Jangan Khawatir!

by - March 13, 2012

Hari ini aku belajar dari anakku sendiri untuk tidak menjadi khawatir.

Pagi-pagi tadi Fhea bangun tidur dengan bekas darah kering di hidungnya. Aku bilang ke istriku "Mah, Fhea mimisan tuh kayaknya pas tidur." Istriku mengecek dan mengiyakan, kemudian melanjutkan persiapan aku berangkat kantor.
Seperti biasa berangkat kantor pagi-pagi sekitar jam 5.20, dan aku langsung melengos berangkat ke kantor.

Saat baru tiba parkiran kantor, aku dapat kabar bahwa Fhea mimisan (lagi) dari abang yang tinggal satu kompleks juga denganku, karena mimisan Fhea jadi tidak ikut berangkat ke sekolah bareng Kimi. Aku langsung telpon ke rumah, yang angkat si Amarosa binti Sulaiman alias Titin.

Aku: "Tin, Fhea gimana? Masih mimisan?", tanyaku.

Titin: "Pak....", sahut Titin dengan suara ketakutan.
Dia menangis cecenggukan di seberang telpon.

Aku: "Gimana Tin?", kataku masih berusaha tenang.

Titin: "Fhea berdarah hidungnya Pak. Titin takut kakak Fhea kenapa-kenapa...huhuuuuu....", Titin makin menjadi-jadi menangisnya.

Aduh, aku jadi panik dibuatnya. Seharusnya mimisan kan kejadian biasa saja, ini karena si Amarosa menangis meraung-raung ketakutan dan cecenggukan, aku jadi ikut panik juga.

Aku: "Ya udah, kamu tenang aja. Fheanya disuruh istirahat."

Titin: "Iya pak, kakak Fheanya sekarang lagi tidur", sambil tetap cecenggukan menangis.

Aku tutup telepon dengan perasaan tidak tenang. Aku bbm istriku, walau tahu dia tidak mungkin menjawab karena sedang menjadi pengawas ujian di sekolah.

Akhirnya aku telpon lagi ke rumah.

Aku: "Halo. Gmn Tin, Fheanya udah baikkan kan?", kataku memastikan.

Titin: "Iya pak. Fheanya udah baikkan.", sahut Titin, sambil terdengar suara gagang telpon direbut.

Fhea: "Papah! Ini Fhea. Fhea tadi mimisan, keluar darah dari hidung. Tapi sekarang udah sembuh kok Papah. Papah tenang aja ya. ", suara Fhea terdengar di telpon.

Aku: "Oh ya, Fhea sudah sembuh ya. Syukurlah. Istirahat dulu ya Fhe, jangan cape-cape dulu", sahutku sambil merasa lega.

Fhea: "Iya Papah, udah dulu ya. Fhea mau tiduran dulu", katanya sambil menutup telpon.


Benar kata Fhea, tidak perlu khawatir, tidak perlu panik. Bahkan anakku yg berumur 3 tahun ini bisa lebih dewasa dalam menenangkan lawan bicaranya dibanding dengan prt si Amarosa binti Sulaiman alias Titin yang mungkin umurnya sudah kepala 2 atau 3.




You May Also Like

1 comment

  1. aku juga ikut lega atas kesembuhan anak bapak.

    ReplyDelete