Kebiasaan sebelum tidur

by - August 07, 2014

Fhea sekarang usia 5 tahun menjelang 6 tahun.

Reigo sekarang usia 3 tahun menjelang 4 tahun. 

Ada beberapa kebiasaan yang selalu hampir rutin di lakukan sebelum tidur, yaitu 5 hal, berdoa bersama, bercerita, dan mendengarkan musik penghantar tidur. 

Beberapa diantaranya pun memiliki beberapa variasi kebiasaan yang merupakan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang kami orang tua lakukan supaya tidak terjadi prahara sebelum tidur alias anak-anak ngamuk, nangis, atau ngambek.  

  1. 5 hal. 
    1. 5 hal adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan anak-anak (dan orang tua) sebelum naik ke kasur untuk tidur. 5 hal adalah: sikat gigi, pipis, cuci muka, cuci tangan, cuci kaki. 
    2. Awalnya 5 hal ini muncul karena saat disuruh sikat gigi dulu sebelum tidur anak-anak tidak mau, mereka hanya mau pipis saja. Atau saat disuruh pipis, anak-anak hanya mau sikat gigi. Akhirnya dibuatlah kosa kata baru yaitu 5 hal yang merupakan kompilasi dari semua kegiatan di kamar mandi yang harus mereka lakukan. 
    3. Syukur kalau anak-anak menerima instruksi untuk melakukan 5 hal dengan antusias. Tapi seringkali ada saja entah Fhea atau Reigo yang punya alasan untuk tidak melakukan 5 hal, apakah itu dengan alasan sudah mengantuk, atau ingin pipis saja, dll. Kami orang tua dalam hal ini sepakat untuk tegas dan tidak toleransi untuk mereka melakukan hal tersebut dengan disiplin. Hasilnya cukup baik karena konsistensi ini dapat dijaga dengan baik oleh orang tua, bukan anak-anak. 
    4. Ingin ditemani 5 hal oleh siapa? Seringkali Fhea atau Reigo punya request untuk ditemani 5 hal oleh Papa atau Mama. Kami orang tua pun harus dengan rela menemani dan kadang sekaligus melakukan 5 hal juga. 
    5. Anak-anak protes saat mengetahui bahwa orang tua mereka tidak melakukan 5 hal. Mereka akhirnya bisa menghapal apakah Papanya sudah sikat gigi atau tidak. Dan mereka akan protes dan memaksa agar orang tua melakukannya juga. Untuk hal ini kami pun dilatih untuk disiplin dan konsisten. 
  2. Berdoa bersama.
    1. Kadang-kadang Fhea dan Reigo rebutan mau berdoa. Kalau ini sudah terjadi berarti solusi alternatif yang dilakukan adalah suit, atau hom pim pah ber empat, atau dipilih salah satu yang belum berdoa. Misalnya Fhea sudah berdoa kemarin, maka malam ini Reigo yang berdoa. Kadang Reigo tidak mau kalau dengan cara itu, maka kakaknya dibujuk untuk berdoa. Kalau masih tidak mau juga berarti pakai cara suit. Tidak ada solusi yang baku untuk penyelesaian ini, harus dicoba beberapa cara baru bisa berhasil. Kadang-kadang malah tidak ada masalah karena hanya satu anak yang mengusul untuk berdoa dan yang lain tidak memang tidak mau berdoa.
    2. Awal-awal dulu anak-anak harus diajarin berdoa. Ada beberapa cara yang kami lakukan: 
      1. Berbisik di telinga mereka, dan mereka mengulangi doa yang kita ucapkan. 
      2. Kita berdoa sepotong-sepotong, dan anak-anak mengikuti sepotong-sepotong
    3. Sekarang mereka sudah bisa berdoa sendiri dengan kata-kata sendiri. Walau kadang masih rancu penggunaan katanya seperti "Tuhan berkati kita...", Reigo sering berdoa seperti itu walau seharusnya bukan kita tapi kami, tapi kami cenderung membenarkannya hanya saat kami berdoa sehingga dia bisa mendengar. Karena kalau ditegur sering dia malah jadi tidak mau berdoa.
    4. Beberapa kali juga kami coba model saling mendoakan. Jadi Papa mendoakan Reigo, Reigo mendoakan selanjutnya. Hal ini sering terjadi masalah baru karena Reigo hanya ingin mendoakan yang laki-laki saja (Papanya) misalnya, sementara Fhea pun ingin mendoakan Papa juga. Tapi cara ini pernah berhasil dan berlangsung baik juga.  
