Festival Nyanyi Pasutri

by - October 16, 2013

Beberapa minggu kemarin disibukkan dengan latihan nyanyi dengan bidadari untuk festival nyanyi pasutri.
Paling efektif latihan di mobil dan di kamar mandi. Karena kalau latihannya direncanakan di kamar tidur atau menunggu anak-anak tidur maka mungkin kami tidak akan pernah bisa latihan. Pertama karena saat menidurkan anak-anak seringkali kita juga ikut tertidur. Kedua karena kalau latihan saat anak-anak masih bangun pasti diisengin oleh anak-anak dan diajak bermain.

In fact, aku sendiri serius tidak serius mengikuti festival ini. Ya memang terpaksa harus ikut karena sudah didaftarkan sebagai perwakilan dari runggun gerejaku. Kemudian juga aku dan istri bukan orang yang suka ikut festival bernyanyi. Biarpun demikian, aku memang pernah juara 1 lomba karaoke di kantor yang dulu, tapi itu kan menyanyi yang tidak serius, artinya tidak perlu menggunakan teknik vocal yang bagus pun bisa jadi menang.

Aku ternyata kesulitan menghapal lirik lagu. Memang ini kusadari sejak dulu. Kalau bukan lagu yang benar-benar aku suka, maka akan sulit sekali menghapalnya. Kadang malah aku suka mengganti-ganti liriknya sendiri karena memang tidak hapal. Akibatnya lainnya aku jadi punya hobi membuat lagu. Setidaknya menurutku itu lebih mudah daripada harus menyanyikan lagu orang lain.

Setelah 1 bulan dikabari dan diberi cd lagu yang akan diperlombakan, kami baru berlatih intensif sekitar 1 minggu menjelang perlombaan. Hahaha, sampai pada saat gladi resik, aku masih harus membawa handphone untuk membaca liriknya sambil bernyanyi. Untungnya yang mengiringi nyanyi adalah Ramona Purba, sehingga yg dia kritisi hanya cara kami bernyanyi, dan bagaimana kami tidak pe-de karena nada dasar yang kami usulkan berubah-ubah dari Do=D ke Do=E. Sampai-sampai hal nada dasar ini pun menjadi bahan 'berantem' kami di mobil saat pulang dari gladi resik. Hehehehe.

Hari minggu tgl 13 Oktober 2013 kemarin akhirnya perlombaannya di GBKP Galaxy. Kami dapat urutan ke-7 untuk lomba pasutri. Yang kami kaget ternyata lombanya mulainya sore. Memang ada 2 lomba, yaitu Solo dan Pasutri. Dalam benak kami, perlombaannya akan diselang-selingi. Tapi ternyata tidak. Jadi dihabiskan dulu semua peserta Solo, baru kemudian Pasutri. Alhasil kami cabut nomor urut di jam 13.00, dan tampil di jam 18.00. Sampai-sampai anak-anak Fhea dan Reigo harus "diungsikan" bersama Bulang dan Tigannya ke rumah Mama yang ada di bekasi juga. Kemudian kami pesankan agar mereka dapat datang saat kami tampil di depan. Tujuannya supaya Fhea dan Reigo bisa melihat kami tampil di depan, supaya menjadi pengalaman bagi mereka juga dan menambah keberanian mereka untuk tampil di depan dan bernyanyi. Sebelum kami tampil di depan, kami berdoa dulu bersama (Aku, bidadari, Fhea, Reigo) di ruang konstitori.

Menurutku semua sudah dilakukan dengan baik, mulai dari baju batik seragam, improvisasi lagu, tone suara, pitch control, gerakan, dan hapal lirik. Tapi ternyata kami tidak masuk dalam nominasi final, tersisihkan dalam babak semifinal, dari 12 peserta Pasutri, 6 terpilih untuk masuk final. . Sayangnya hasil keputusan juri yang kali ini kok agak "aneh". Bukannya merasa tampil sempurna dan tidak bisa menerima kekalahan, tapi kriteria peserta yang masuk ke final pun menjadi tidak jelas, apakah dari aransemen, improvisasi, pitch control, teknik vocal, gerakan, ke-karo-an atau apa. Ada peserta yang menurut kami mengalami salah lirik, suara (maaf) memang tidak bagus, tapi ternyata masuk final. Ada peserta yang menurut kami punya teknik vokal yang baik, kontrol suaranya ok, kostumnya bagus, tapi justru tidak masuk final. Sampai ada peserta yang masuk final menyalami kami dan bilang seharusnya kami bisa masuk final. Sikapku mungkin bisa didefinisikan dalam sebuah kalimat "Kami memang tidak masuk final, tapi maunya yang masuk final itu yang lebih baik dari kami".

Hahahaha, tapi ya sudahlah. Ini sekedar ungkapan hati saja. Toh keputusan juri tidak bisa diganggu gugat. Sampai-sampai ada juga pikiran apakah keputusan juri ini diwarnai oleh politik saudara dengan peserta, tapi ya sudahlah, tidak perlu sejauh itu berpikirnya.

Malamnya kami tiba di rumah, anak-anak sudah tidur. Aku mandi dan siap-siap tidur. Sambil tidur-tiduran kami tonton video rekaman penampilan kami tadi yang kebetulan direkam oleh Tanta teman sama-sama peserta. Aku dan istriku saling bergumam dan memuji:
"Wah, suara Mamah bagus ya pitchnya".
"Wah, aransemen Papah memang keren ya."
"Hm, disini memang kurang pitch ya aku Mah." "Ah engga kok, bagus.."
"Hehehe, gerakan kita bagus juga ya seragam."

Kalimat-kaliman saling memuji menutup malam itu dengan indah. Akhirnya kekalahan kami di babak semifinal festival ini justru menjadi lelucon yang lucu antara aku dan bidadari. Dan yang paling indah, besoknya Fhea bangun dan berujar kepada Mamahnya yang sedang bersenandung "Nah, Mamah harusnya seperti itu dong. Jangan sedih, kalaupun tidak masuk final tapi sudah bagus kok nyanyinya."

Thank you, Lord.



You May Also Like

0 comment