(KEYA-SEDI-SEMA) Cing Sumput Maut!

by - October 18, 2012


 


Pagi itu kami anak-anak kecil menikmati liburan sekolah lagi. Setiap liburan, di rumahku pasti saja selalu banyak saudara berdatangan. Mungkin karena orang tuaku memang orang perantauan dari Sumatera ke Jawa yang awal-awal dalam sejarah sehingga banyak orang kampung kami di Sumatera sana yang kenal dengan mereka.

Hari itu di rumah sekitar 5 orang. Ada abangku, adikku, aku, dan 2 orang saudara lainnya yang datang dari tempat jauh. Kami bermain Cing Sumput di dalam rumah. Jenis permainannya adalah satu orang akan menjaga 'hong', dan yang lain akan bersembunyi supaya tidak dapat ditemukan. Permainan akan selesai ketika semua pemain ditemukan oleh yang jaga hong atau pemain berhasil melakukan 'hong' saat penjaga tidak ada disitu. Kata asalnya dari bahasa Sunda yaitu Ucing Sumput, atau bahasa indonesianya Petak Umpet. Di luar negeri sana biasa disebut Hide-and-Seek. Arti dari setiap bahasa kurang lebih sama, tidak jauh beda. Berbeda juga dengan permainan elektronik kecil yang besarnya segenggaman tangan seperti gamewatch. Akhirnya gamewatch ini di"indonesia"kan menjadi gimbot. Anak-anak menyebutkan bermain gimbot, bahkan tukang penyewanya pun menyebutnya demikian. Kami anak-anak ini berpresepsi kalau orang dewasa bahkan yang memiliki barangnya tidak akan mungkin salah dalam menyebutkan nama. Lagipula gimbot memang lebih enak disebutkan, tidak perlu berdesis atau muncrat dalam menyebutkannya.

Giliran saudaraku yang jaga 'hong'. Aku harus bersembunyi sedapat mungkin agar tidak dapat ketemu. Kebetulan di kamar aku dan abangku ada lemari pakaian besar yang bisa dikunci. Aku memberi kode kepada abangku tanpa suara bahwa aku akan masuk ke dalam lemari besar itu dan minta tolong dia agar menguncinya dari luar. Di dalam lemari itu banyak pakaian-pakaian, jadi terpaksa aku harus tekan-tekan agar ruangannya cukup untuk aku masuk ke dalam. Lemari itu tentunya gelap dan sumpek, bau kayu yang cukup menyengat bercampur dengan baju yang terpaksa kuinjak-injak.

"Cklek!". Bunyi kunci dari luar, tandanya abangku berhasil menekan pintu lemari dan mengunciku di dalamnya dari luar.

Aku mulai coba mengatur posisiku di dalam lemari itu. Posisi badanku kucoba putar mengarah ke pintu agar aku bisa lebih siaga kalau-kalau ada yang membuka pintu. Putaran ini kucoba supaya tidak mengeluarkan suara sedikitpun, karena hitungan penjaga hong sudah sampai 10, yang tandanya dia sudah mulai mencari para pemain yang bersembunyi.

Selang 10 detik, aku mulai merasa dimakan oleh gelapnya ruangan lemari itu. Tidak ada cahaya sama sekali. Lama-lama aku merasa badanku menciut dan lemari itu semakin lama semakin besar. Aku takut!
Beberapa detik kemudian, nafasku mulai tersengal, telapak tanganku mulai merapat mengarah ke pintu, aku kehabisan nafas.

Aku mulai sadar bahwa aku harus keluar dari lemari ini. Di sekolah aku pernah belajar bahwa manusia itu menghirup oksigen, dan saat ini di lemari ini aku sudah mulai menghirup karbondioksida hasil pernafasanku sendiri. Gawat!

Pintunya terkunci. Kacau! Aku baru ingat kalau abangku itu pun kusuruh membawa kuncinya supaya apabila si penjaga hongnya curiga dengan ada orang di dalam lemari itu pun, dia tetap tidak bisa membuka dan menemukanku. Akhirnya aku terjerembab terduduk di dalam lemari itu. Di tengah keputus-asaan itu aku melakukan tindakan terakhirku.

"Tolooooooooong!!!". Aku berteriak sejadi-jadinya.

Satu teriakan bergema, tetap tidak ada yang menyahuti. Terdengar suara sayup-sayup si penjaga hong masih mengejar-ngejar pemain yang bersembunyi di tempat lain. Aku sudah mulai lemas. Aku terus berteriak tolong karena aku merasa semakin terhimpit di dalam sempitnya ruangan itu. Kondisi badan sudah mulai lemas mungkin karena udara di dalam lemari semakin sumpek. Sementara di luar masih belum ada tanda-tanda evakuasi, aku mulai menendang-nendang lemari menggunakan kaki sambil duduk terjongkok di dalam.

"Bruk! Bruk! Bruk!". Pintu tidak juga bisa terbuka. Kalaupun demikian aku berharap suaranya bisa di dengar oleh orang di luar sana.

"Cklek!". Akhirnya. Pintu dibuka oleh abangku. Wangi udara segar mulai bisa kuhirup, sinar terlihat menyilaukan. Abangku dengan senyum simpul di bibirnya. Di satu sisi aku bersyukur dia menyelamatkan nyawaku yang sudah di ujung tombak terperangkap di dalam lemari. Di sisi lain aku bertanya-tanya, apakah dia sengaja membuat lama proses evakuasi diriku di dalam lemari itu? Apapun itu, akhirnya aku bisa hidup kembali.



 

You May Also Like

0 comment