Kertas Putih

by - November 08, 2011

Pada acara ucapan syukur wisuda spesialis Bang Ago, dimana sebelumnya juga sudah berlangsung acara ucapan syukur wisuda s2 ku, Bapak dan Mamah memberikan sebuah pengumuman.
Pengumuman ini unik, Bapak dan Mamah memberikan amplop berisi sebuah kertas putih tanpa ada tulisan apa-apa kepada kami bertiga anak-anaknya. Ketika memberikannya, Bapak bilang coba direnungkan dulu 1-2 minggu ini artinya apa.


Aku mengira kertas putih berarti kita anak-anaknya bebas menuliskan keinginan apa saja untuk dikabulkan. Secara kami dulu dari keluarga yang cukup-cukup saja, bukan keluarga kaya. Jadi dari kecil kami sudah dididik untuk hidup susah, tidak minta yang macam-macam, dan memendam keinginan-keinginan. Sangkin kerasnya hidup ini, kami sudah terbiasa untuk hidup apa adanya. Pergi ke gereja naik motor vespa berlima (bapak, mamah, abang, aku, dan adik), uang jajan yang seadanya sehingga terkadang harus berangkat dan pulang jalan kaki ke sekolah, termasuk melupakan keinginan untuk membeli mainan anak-anak.

Bapak sendiri setiap gajian guru pegawai negeri sipil selalu mengajak kami bertiga anaknya untuk menuju pasar anyar. Disana kami ditraktir mie ayam bangka dan es teler. Hal itu sudah menjadi barang mewah buatku dan abang adikku. Kalau aku ingat-ingat paras Bapak waktu dulu, dia sangat puas melihat kami makan dengan lahap. Bapak selalu menawarkan untuk tambah lagi, tapi kami anak-anaknya sungkan dan tidak berani. Mungkin karena sudah punya watak hidup apa adanya.

Kembali ke kertas putih tadi. Dugaanku salah. Ternyata artinya bukan itu.
Bapak dan Mamah akhirnya mengunjungi rumah kami masing-masing untuk mengutarakan arti dari kertas putih. Mereka bilang "Itu artinya semuanya sudah lunas...!", kata mereka sambil tersenyum kelihatan gigi tanda puas yang tak terkira.

Jadi dalam perjalanan keluarga kami memang tidak mudah. Awal memulai sebuah keluarga kecil pun jujur yang paling sulit adalah keuangan. Kami bertiga pun demikian tanpa terkecuali. Terkhususnya aku, awal meniti keluarga seingatku untuk down-payment rumah yang sekarang kucicil ada sumbangan dari Bapak Mamah, untuk biaya 1 semester uang kuliah s2ku itupun sumbangan dari Bapak Mamah. Dan masih banyak lagi yang kalau dijabarkan satu-satu mungkin aku tidak ingat lagi. Orangtuaku ini mengerti betul betapa sulitnya langkah pertama dalam meniti apapun dalam kehidupan ini.

Bapak Mamah selalu berusaha untuk adil terhadap anak-anaknya. Kertas putih ini sama untuk kami bertiga, tidak ada perbedaan. Di kata pengantarnya, Mamah bilang jangan hitung-hitungan berapa hutang kalian,  ada yang lebih besar dari yang lain atau sebaliknya. Intinya kalian semua dapat kertas putih.

Aku bangga punya orang tua seperti kalian. Banyak didikan unik yang kalian terapkan, yang kalau aku selami punya nilai filosofi yang sangat dalam, dan seni yang sangat tinggi.

Terima kasih Bapak, terima kasih Mamah.






You May Also Like

0 comment