Field Trip: Fhea dan Reigo Naik Kereta Api

by - November 18, 2013

BEHIND THE SCENE
Hari minggu kemarin tgl 11 November 2013 ibunya anak-anak harus pergi nemenin siswa retreat ke bandung, berangkat hari minggu dan pulang hari selasa sore. Sesuai dengan kesepakatan aku mengambil cuti senin dan selasa untuk menjaga anak-anak.

Fhea itu anakku yang pertama berumur 5 tahun dan sudah sekolah di TK A, sedangkan anakku yang kedua bernama Reigo berumur 3 tahun. Dulu waktu Fhea umur 2 tahun aku pernah juga mengajak dia field trip naik kereta api berdua saja. Kita naik kereta dari Bogor - Kota. Makan siang di A&W Kota kemudian balik lagi ke bogor.
Nah kali ini aku pun mengusulkan ide field trip naik kereta ke Fhea dan Reigo. Walau sebenernya aku agak ragu-ragu melempar ide ini. Ya you know, sendirian membawa 2 orang anak usia 3 tahun dan 5 tahun bukanlah perkara yang mudah. Cukup banyak resiko yang bisa timbul seperti:

  • kalau mereka mau pupup pas naik kereta bagaimana? tidak ada toilet di kereta.
  • kalau mereka diculik waktu rame-rame di stasiun bagaimana? stasiun pasti ramai sekali dengan orang.
  • kalau mereka tertidur di kereta sementara tidak ada tempat duduk bagaimana? ga kebayang menggendong 2 orang anak dengan berat 15kg dan 20kg sendirian in the middle of crowd. 
Pikiran-pikiran itu cukup menghantuiku. Field trip naik kereta api bareng Fhea dan Reigo tentu saja bukanlah cara gampang menghabiskan waktu bersama mereka. 

THE DAY
Hari itu hari senin, aku mengantar Fhea ke sekolah. Selepas itu aku bersama Reigo kemudian mencari sarapan bubur ayam, kami ke bubur kabita di dekat IPB Baranangsiang. Pesan 2 porsi bubur ayam. Aku pun siapkan "meja" makan buat Reigo dan siap-siap menyuapinya. Baru saja 2 suap makan bubur tiba-tiba Reigo bilang: 
"Papah, mau pupup!", celetuk Reigo.  
GASWAT! Akhirnya aku "hipnotis" Reigo dengan bilang agar pupupnya ditahan dulu, dan bubur ayamnya kita bungkus. Aku rencana akan langsung menuju rumah Bapak yang ada di malabar dekat dengan tukang bubur itu. Diperjalanan menuju ke sana tak henti-hentinya aku mensugesti Reigo bahwa dia bisa dan sanggup untuk menahan pupupnya. Dan berhasil, tidak ada kejadian mengerikan di sepanjang perjalanan dan pupupnya Reigo sampai dengan selamat di toilet rumah Kakeknya. 
Di dalam hatiku memutuskan bahwa field trip naik kereta dibatalkan. 

Selang beberapa jam aku dan Reigo bergegas ke sekolahnya Fhea menjemput dia pulang sekolah. Di perjalanan aku membujuk Reigo:
"Reigo, bagaimana kalau kita berenang sampai malam di Saung Dolken?", kataku sambil memasang wajah paling seru sedunia. 
"Asiiiikkk...", kata Reigo. 
Wah, Reigo sudah setuju, berarti nanti tinggal bilang ke kakaknya kalau Reigo pengennya berenang saja, tidak usah jadi naik kereta. 
Sampailah kami di sekolah Fhea. Fhea pun senang karena dijemput oleh Papanya, hal ini terjadi mungkin sekali setahun saja. Sampai di mobil, aku pun berujar ke Fhea sesuai dengan skenarioku:
"Fhe, Reigonya kayaknya pengennya berenang tuh di Saung Dolken. Gimana kalau kita berenang aja, ga usah naik kereta?", kataku setengah berharap. 
Kami pun sebenarnya sudah perjalanan menuju ke rumah, dalam pikiranku Fhea pasti setuju. 
Dan jawabannya Fhea pun diluar dugaan. 
"Fhea pengennya naik kereta api. Papa kan sudah janji.", kata Fhea dengan tegas. 
Walau masih setengah yakin dengan jawaban Fhea dan berharap masih mau dibujuk, akhirnya kami menuju pom bensin yang ada minimarketnya untuk beli cemilan Fhea dan Reigo, sambil mereka buang air kecil. 

Dan setelah segala usaha aku kerahkan, tetap Fhea konsisten dengan jawabannya. Akhirnya kami menuju ke stasiun kereta api. 

