katanya agak gugup.

Aku semangat langsung mendaftar. Sementara temanku yang ikut tidak jadi mendaftar karena masih ragu-ragu. Lagipula dia sudah les gitar klasik di yamaha yang relatif cukup mahal itu. Di perjalanan menuju rumah senang, sambil lantas berpikir, kok uang pendaftaran dan lesnya mahal ya? Jangan-jangan seharusnya bulan pertama tidak perlu bayar uang les, hanya perlu uang pendaftaran? Aduh!

Mulai lah aku les gitar di si guru ini. Cerita punya cerita dia memang pemain band kawakan. Walau aku tidak tahu nama band nya apa. Sekali dia cerita bagaimana dia manggung sendirian.

"Waktu itu gw sedang ke dufan. Pas ada panggung band. Iseng punya iseng, gw naik ke panggung dan maenin lagu Still got a blues. Pake gitar doang. Wih, orang pada tepuk tangan.", kata si guru.

Aku temenung membayangkan betapa kerennya kejadian itu. Dia naik ke panggung sendirian, dan memainkan gitar, dan membuat orang terpesona dengan kepiawaiannya bermain gitar. Gila, ini dia cita-cita hidup ku.

Di tempat les itu aku dicekoki dengan pelajaran blues. Aku dipinjamkan kaset-kaset genre blues. Ya seharusnya memang aku benar-benar jadi ngeblues. Di tempat itu pertama aku belajar teknik bermain gitar listrik walaupun aku menyentuh gitar listrik kalau di tempat studio musik sewaan saja. Aku tidak banyak belajar teori, hanya lebih banyak ke teknik saja.

Hari terakhir aku les setelah beberapa bulan les disitu. Hari itu aku mengetuk pintu rumah agak lama dan tidak dibuka-buka. Barulah setelah sekitar 30 menitan aku disitu dibuka. Saat mulai pelajaran hari itu, si guru melinting sesuatu di tangannya. Sembari aku mempelajari pelajaran hari itu, aku memperhatikannya. Sehabis dilinting, benda menyerupai rokok itu kemudian dibakar dan dihisap. Dalam sekejap kamar kecil itu penuh dengan asap. Asapnya bukan asap rokok, karena aku tahu persis asap rokok karena bapak seorang perokok juga. Hari itu aku belum tahu jenis rokok apa itu, yang pasti kepalaku pusing pulang dari tempat itu.

Semenjak itu aku berhenti les dari si guru. Entah apa yang mendorongku berhenti, hanya ingin berhenti saja. Itu tempat les gitarku yang kedua dan yang terakhir. And i still got the blues until now...hahaha


You May Also Like

0 comment