Keinginan yang banyak VS Fokus

by - September 23, 2011

Bertahun-tahun hasrat ini juga tetap ada: Ingin menulis dan membuat sebuah buku kecil saja yang isinya tentang kisah menarik yang bisa ditarik pelajaran di dalamnya.
Lucunya, saat teduh kemarin mengingatkan agar fokus kepada satu hal dalam kehidupan. Isi saat teduh tersebut sangat paradox dengan kehidupanku selama ini.

(tarik nafas dalam-dalam) Fokus memang sulit sekali aku lakukan. Bagiku pribadi, mendengarkan cerita orang lain dengan konsentrasi dari awal cerita sampai akhir saja sulit dilakukan. Kejadian yang paling sering adalah aku menarik kesimpulan di tengah-tengah cerita, sisa ceritanya aku hanya pura-pura serius mendengarkan dan mengangguk-angguk tanpa mengikuti lagi alur ceritanya.
Celakanya, aku ketagihan melakukan hal ini untuk hal-hal yang lain. Kecenderungan scanning ini berlaku juga dalam pekerjaan, pelayanan, keluarga, bahkan kehidupan sebagai orang tua.

Kini aku dituntut pada hal yang sangat berbeda dengan kebiasaan ini.
Aku mulai mengerti bahwa mengajarkan anakku mewarnai harus fokus tentang pegangan tangannya pada crayon, melihat dia tidak mewarnai diluar garis, kalau keluar garis memberi peringatan, tidak mengajari sambil mengetik blackberry karena anakku akan langsung merasa tidak diperhatikan dan hilang mood untuk meneruskan. Contohnya tadi malam, Fhea minta diajarkan mewarnai sementara persis di depanku ada acara film TV yang sangat menarik (film Frequency di Global TV). Beberapa kali aku dipergoki oleh Fhea sedang memperhatikan TV bukan dirinya yang sedang sibuk mewarnai dan membutuhkan bimbingan dan pujian. Sampai akhirnya aku bertopang dagu dan melihat fokus kepada Fhea yang sedang mewarnai.

Sampai akhir tulisan blog ini, aku pun masih bingung apakah fokus itu berlawanan dengan keinginan yang banyak. Apakah punya keinginan yang banyak berarti tidak fokus? Tidak juga. Dan juga punya sedikit keinginan juga bukan hukum pasti untuk bisa fokus.

Kok jadinya pembelaan diri ya? Hahaha.
Well, kembali kepada firman Tuhan di saat teduh tadi, satu hal dalam kehidupan. Mengeliminasi beberapa keinginan kita bisa jadi membuatnya menjadi lebih fokus. Ibaratnya lensa pembesar untuk membakar kertas. Semakin kecil titik fokusnya, semakin dia tajam dan panas, semakin cepat kertas terbakar. Sementara semakin besar titik fokusnya, bisa jadi tidak ada sama sekali kertas yang terbakar.

*still thinking what things to eliminate, and what things to be focus with*


You May Also Like

0 comment