HECTIC
Dan memang tidak mudah membawa 2 orang anak seorang diri untuk field trip naik kereta api dari Bogor ke Jakarta. But i choose the hard way! Akhirnya kami sampai di stasiun kereta api, parkir mobil, dan siap-siap turun menuju loket. Begitu kami mau turun dari mobil Reigo mengantuk dan mau tidur. Eng ing eng. Aku dan Fhea coba membujuk tapi tidak berhasil. Muka Reigo sudah sayu dengan mata 5watt. Akhirnya aku kasih cemilan. Begitu dia makan cemilan, mulai seger lagi, langsung kami bergegas turun dari mobil. 


Dan ternyata saudara-saudara, jarak parkiran mobil dengan loket di stasiun bogor sekarang jauh sekali. Kami harus berjalan cukup jauh melintasi parkiran mobil dan motor untuk sampai ke loketnya. Tapi aku bilang ke anak-anak bahwa kita harus semangat dan tidak mengeluh. Akhirnya mereka pun semangat. 


Naik kereta juga berjalan dengan lancar. Walau tetap agak repot karena ada jarak antara peron dengan badan kereta. Sehingga tetap harus gendong Fhea dan Reigo satu per satu untuk diangkat ke dalam kereta. Alhasil rebut-rebutan bangku kereta berakhir dengan dapet tempat duduk untuk satu orang saja. Aku terpaksa berdiri. Tapi ada gunanya juga supaya mereka merasakan sendiri bagaimana duduk di kereta, dan yang paling penting aku bisa melihat mimik muka mereka dan lebih gampang memberikan cemilan karena mereka tinggal membuka isi tasku yang berdiri di depan mereka. Cemilan yang pertama dibuka adalah Phoky.  



Kondisi kereta keberangkatan kali ini cukup lowong, tidak terlalu banyak orang yang berdiri. Fhea dan Reigo kuamati cukup puas mengamat-amati orang-orang di dalam kereta. Walau mereka masih agak kaget dengan suasana yang baru bagi mereka, tapi mereka kemudian dapat menyesuaikan diri. Cemilan kedua adalah Twister. 






Begitu mereka sudah mulai nyaman, mereka bahkan kemudian melepas sendal mereka dan memandang ke arah jendela. Melihat dan merasakan betapa kencangnya kereta melaju, dan terkaget-kaget kalau kereta yang mereka naiki berpapasan dengan kereta api lain. 



Dalam jangka waktu 1 jam di kereta kemandirian mereka terlihat 100% meningkat. Tidak ada yang namanya rewel ataupun nangis-nangis. Dan yang lebih beruntung tidak ada yang mau pupup (hehehe). Pipispun tidak karena memang aku sudah pipisin dulu sebelum berangkat. Fhea dan Reigo sudah mulai menguasai keadaan, sampai-sampai Fhea pun berani bermain gelantungan di kereta, sementara Reigo masih sibuk melihat ke luar jendela. 




STASIUN UNIVERSITAS INDONESIA
Tadinya aku berencana field tripnya berakhir di Stasiun Kota, kemudian makan siang di sana di A&W dan kemudian balik lagi ke Bogor. Cuma saat itu jam 12 siang, aku melihat kondisi anak-anak sudah mulai ngantuk. Dan lagi sekarang kereta api commuter linenya berhenti di setiap stasiun sehingga waktu tempuh menjadi lebih lama. Aku khawatir anak-anak keburu ngantuk dan kelaperan. Memang sih mereka tidak mengeluh tapi tetap harus diantisipasi. 
Akhirnya aku memutuskan perjalanan berakhir di Stasiun Universitas Indonesia. Aku bilang ke mereka kalau nanti mereka besar dan kuliah di sini, berangkat dan pulangnya bisa naik kereta api. Terlebih lagi Ribu mereka (ibuku) adalah salah satu Profesor di universitas ini. Jadi mereka dengan muka mengerti dan bangga turun di stasiun itu. 
Keluar stasiun harus tap kartu. Anak-anak melakukannya sendiri, walaupun mereka masih kurang tinggi, tapi berhasil juga. 






Di stasiun UI ternyata tidak banyak lagi tempat jual beli minuman, yang ada hanya tukang gorengan dan minuman seadanya dengan aqua. Kita akhirnya nongkrong dan beristirahat sejenak di halte bus kampusnya sambil melihat lalu lalang orang dan bus kesana kemari. Sambil juga aku mengganti baju Reigo yang belum mandi pagi dan sudah berkeringat. 





