Tim Musik Remaja

by - December 05, 2013

Dari dulu aku bermimpi ada tim musik sekolah minggu yang terbentuk di kelas remaja. Bukan tim musik yang sekedarnya, tapi tim musik yang kompak dan bagus mainnya.



Selama ini dari semenjak aku bergereja di Gereja Batak Karo Protestan, pengiring musik di kebaktian sekolah minggu selalu bergantung pada ada atau tidaknya guru sekolah minggu yang bisa bermain gitar. Atau kalau tidak ada guru sekolah minggu yang bisa bermain gitar, maka anak sekolah minggunya yang jadi "korban". Aku pun bisa hitung dari mulai jamanku sekolah minggu sampai sekarang para gitaris yang pernah punya tugas mengiringi kebaktian dari generasi ke generasi:

  • Guru sekolah minggu:
    • Bang Rudi Tarigan
    • Bang Joel 
    • Bang Budi 
    • Kak Johana
  • Anak sekolah minggu:
    • Bang Franta
    • Aku 
Setelah generasiku, ada beberapa gitaris lagi:
  • Guru sekolah minggu:
    • Bang Ago (abang kandungku)
    • Aku
  • Anak sekolah minggu:
    • Filipi
Jadi trendnya bukan semakin banyak gitarisnya, tapi justru semakin sedikit. Mungkin memang trend anak-anak muda sekarang bukan pada musik apalagi musik rohani, tapi lebih kepada media sosial yang notabene menjadi aktifitas pengisi luang mereka. 

Sampailah aku kepada mimpiku lagi yang berulang-ulang Tuhan hadapkan di mataku, di tempat tidurku, di saat aku mendengarkan lagu-lagu di mobil dalam perjalanan berangkat dan pulang kantor, mimpi ini kerap sangat mengganggu dan berteriak meminta untuk dibuat jadi kenyataan. 


Dan mimpi tinggalah mimpi sampai kita mengorbankan sesuatu untuk mewujudkannya. Aku dan istriku akhirnya memutuskan untuk serius menggarap mimpi ini, membentuk sebuah tim musik sekolah minggu. Beberapa personil mencibir keinginanku ini, dengan alasan yang logis dan masuk akal seperti gerejaku yang tradisional cukuplah dengan gitar saja, atau sound system tidak perlu heboh dengan secukupnya saja yang penting firman Tuhan yang disampaikan baik. Semua logis, enak didengar, dan enak juga untuk dilakukan. 
But then i choose the hard way!


Aku tetapkan bahwa setiap hari sabtu adalah waktu latihan musik buat persiapan pelayanan kebaktian minggu di remaja. Awalnya aku tidak yakin bahwa akan ada anak-anak yang memang komit untuk datang dan berlatih. Secara anak-anak sekarang sangat sibuk dengan urusan sekolahnya, les, belum lagi ijin dari orang tua. Kemudian alasan lain seperti rumahnya jauh dan terbentur dengan kegiatan yang lain. 

Namun aku coba menjalankan ini dengan juga berkomitmen dengan diriku sendiri, bahwa aku pun harus mau merelakan waktu dan diriku datang ke gereja setiap hari sabtu jam 3 sore untuk melatih mereka. Karena kalau aku saja "malas-malasan" maka mereka pun tidak akan jauh beda dari aku. Alat-alat musik aku harus bawa sendiri punyaku ke gereja setiap kali latihan dan sehabis kebaktian dibawa pulang lagi. 


Formasi awal tim musik ini adalah gitar, biola, dan cajon. 
  • Pemain gitar adalah Filipi yang sudah cukup baik bermain gitar. 
  • Pemain biola adalah Elsa, dimana aku belum pernah melihat dan mendengar dia bermain biola. 
  • Pemain cajon adalah Beni, dia belum pernah katanya bermain cajon sebelumnya. 
Dengan formasi ini ditambah dengan pemimpin pujian/ mc, kami mulai berlatih. 
Latihan pertama cukup ekstra untuk membuat guidelines latihan musiknya, bagaimana mereka harus menentukan list lagunya, nada dasar setiap lagu, dan mulai berlatih 1 kali sampai selesai, dan satu kali lagi sebagai gladi resik. Awalnya aku sedikit ragu dengan pemain cajon, sampai aku punya niat menghandle sendiri cajon nya untuk sementara waktu. Tapi di latihan pertama itu dengan sedikit berat hati dan modal nekat aku minta dia langsung bermain cajon, dan ternyata dia bermain lumayan baik, masih banyak harus belajar, tapi setidaknya lagunya sudah bisa dinyanyikan dengan beat yang tepat. 


Latihan-latihan berikutnya punya tantangan yang relatif sama, bagaimana aku dihadapkan dengan pengorbanan waktu. Istri dan anak-anak ikut hadir dalam setiap latihan musik supaya aku pun masih punya waktu bersama dengan mereka. Yang paling kesel adalah keterlambatan, mulai jam 3 sore, tapi pemain baru pada datang jam 4.30. Kesel, tapi tetap dicoba dijalani. 


