Tragedi PRT

by - December 20, 2011

Belakangan ini tragedi PRT melanda rumahku.
Berawal dari Ayu dan Isna, 2 prt yang cukup adem ayem. Fhea dan Reig pun sudah cukup akrab dan dekat dengan mereka. Pokoknya sudah berasa aman lah rumah dan anak-anak kalau ditinggal berangkat kerja.
Tiba-tiba mulai ada indikasi perubahan. Berawal dari pulang kantor, dan masuk ke kamar tidur. Kok begitu banyak serpihan makanan. Aku tanya ke Fhea apa dia makan di tempat tidur, dia bilang tidak. Memang anak-anak selalu ditegaskan tidak boleh makan di atas tempat tidur. Fhea melapor bahwa yang makan itu kak Ayu disitu, makan bengbeng. Positif! Karena disudut tempat tidur kutemukan bungkus beng beng.
Kejadian kedua, kunci motor tiba-tiba hilang entah kemana. Aku sadar sewaktu melihat Mamah Fhea menggunakan kunci motor cadangan. Kutanya "Kunci motor memangnya kemana, kok pakai cadangan?". Sudah 3 hari hilang katanya. Dalam hatiku mulai curiga lagi, sehingga kuperintahkan para PRT mencari sampai ketemu. Herannya tidak sampai hitungan jam, kunci motor tersebut ketemu.
Sampai puncak tragedi pada saat kami bawa Fhea dan Reig ke jakarta, ada teman yang 7 bulanan kehamilan. Kami memakai mobil jazz, sementara avanza diparkir di parkiran rumah. Motor pun dimasukkan ke dalam rumah. Sampai di jakarta setelah acara selesai, kami di telpon dari rumah, bahwa 2 PRT baru saja mengalami kecelakaan motor. Kami pun terpaksa dengan segera pulang ke bogor.
Sampai di bogor, kami mendapati keduanya menderita luka-luka yang lumayan parah. Mereka di obati di klinik abang. Begitu kami sampai ke sana, Isna malah pingsan. Mungkin sanking takutnya. Kami bawa ke rumah sakit pmi untuk mendapatkan oksigen dan pengobatan lebih lanjut. Celakanya masuk ke sana, diperiksa dan diharuskan dijahit ulang semua luka-lukanya, dan CT-scan pula. Tapi setelah nego dengan dokternya, alangkah baiknya CT-scan yang biayanya hampir 1.2jt itu dipending dengan observasi rumah saja. Total pengobatan habis 1.2jt. Setelah itu kami pun mengantar Isna ke rumahnya, untuk dirawat oleh orangtuanya dulu. Saya jelaskan bahwa semua pengobatan ditanggung oleh saya, walau anaknya yang salah telah menggunakan motor tanpa ijin padahal baru belajar motor pula. Rumahnya jauh ke dalam, melalui gang sempit dan gelap. Hatiku dag dig dug, karena mengantar menggunakan mobil baru pula (haha).
Besoknya giliran orang tua si Ayu yang datang menjemput pulang. Kami antar ke terminal untuk kemudian pulang ke kampungnya. Niat mereka akan kembali setelah sembuh, tapi di sisi kami enggan untuk meminta mereka kembali, kepercayaan kami sudah hilang terhadap mereka.
Motor kami pun harus di reparasi, habis sekitar 900rb. Namun untungnya Tuhan masih memberikan sukacita buat kami semua sekeluarga. Toh anak-anak jg diselamatkan, sehat-sehat, dan juga masih ada biaya untuk semuanya. Tuhan masih begitu baik buat kami. 

Hari itu juga datang 2 PRT pengganti, namanya Ipit dan Ika, si selebor dan si tak tahu apa-apa.
Dari awal memang Mamah Fhea pun sudah tidak cocok dengan mereka berdua, masak gosong, respon lambat, dan agak sesukanya dalam berbicara.
Sekali waktu Ipit mengeluh perutnya sakit karena diguna-guna. Dia bilang muka Bibinya yang meninggal datang ke dia setiap malam. Akibatnya dia terbaring di kamar dan tidak bekerja apa-apa, sampai-sampai Ika pun harus menyiapkan makannya dan makan di kamar (*tepok jidat). 
Kejadian yang paling puncak adalah saat aku sedang ke Medan. Ika yang seharusnya menjaga Reig, memeluk Reig tapi tidak memperhatikan kalau Reig sedang memasukkan tanah ke mulutnya. Mamah Fhea marah besar.
Besoknya Ipit dan Ika sendiri yang meminta pulang kampung, dan rencana hanya 3 hari disana dan balik lagi. Dalam hati kami, kami tidak mau mereka balik lagi.

Puji Tuhannya, besoknya Tuhan menyediakan 1 PRT pengganti, sudah berumur 45tahun, orang jawa. Kami panggil Mbok atau Mbah. Dia langsung akrab dengan anak-anak, Reig juga tidak menangis kalau digendong. Syukurlah, Tuhan memberikan si Mbok ini ke rumah kami. Semoga tidak ada tragedi berikutnya.


You May Also Like

0 comment