PERJALANAN PULANG
Sekitar 15 menit kami nongkrong di halte dan kulihat anak-anak mulai kelaparan dan ngantuk. Aku buru-buru memutuskan bahwa kita harus pulang menaiki kereta api ke Bogor. Aku ngantri di loket dan membeli tiket ke arah Bogor. Di loket aku lihat ternyata umur 3 tahun ke ataslah yang seharusnya membeli tiket, hehehe seharusnya Reigo gratis. Tapi tak apalah, namanya juga field trip, masa gratis (?).



Kami harus menunggu kereta apinya datang sekitar 10 menit. Reigo yang aku lihat semakin sayu matanya karena mengantuk, makanya aku langsung buat permainan suit-suitan. Cukup seru untuk menghabiskan waktu agar mereka tidak mengantuk menunggu kereta api datang. 
Aku tanya calon penumpang kereta yang duduk di sebelahku, biasanya kereta jam segini ke bogor padat atau tidak, jawabnya tidak. Aku sedikit lega, karena kemungkinan besar anak-anak pasti akan tertidur di kereta, berarti mereka nantinya bisa enak tidurnya di tempat duduk. 




KEPUTUSAN BERAT TAPI TEPAT
Kereta api tujuan bogor pun akhirnya datang. Kami sudah siap-siap untuk naik, namun kaget karena kereta api yang akan kami naiki padatnya bukan main. Dari luar kami lihat di dalam gerbong-gerbong kereta tangan-tangan orang menjulur ke atas memegang hanger, orang-orang padatnya luar biasa, bisa terasa juga panasnya hawa di dalam karena terlihat orang-orang bajunya basah karena keringat mungkin karena AC-nya tidak menyala. Detik itu aku berpikir cepat, kereta hanya akan berhenti tidak lebih dari 2 menit. Aku harus memutuskan apakah ikut naik atau menunggu kereta api berikutnya. Aku sekilas terakhir melihat wajah anak-anak yang masih terperangah melihat situasi di depan mereka, sebuah kereta dengan padatnya orang. Sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berdiri di dalam kereta itu. Di dalam pikiranku lantas menghitung resiko yang terjadi di dalam kereta: 
  1. Tidak mendapat bangku 
  2. Kepanasan
  3. Anak-anak akan gelisah dan tidak bisa tidur
  4. Anak-anak bisa-bisa tergencet atau cidera 

Di detik-detik penentuan terakhir itu aku boyong anak-anakku dan bergegas memasuki kereta api tersebut. Sampai di dalam, aku hanya menuntun Fhea dan Reigo untuk melangkah pasti masuk ke dalam gerbong sambil mencari-cari tempat yang cocok untuk bisa berdiri bersama-sama. 8 tahun pengalamanku naik kereta ke tempat kerja menemukan tempat berdiri paling enak adalah di depan bangku prioritas, karena lalu lintas orangnya tidak terlalu banyak. Dan aku coba mengarah ke situ, sambil membimbing anak-anakku menerobos orang-orang yang padat berdiri. 

KEAJAIBAN 2X
Puji Tuhan, selayaknya "ibu hamil" akhirnya ada  orang yang baik hati melihat bagaimana anak-anakku dengan wajah lugunya nempel denganku dan mencari-cari lokasi berdiri yang baik akhirnya menawarkan tempat duduknya. 
Fhea dan Reigo akhirnya dapat tempat duduk. Walau agak sempit-sempitan, tapi mereka bisa duduk dan aku berdiri di depan mereka. Reigo aku lihat sudah mengantuk sekali. Sesekali dia memandang ke arahku tapi tidak berkata apa-apa. Baju Fhea dan Reigo sudah basah sebasah-basahnya karena udara panas sekali akibat suhu AC tidak berimbang dengan jumlah penumpang yang ada di dalam kereta. 

Reigo turun ke bawah bangku, menempel ke kakiku. Fhea tetap duduk di bangku. Aku tidak bisa berbuat banyak atau berjongkong untuk berbicara dengan Reigo karena untuk berdiri saja sudah himpit-himpitan. Akhirnya aku hanya bisa memegangi kepala Reigo tanda bahwa aku tetap ada menemani dia sehingga dia tetap merasa aman. 
Lama kelamaan Reigo jongkong di kakiku, kemudian dia duduk di bawah. Awalnya aku kira dia sedang melihat-lihat di bawah bangku ada apa. Tapi kemudian dalam hitungan detik, kepalanya sudah tak ada tenang yang menopang dan aku lirik ke bawah ternyata dia sudah tertidur. 
Aku agak panik, karena pastinya dia sangat tidak nyaman tidur di bawah sana, terlebih lagi aku takut dia akan jatuh tergeletak di bawah. Di tengah kepanikan itu aku berusaha tenang, aku lihat ke Fhea mimik mukanya mengisyarakan bahwa dia pun sudah mengantuk berat. Oow, bagaimana ini?
Dan keajaiban itu datang untuk kedua kalinya, ibu-ibu yang duduk di sebelah Fhea melihat peristiwa bagaimana Reigo sudah tertidur di bawah kakiku. 
"Aduh kasihan adeknya tidur di bawah. Ini pak dudukkan saja disini", kata Mbak itu dengan senyum lebar memberikan tempat duduknya kepadaku. 
Aku langsung berucap terima kasih sambil mengangkat Reigo di kedua ketiaknya dan mendudukkan pantatku di bangku sebelah Fhea. Fhea yang sedari tadi sudah mengantuk langsung menyenderkan kepalanya ke bahuku dan langsung tertidur.  




