Piano dan Gitar

by - April 10, 2013


Karena kemarin baru beli piano baru, jadi teringat cerita tentang piano. Cerita ini jaman dulu, tapi masih diingat sampai sekarang. Sebuah sejarah yang perlu diingat.

Dulu, di rumah ada gitar merah merk ARISTA Kelas 4 sekolah dasar (SD) punya Bapak. Bapak memang punya hobi musik, dia bermain gitar, biola, aku tidak tahu lagi yang lainnya. Yang pasti sedari aku kecil, gitar merah itu sudah ada di rumah. Tidak jarang Bapak mengajak belajar gitar kepada anak-anaknya termasuk aku. Tapi entah kenapa saat itu aku tidak tertarik.

Suatu hari, aku diajak ke mall terbesar di bogor saat itu, namanya Internusa. Kebetulan disitu ada toko Gunung Agung, dan pas sekali di depan pintu masuknya ada pameran keyboard dan piano. Aku dibawa Bapak dan Mamah melihat-lihat pameran alat musik itu. Aku ingat aku tertarik melihat keyboard merknya Casio, jenisnya ada pad untuk percussion berwarna biru ke unguan persis di bawah tutsnya. Aku saat itu ingin sekali memiliki itu, tapi hanya bisa bilang pengen walau tahu kecil kemungkinan dibelikan. Benar saja, hari itu Bapak dan Mamah hanya bilang akan membelikannya suatu saat, tapi lihat dulu kondisi keuangan.

Beberapa minggu setelah itu, aku diajak Bapak ke internusa lagi, Bapak bilang baru gajian dan akan membelikan aku sebuah piano yang aku inginkan. Aku senang sekali. Akhirnya kami pergi ke lt.2, tempatnya di pojok sebelah kanan, ada sebuah toko musik yang cukup ramai. Sepertinya itu toko yang sama juga yang mengadakan pameran saat di gunung agung. Setelah tanya sana sini, Bapak bertanya ke aku sambil menyodorkan sebuah piano casio. Memang tidak seperti yang aku bayangkan, tapi saat itu aku tetap senang. Aku dibelikan Bapak alat musik pertama ku, sebuah piano casio kecil berwarna putih (gambarnya persis seperti gambar di bawah ini, hasil search di google).

Toko musik yang menjual piano itu pun menawarkan ke Bapak untuk nge-les-in aku piano di tempatnya. Nama toko dan tempat lesnya aku masih ingat: Empire Music. Lokasinya di jl. Riau. Alhasil di kelas 4 SD aku mulai les piano di situ, setiap pulang sekolah dari Jl. Bangka harus berjalan ke arah Jl. Riau untuk les piano.

Tentunya perkembangan les ku tidak terlalu banyak, karena di tempat les aku berlatih menggunakan semi grand piano, meanwhile di rumah aku berlatih dengan menggunakan casio kecil mungil menggunakan batre yang menekan tuts nya pun hanya bisa satu per satu. Kalau ditekan sekaligus 2 atau 3 bisa error. 

Kurang lebih 1 tahun, uang les 25rb/bln itu pun melayang begitu saja. Dan akhirnya aku mengusulkan ke Bapak dan Mamah untuk berhenti les piano, karena merasa tidak ada perkembangan dan bosan. Apalagi uang 25rb terasa mahal sekali dibanding dengan uang SPP sekolah yang hanya 8rb/bln pada waktu itu.

Selang 1 tahun akhirnya aku mulai tertarik dengan yang namanya gitar. Aku mulai sering bertanya ke bapak mengenai chord gitar, membeli buku-buku lagu yang ada chord gitarnya, bahkan pernah suatu kali aku niat sekali bangun jam 3 pagi hanya untuk bermain gitar. Aku cukup menghabiskan banyak waktu bersama gitar. Sempat aku les gitar di yamaha, tapi tidak terlalu lama, walau aku dapat banyak ilmu dalam waktu yang sempit bermain gitar classic. Petikan yang namanya apoyando dan beberapa partitur gitar sempat aku lahap, walau jujur aku tidak terlalu fasih dan suka dalam membaca partitur.

Di gereja, sekolah minggu, aku selalu ditunjuk menjadi gitaris. Alasannya bukan karena sudah mahir bermain gitar, tapi karena terpaksa tidak ada gitaris lain. Sanking tingginya keinginanku supaya bisa mahir bermain gitar, aku pernah mencontek chord lagu "Kusiapkan hatiku Tuhan" yang sedang dimainkan oleh seorang guru sekolah minggu (namanya Kak Jo, perempuan tapi pintar bermain gitar), contekan chord itu aku tulis dengan pulpen di tanganku karena saat itu tidak ada kertas sementara aku merasa urgent sekali mendapatkan chord-chord tersebut. 

