(KEYA-SEDI-SEMA) Perkelahian para pemain kelereng

by - October 16, 2012



Namanya Ade, orangnya memang lebih tinggi dari aku dan lebih tua.
Sikapnya memang tengil, dan tukang mengejek. Dari tatapan matanya kelihatan sekali kalau dia licik.

Saat itu aku SD kelas 2, dan abangku SD kelas 6. Kita terpaut 4 tahun.
Seperti biasa, pulang sekolah diisi dengan bermain-main bersama orang kampung.
Kita pun sebenarnya orang kampung, karena sudah kelahiran di Bogor. Cuma entah kenapa jalanan yang teraspal itu seakan memisahkan kami, tapi pada akhirnya hal itu juga yang nantinya aku syukuri.

Hari itu pas musim bermain kelereng. Semua kantong anak-anak penuh dengan gembolan kelereng. Jadi kalau dilihat dari luar, celana di bagian kantong akan melorot ke bawah dan penuh dengan jendolan-jendolan kecil karena berisi kelereng yang cukup banyak.

Aku sedang bermain kelereng bersama abangku, Iim dan Ade. Kelereng dipasang di tengah, masing-masing anak memasang 2 buah kelereng untuk dipasang. Inti pertandingannya adalah, siapa yang berhasil 'menyentang' kelereng pasangan dan orang lain, maka kelereng tersebut menjadi miliknya.
Kami semua sudah melalui start pertama yaitu melempar kelereng kami ke arah pasangan yang ada di tengah. Sampai tiba-tiba Ade dengan liciknya mengangkat posisi kelereng miliknya supaya posisinya berada di dekat kelereng abangku.

Abangku langsung protes dan marah. Aku terdiam melihat perdebatan mereka. Ade dengan congkaknya menepiskan bahu abangku ke belakang. Abangku yang memang postur tubuhnya sedikit lebih kecil terdorong ke belakang. Ade mulutnya berkoar-koar marah dan emosi. Abangku yang merasa diliciki oleh Ade melawan.

Aku yang tadinya terdiam pelan-pelan mulai terbawa emosi. Mungkin karena sedarah, hatiku membara melihat abangku berantem dengan Ade. Akhirnya aku maju. Aku putar-putar tanganku kiri dan kanan seperti gaya Mohammad Ali si petinju mengarah ke Ade. Ade yang merasa dilawan oleh 2 orang tetap tidak gentar malahan menggertakkan giginya dan terus melawan. Beberapa hajaran mengenai badan dan mukaku, demikian juga abangku, aku juga berhasil menyarangkan beberapa pukulan bertenaga kecil ke Ade. Aku tidak bisa melihat lagi abangku, karena pertarungan begitu sengitnya dan penuh emosi dan teriakan.

Akhirnya kami berhenti seketika. Tidak ada yang menang tidak ada yang kalah.
Ade teriak : "Monyet lu semua. Dasar ga bisa maen kelereng aja, mau sok jago!"
Abangku merangkul bahuku tanda supaya tidak dibalas. Abangku dan aku berbalik badan dan berjalan ke arah jalan aspal menyebrang menuju rumah.

Semenjak itu, abangku sudah jarang terlihat bermain bersama orang-orang 'kampung'. Sementara aku masih berlanjut bermain kelereng hingga menang 1 koper 'president'. 

You May Also Like

0 comment