FHEA YANG PENGERTIAN
Sepanjang perjalan mereka tertidur nyenyak, walau aku sadari bahwa sebenarnya mereka kepanasan. Muka Fhea yang menyender ke bahuku bisa kurasakan basah dengan keringat. Baju Reigo yang menempel di perutku pun basah dengan keringat. Stasiun demi stasiun dilalui, yang aku inginkan bahwa perjalanan kereta ini kalau bisa lebih lama dan tidak cepat sampai karena aku bingung bagaimana turun dari kereta dengan menggendong 2 orang anakku ini yang tengah tertidur. 
Kereta tiba di stasiun Citayam, aku melirik ke Fhea masih nyenyak sekali tidurnya. Reigo pun dengan pulasnya tertidur dipangkuanku. Waduh bagaimana ini? 
Stasiun Cilebut adalah 1 stasiun sebelum sampai di stasiun Bogor. Aku harus membangunkan salah satu dari anakku. Tanpa pikir panjang aku bangunkan Fhea, aku pikir sebagai seorang kakak dia pasti bisa lebih mengerti daripada Reigo. Awalnya aku bangunkan dengan suara, tapi dia tidak ada respon. Aku coba tepuk-tepuk pipinya supaya dia bangun, dia mulai membuka matanya tapi dipejamkannya lagi. 
Kereta sudah sampai di stasiun Bogor, beberapa penumpang sudah mulai turun. Aku ulangi beberapa kali ke Fhea dengan nada suara yang lebih "darurat". Akhirnya Fhea pun bangun dengan masih malas-malasan. 
Dia kuberi tugas memegang sendal Reigo.
"Fhea pegang sendal Reigo ya, jangan sampai lepas", kataku dengan tegas. Tujuannya sebenarnya lebih dari itu , agar dia tetap terjaga saat berjalan turun dari kereta dan menyebrang melewati rel kereta menuju parkir mobil. Di saat itu aku ingat sewaktu aku dibawa Bapak pergi ke daerah sukabumi menggunakan  motor vespa. Aku berdiri di depan diantara setir motor dan bangku motor. Aku diminta melihat speedometer motor ada di kecepatan berapa dan meneriakkannya kepada Bapak setiap 3 menit, dan diminta menebak kecepatan kendaraan yang menyalip kami. Tujuannya sebenarnya lebih dari itu, supaya aku tidak mengantuk karena angin yang terkena mata sehingga tetap berdiri tegak di depan dan tidak melepaskan peganganku dari tengah-tengah setir motor itu. 

Fhea akhirnya mulai segar walau masih tidak berkata-kata. Perjalanan kami cukup jauh berjalan kaki kembali melewati parkiran motor dan mobil. Sesampainya di mobil leganya minta ampun, aku langsung menggeletakkan Reigo di bangku mobil dan dia tetap tertidur. Sementara Fhea duduk di depan dan tidak ngantuk lagi. 





Di perjalanan menuju ke rumah, aku cerita-cerita ke Fhea tentang pengalaman naik kereta api ini. Bagaimana momen-momen yang aku rasakan dan dia rasakan. Keseruan apa yang nanti bisa diceritakan lagi ke temannya, gurunya, saudara-saudaranya, dan kakek neneknya. Mungkin yang namanya Kidzania dianggap orang lain lebih seru dari apa yang kami alami, tapi bagiku hal ini lebih nyata buat anak-anak, mulai dari panasnya, padatnya, sampai ke pengalaman-pengalaman yang tidak bisa diceritakan dengan hanya kata-kata. 

Sesampainya di rumah Fhea seakan menikmati betul bagaimana enaknya bermain di rumah. Dia kembali dengan mainan masak-masakannya, dan kasir-kasirannya. Ketika adiknya bangun, mereka langsung makan siang. Untuk mengisi waktu mereka sampai malam hari kami mengerjakan topi-topian samurai dan mereka menikmati sore hari itu dengan bermain pedang-pedangan samurai. 















You May Also Like

0 comment