  3. Bercerita. 
    1. Bercerita menjadi kebiasaan yang harus dilakukan juga setelah 5 hal dan berdoa. 
    2. Bercerita ini bisanya menjadi request anak-anak setelah kami semua berbaring di tempat tidur. 
    3. Bercerita bisa dengan cara bermacam-macam sesuai request mereka. Yang selama ini pernah dan sering kami lakukan adalah:
      1. Bercerita dari buku cerita. Ini paling mudah karena tinggal membaca. Hanya saja kadang mereka memilih cerita yang panjang dengan tulisan yang banyak atau minta dilanjut ke cerita ke-2 atau ke-3. Kami orang tua kadang cape juga, malah sering ngantuk di tengah jalan. Belakangan kami beli buku cerita yang tidak terlalu banyak tulisannya (hehehe).  
      2. Bercerita Sherlock Holmes. Ini cerita karanganku sendiri tentang detektif yang menyelidiki pencurian, penculikan, dll. Dicerita ini biasanya aku awali dengan suara kring telepon dan dijawab oleh Sherlock Holmes, diselipi dengan Sherlock Holmes lupa dengan alamat rumah sehingga minta anak-anak yang menghapal dan menyebutkannya, Mereka cukup antusias dengan cerita model ini. Sulitnya kalau sedang buntu tentang pencurian apa. 
      3. Bercerita tentang masa kecil. Orang tua seringkali bercerita tentang masa kecil yang unik. Misalnya aku pernah bercerita bagaimana aku belajar karate yang gurunya namanya Pak Abdullah (akhirnya Reigo sering quotes Papa Bulah), atau aku pernah ikut lomba dokter kecil, atau aku pernah ikut lomba cerdas cermat, atau saat aku belajar pertama kali naik sepeda roda dua. 
  4. Mendengarkan musik penghantar tidur
    1. Musik penghantar tidur anak-anak pun harus spesifik. Sejauh ini ada beberapa model musik yang mereka inginkan:
      1. Kalau Reigo sebenarnya lebih tidak banyak protes tentang lagu. Fhea yang selalu menegaskan bahwa dia ingin musik yang ceria. Jadi dia tidak terlalu suka "lagu sedih" katanya. Lagu piano instrumental yang mengalun lembut, atau lagu-lagu worship gitu akan ditolak mentah-mentah dan bisa ngambek sejadi-jadinya kalau dipaksa diputarkan lagu itu. Fhea prefer lagu-lagu cerita seperti TW Kids yang Matahari bersinar trang, dll. Pokoknya lagu yang rame. Agar aneh juga sih sebenarnya, tapi ya mungkin maksudnya supaya tidak sepi saat tidur. 
      2. Pernah beberapa kali Fhea dan Reigo request hal yang berbeda. Fhea minta lagu ceria, dan Reigo minta lagu piano. Kami tahu saat itu Reigo hanya "mencobai" kakaknya saja. Tapi karena tidak ada kata sepakat, aku sering bilang "Oke, kalau memang karena lagu saja kakak dan abang tidak kompak, maka lebih baik tidak usah ada lagu. Sama seperti siaran tv juga, kalau gara-gara siaran tv tidak kompak maka tv-nya akan Papa matikan dan tidak boleh ada satupun yang menonton tv". Dari situ anak-anak diajarkan berbagi kesenangan, tidak individualistis, dan tidak ingin menang sendiri. Sampai saat ini prinsip ini cukup berhasil, itu makanya untuk hal-hal yang mengharuskan mereka berbagi kami orang tua sengaja tidak membeli 2. Contohnya seperti galaxy tab, kami sengaja membeli satu supaya mereka bisa berbagi. 

Someday, aku dan Mamanya pasti merindukan hal-hal yang seperti ini saat kalian nanti sudah besar, tidur di kamar sendiri, sibuk dengan dunia kalian, atau kos di tempat yang jauh, atau bahkan tinggal di rumah kalian sendiri. 

Kalau saat itu nanti datang, Fhea dan Reigo baca lagi tulisan ini ya, dan ingat masa-masa kecil kalian yang indah dan lucu bersama-sama. 

Love you always. 



You May Also Like

0 comment