Yang agak mengejutkan dan membuat ragu ketika tim ini sudah mulai jalan baik, pemain gitar Filipi harus pindah lokasi tempat tinggal ke jakarta. Hal ini mengakibatkan tidak adanya gitaris. Aku bingung dan mulai sedikit ragu, bagaimana tim ini bisa jalan kalau tidak ada gitaris? 
Kemudian ada seorang anak bernama Daniel, dia punya spirit untuk berlatih gitar. Dia belum mahir, tapi mau belajar. Akhirnya dengan modal nekat, aku minta dia bergabung dan bermain gitar di tim musik. 


Ketimpangan karena pemain gitaris yang baru ini sedikit mempengaruhi kondisi di tim musik, karena latihan harus sedikit ekstra keras untuk mengajari gitaris ini kunci-kunci gitar yang belum dia ketahui. Punya hati yang mau mengajari dan sabar sangat dibutuhkan dalam membimbingnya, ini seperti memberi tambahan minyak tanah pada sebuah api yang sudah mulai menyala agar dapat mengeluarkan api yang besar dan bisa membakar. 


Improvement dari kemampuan bermain gitar Daniel sangat baik. Terlihat kalau dia berlatih di rumah untuk lagu-lagu yang akan dimainkan pada saat latihan. Kalau dia sudah latih lagunya, bermain gitarnya pun lancar sekali. Ada lagi yang namanya Pieter, dia "dinobatkan" menjadi pemain cajon dikarenakan Beni tidak bisa ikut latihan. Dengan penuh keterpaksaan, dia pun ikut latihan. Memang agak sulit untuk melatihnya karena perlu waktu ekstra, tapi katanya di kebaktian minggu berjalan dengan cukup baik dan bisa mengikuti. 


Terakhir ini, ada seorang anak yang ikut hadir dalam latihan musik. Awalnya tugasnya adalah sebagai pemimpin pujian. Tapi terlihat sekali hasratnya untuk bermain musik gitar, karena dia membawa guitar tuner untuk membantu si gitaris. Namanya Marshall. Hari minggu kemarin dia kulihat bersama-sama Beni dan Daniel sedang memainkan gitar, dan aku coba bergabung dengan mereka. Dia dikompor-komporin oleh Beni untuk jadi pemain bass. Aku bilang hayo saja, aku punya bass dan dia bisa bermain bass di tim musik ini asalkan dia mau berlatih setiap hari sabtu. . Aku kasih tutorial singkat bagaimana seorang pemain bas memainkan musik. Terlihat dia pun sebenarnya belum begitu paham kunci-kunci lagu. Tapi aku mulai terbiasa dengan kondisi itu, justru aku senang bahwa aku punya lagi anak binaan untuk dikenalkan kepada dunia musik. 


Sabtu kemarin dia datang dan berlatih. Aku sendiri agak tidak menyangka dia datang, sampai-sampai aku lupa membawa gitar bass yang aku janjikan. Akhirnya dia berlatih musik, bermain bass tapi menggunakan gitar. Dia agak stress katanya karena dia pun sebenarnya belum terlalu mengerti chord di dalam gitar, tapi setelah aku coba guide dengan menulis list kuncinya, dan pelan-pelan dilatih, dia cukup bisa mengikuti.
Besoknya di kebaktian minggu, aku sudah bawa ampli bass dan bassnya. Pagi-pagi dia sudah mendatangi aku dan bilang bahwa dia tidak bisa bermain bass, alasannya karena catatan kuncinya ketinggalan di rumah. Aku paksa dia untuk tetap bermain, aku tuliskan ulang catatan kuncinya. Akhirnya dia bermain bass untuk pertama kalinya di kebaktian minggu remaja. 


Tim musik ini sudah sampai latihan #13. Di latihan ini baru mulai terlihat semangat mereka yang berkobar-kobar dan komitmen mereka untuk berlatih musik. Terlihat dari cara mereka peduli terhadap alat-alat yang mereka mainkan, bertanggung jawab membereskan alat-alat sendiri, bahkan cara mereka menawarkan diri untuk membantu aku membawa alat-alat tersebut ke mobilku setelah acara kebaktian selesai. 
Ah, Tuhan...memang bukan perkara mudah di awal untuk membuat tim musik remaja, tapi look at them now...mereka sekarang menjadi sebuah tim yang aku boleh bilang bisa diandalkan untuk mengiringi musik di kebaktian Remaja. Mereka pun sendiri merasa bangga terhadap tim musik ini, sampai-sampai membuat sebuah foto dengan notes seperti ini. 



Dan sekarang bukan lagi gitaris yang hanya dicatat sebagai pengiring kebaktian, tapi sebuah TIM MUSIK REMAJA yang terdiri dari:
  • Cajon: Beni
  • Biola: Elsa
  • Gitar: Daniel
  • Bass: Marshall
Kemarin Daniel pun tiba-tiba whats app malam-malam dan bilang ada kandidat remaja yang mau menjadi pemain keyboard. Oh yeah! Bring it on, Lord...

You May Also Like

1 comment

  1. Proud of you, Itor.. :)))
    Itor memang dirancang Tuhan untuk menjadi saluran berkat bagi semua orang.. Aku salah satunya :)))
    Keep fighting!!! :)))

    ReplyDelete