Menjadi Diri Sendiri Setelah Menikah

by - December 15, 2011

Sejatinya seseorang diciptakan dengan keunikannya sendiri. Kemudian dalam kehidupannya banyak hal yang mempengaruhinya. Tak jarang pengaruh itu kemudian merubah keunikan seseorang. Dan kemudian seseorang itu tidak menjadi dirinya sendiri.

Tipe pengaruh bisa bermacam-macam. Seseorang bisa jadi mengalami ketakutan yang mengakibatkan dia tidak berani untuk melakukan sesuatu lagi. Bisa juga kekecewaan terhadap sesuatu membuat dia mengikrarkan diri tidak akan pernah berbuat hal yang sama dalam sepanjang hidupnya. Masalah salah atau benarnya hasil pengaruh tersebut terhadap seseorang itu lain masalah, karena bisa jadi apa yang tidak akan pernah dia lakukan lagi sepanjang hidupnya itu adalah menjadi kebaikan bagi dirinya dan banyak orang, atau juga bisa juga menimbulkan ketakutan atau keresahan bagi orang lain. Tapi yang mau saya soroti disini adalah bagaimana seseorang tidak menjadi dirinya sendiri ketika ada pengaruh.

Tidak menjadi diri sendiri bisa juga saat status berubah, misalnya dari single jadi menikah, atau katakanlah berpacaran. Karakter yang tadinya suka dengan kerapihan dan disiplin bisa berubah menjadi ceroboh dan suka-suka. Perubahan yang lain yang bisa terjadi adalah dari penggunaan waktu yang tadinya bisa mengatur sendiri jadi harus disesuaikan dengan yang lain.

Mari kita masuk ke dalam kasus yang lebih spesifik. Menikah. Saat orang menikah tentunya dia akan memiliki pasangan yang menurutnya (dan tentunya Tuhan) cocok buat dia. Pasangan atau soulmate inilah yang akan menemani dia sehidup semati, dalam suka dan duka, dalam sedih dan senang, dalam hal apapun. Saat menikah ada kecenderungan perubahan lain yang terjadi, misalkan yang menikah adalah A dan B. Yang terjadi adalah si A berubah menjadi "menuntut A dari si B", atau si B berubah menjadi "menuntut B dari si A". Disinipun sudah terjadi perubah tidak menjadi diri sendiri. 

Kasus ini sering terjadi, bahkan pada diri saya sendiri. Padahal apabila kita ambil landasan pernikahan yaitu saling melengkapi, saling mengasihi, sepadan, maka seharusnya yang terjadi adalah si A menjadi si A, dan si B menjadi si B, dan keduanya ketika tinggal di satu rumah dan berhubungan akan saling menambahkan satu dengan yang lainnya.

Tantangannya adalah tidak menjadi penuntut untuk memenuhi keinginan dan ke'aku'an kita terhadap pasangan kita di dalam pernikahan, tetapi justru menjadi diri sendiri dan berperan aktif dalam melengkapi kekurangan yang ada di dalam diri pasangan kita, sehingga terjadi harmonisasi dalam rumah tangga.

Ibaratnya tuts piano, janganlah semuanya berwarna putih semua.

Salam konseling pernikahan bersama JuKe (wekekekeke).

You May Also Like

1 comment

  1. betul bang.. tapi terkadang realisasi nya sulit.
    perlu banyak pembelajaran. :D

    ReplyDelete