68 tahun.

by - May 08, 2013

Selamat ulang tahun Bapak.
68 tahun sudah perjalanan hidup di dunia ini.
Panjang umur dan sehat-sehat.


Secara kebetulan, tadi malam tanggal 7 mei 2013, sehari sebelum ulang tahun bapak, aku merasakan bagaimana jadi seorang bapak rumah tangga. Karena istri yg adalah guru tugas menemani murid camping rohani di sukabumi dan menginap disana, aku menjadi single fighter, walau hanya 1 malam, bersama anak-anak.

Sampai rumah, aku buat peraturan agar mereka mandi, kemudian berdoa. Aku juga langsung bikin susu supaya mereka bisa secepatnya tidur dan tenang. Semua berlangsung baik. Aku selalu menjadi sosok yang tegas untuk anak-anak (seperti bapak), dan secara taktis mengatur semuanya.
Tapi kemudian, setelah berdoa malam, mereka mendoakan Mamahnya yang sedang camping, sudah siap tidur semua. Kemudian kita voice note dengan Mamahnya, karena Mamahnya sedang ada acara jadi tidak bisa telponan. Anak-anak kemudian tambah semangat merekam dan mengirimkan voice note itu ke Mamahnya. Sampai Mamahnya kemudian membalas dengan mengirimkan voice note juga. Saat mendengar suara Mamahnya mata anak-anak mulai berkaca-kaca, hidung Fhea mulai terlihat kembang kempis, Reigo malah ngambek tidak mau mendengarkan sambil menangis. Klimaksnya saat Mamahnya akhirnya nelpon, mereka menyambut dengan senang. Tapi begitu suara telpon ditutup, pandangan mereka dan sikap mereka menjadi melankolis semua. Reigo menangis dengan kencang dan bilang "Mau sama Mamah...", sementara Fhea menangis sambil menatap ke atas dan bilang "Fhea rindu sama Mamah...". Sulitnya menenangkan mereka, sambil akhirnya aku mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain, dongeng, dan cerita-cerita.

Malam itu sebagai penenang Fhea dan Reigo, aku bercerita bagaimana baiknya Laki (Kakek) mereka (a.k.a Bapak). Aku bercerita bahwa dulu aku senang sekali bermain layangan. Aku sering bermain di lantai 3 rumah Laki, yang menyatu dengan jemuran. Sering aku bermain layangan sambil manjat genteng, bahkan berlari-lari di genteng atas rumah. Karena hal itu rumah menjadi sering bocor di sana-sini. Tapi sepanjang ingatanku, Bapak sosok yang tegas tapi tidak pernah keras untuk sesuatu yang sifatnya kreatif. Dia tidak marah saat aku menghancurkan begitu banyaknya genteng, tidak super marah saat rumah dan kos-kosan bocor di sana sini. Marah memang marah, tapi sifatnya lebih mengingatkan agar tidak melakukannya lagi, dan kemudian Bapak sendiri yang membenarkan genteng yang tergeser ataupun mengganti yang pecah.

Saat aku bercerita, aku seakan teringat lagi masa-masa itu. Bapak menjadi sosok yang tegas, tapi juga bijaksana. Dia tahu kapan harus marah, dan kapan dia membiarkan saja kreatifitas anaknya--walau itu sering menyusahkan dirinya. Masa-masa itu aku tidak bisa lupakan. Bahkan sampai saat aku EBTANAS SD, aku sering bermain layangan, aku hampir jarang belajar. Ya, walau aku tergolong anak yang berprestasi, karena dari kelas 1-6 aku mendapat ranking 1, tapi seharusnya aku belajar. Sampai suatu hari Bapak dan Mamah ke atas jemuran mendapati aku sedang bermain layangan di hari H-1 EBTANAS dimulai. Bapak dan Mamah tidak marah, tapi justru mereka mencoba terlibat dalam permainan layanganku, sambil lalu bertanya tentang persiapanku EBTANAS.

Hasil EBTANAS pun tidak terlalu memuaskan. Aku menulis secarik kertas yang penuh tangisan, karena penyesalan. Disitu aku ingat sebuah kalimat "...hal ini menjadi cambuk bagiku untuk belajar lebih keras lagi...", dan kertas itu aku tempel di laci meja belajarku. Bapak dan Mamah tetap bangga kepadaku, dan dalam beberapa hal, yang mereka ingatkan hanyalah janjiku terhadap diriku sendiri, bahwa akan belajar lebih keras lagi. Dan entah bagaimana, aku menjadi seorang pribadi yang bertanggung jawab terhadap diriku sendiri, terhadap kewajibanku, terhadap pendidikanku, terhadap apa yang terjadi dalam hidupku. Orang tuaku seakan menegaskan, bahwa mereka hanya bisa melihat dari jauh, menuntun, membuat peraturan, dan mengawasi, itupun tidak bisa dilakukan setiap saat. Orang tuaku seakan ingin bilang bahwa ini adalah hidupku yang harus aku warnai dengan crayonku sendiri, terserah mau warnanya apa, tapi mereka ingin pastikan bahwa aku akan senang saat melihat hasilnya.

Terima kasih Bapak, 68 tahun engkau sudah mewarnai hidupku, menuntun, membimbing, menanggapi semua keinginanku, tanpa pernah menuntun sedikitpun untuk disenangkan. Tadi pagi saat aku telpon mengucapkan ulang tahun, kutanya Bapak mau hadiah apa. Seperti biasa, engkau selalu menjawab "Ya, supaya sehat-sehat...".

Love you, Dad!

You May Also Like

0 comment