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/?ui=2&ik=4a83050a9b&view=att&th=13df2d142f32d742&attid=0.1&disp=inline&safe=1&zw&saduie=AG9B_P9pZIOKaW4k3s4Ww4RdPzDE&sadet=1365578467579&sads=9tMErgbxIKpTGIlDRrNT8RPxnvIWaktu smp aku punya band namanya Avonturir. Band ini terdiri dari gitaris (aku), drummer (asep), vocalis 1(ivan), vocalis 2 (okky), basist (billy). Kami mengusung banyak musik top 40 jaman 90an, terlebih lagi rock band seperti Aerosmith. Band ini masih tergolong amatir, karena semua anggota bandnya pun masih belajar bermain musik, tidak ada yang sudah gape atau mahir, semua masih belajar. Lucunya kami merasa sudah pro, sampai-sampai karena alasan kedisiplinan jadwal latihan, kami memecat vocalis kami Okky (alm.). Kami semangat untuk latihan di studio musik seperti OBS ataupun KEMANG, walau patungan sewa studionya mengharuskan kami mengurangi uang jajan. Hebatnya kami, untuk mengatasi masalah keuangan ini, kami menggaet para siswi untuk menjadi fans dari band kami, yang ujung-ujungnya adalah kami minta mereka ikut patungan untuk membayar sewa studionya. Hahaha. Ke sekolah pun aku hampir setiap hari membawa gitar, alasannya adalah untuk bisa bernyanyi bersama teman-teman pada saat jam kosong atau saat pulang sekolah. Gitarnya sering kubawa tanpa soft case, ku tenteng dengan memegang bulatan resonansinya. Sambil mengenakan celana pendek seragam, aku naik angkot ke sekolah. Gitar aku berdirikan dengan ujung jari kakiku sebagai alasnya agar gitarnya tidak lecet.

Saat smu, aku mulai punya hasrat untuk menciptakan lagu. Aku punya sebuah buku usang yang namanya buku biru. Isinya adalah coretan-coretan nada dan lirik mulai dari baru ide saja, sudah setengah jadi, atau yang sudah jadi. Buku itu masih ada sampai sekarang. Beberapa teman pun menuliskan beberapa lagu favoritnya di buku tersebut. Sampai aku bertemu dengan istriku pertama kali di pizza hut, buku kutunjukkan kepadanya dan sempat kupinjamkan kepadanya. Istriku yang pertama menuliskan lagu ciptaannya sendiri di buku itu walau sampai sekarang aku lupa lagunya seperti apa. Buku yang penuh sejarah.

Dari dulu aku tidak pernah punya barang bagus. Aku selalu kesal saat melihat teman-teman yang (menurutku) tidak terlalu punya talent musik tapi memiliki alat musik yang bagus. Sampai suatu ketika aku bekerja pertama kali setelah lulus kuliah. Aku bekerja di sebuah bank swasta. Aku bekerja 3 bulan disitu, kemudian resign. Alasannya karena merasa tidak sesuai dengan kapasitasku sebagai IT. Padahal kalau dipikir-pikir sebenarnya aku bisa mengembangkan diriku disitu. Nah, yang lucu setelah aku resign dari tempat itu, gajiku tetap masuk sampai bulan ke-6. Aku makan gaji buta hahaha. Seumur-umur aku baru melihat jumlah uang di rekeningku sedemikian banyak, karena hampir aku tidak ada pengeluaran semenjak resign dan tinggal di rumah orang tua. Akhirnya aku belanjakan semua uang hasil gaji buta itu ke alat musik. Aku beli gitar electric accoustic, beli gitar electric Ibanez, Ampli  peavey. Saat itu aku merasa puas sekali, karena semua keinginan sudah tercapai. Aku akhirnya memiliki alat musik sendiri. Tahun berikutnya aku mulai menabung membeli keyboard roland EXR-3, ampli lokal Russel yang cukup besar supaya bisa masuk semua alat musik dan mic-speaker ini cukup sering akhirnya dipinjam oleh orang-orang untuk acara. Kemudian aku juga menabung sendiri membeli gitar fender stratocaster USA 2nd dari teman, juga PODXtLive efek gitar.
...

Sekelumit perjalanan dahulu kala mengenai piano dan gitar, dua alat musik yang cukup banyak mengisi hidupku. Masih ada beberapa bagian yang belum aku ceritakan karena satu dan lain hal, mungkin kalau aku sudah siap, akan coba kuceritakan. Aku sering merasa tidak mahir sekali dalam bermusik, karena memang secara skill aku tidak sepandai para jagoan gitar di luar sana, atau alat musik lainnya. Aku malas membaca partitur, sehingga akhirnya kalau dapat tugas melatih vocal group aku lebih suka melatih dengan nada-nada langsung dinyanyikan ketimbang meminta mereka membaca partitur yang sudah dibagi suaranya.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/?ui=2&ik=4a83050a9b&view=att&th=13df2db6b8dde454&attid=0.1&disp=inline&safe=1&zw&saduie=AG9B_P9pZIOKaW4k3s4Ww4RdPzDE&sadet=1365579369608&sads=qWt_IcBPqs4Onxqo9Wj8-8ChMB4Harapanku, anak-anakku bisa menjadi mahir dalam bermain musik, tidak seperti aku. Mereka bisa mengenal teori musik dengan baik, tidak otodidak seperti aku. Kemudian mereka bisa improvisasi musik mereka dengan baik juga.


Jadi ingat doa fhea tadi malam setelah datang piano baru dan dengan excitednya memainkan "follow the light" di clavinova kami, dia bilang "Tuhan, terima kasih buat piano baru Fhea, semoga Fhea bisa rajin latihan dan jago bermain piano." #takjub!

You May Also Like

0 comment