Singa, Pertunjukkan, Bayaran, dan Kandang

by - July 28, 2011

Adalah seekor singa, dari kecil sudah berada di dalam sebuah sirkus. Singa ini sudah dilatih bertahun-tahun untuk bisa memberikan begitu banyak trik dalam pertunjukkannya.

Si singa menyukai pertunjukkannya. Dia senang sekali kalau bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya pada semua orang dan terlebih pada pelatihnya.

Pelatihnya pun senang melihat begitu banyaknya penonton terhibur apabila si singa menunjukkan kebolehannya. Tambah lama sirkusnya tambah besar, tambah penghasilan buat si pelatih.

Karena penghasilan sirkus sudah besar, dan mereka pun sudah terkenal, si pelatih memberikan bayaran yg lebih baik kepada si singa berupa makanan yg lebih banyak dan lebih enak. Ini sebagai kompensasi kerja keras si singa mengadakan pertunjukkan.

Si singa merasa puas dan kenyang. Ternyata sirkus ini akhirnya bisa menjadi besar, berkat jasanya jg sedikit banyaknya. Si singa jg menikmati makanan yg enak diberikan oleh sang pelatih. Motivasinya bertambah besar untuk memberikan pertunjukkan yg lebih baik.

Pada saat yg sama, si pelatih merasa harus menaikkan jadwal pertunjukkan. Singa-singa lain dimasukkan. Demi mencapai ambisi, sirkus ini melakukan perekrutan singa besar-besaran. Banyak singa yg datang ternyata karena kedekatannya dengan si pelatih. Pelatih pun langsung saja memasukkan singa-singa lain tanpa tedeng aling-aling tanpa melihat kompetensi dan kemampuannya.

Pertunjukkan bertambah banyak, singa pun bertambah banyak, dan penonton pun bertambah ramai. Ya, sirkus ini sudah menjadi sirkus yg paling besar diantara semua. Si pelatih pun menjadi pelatih singa terbanyak sepanjang sejarah sirkus tersebut.

Seiring dengan waktu, si singa mulai bisa mengenal perangai singa yang lain, ada yang penjilat dan hobinya menjatuhkan orang lain, ada yang karena merasa punya kemampuan lebih seenaknya tidak mau berlatih rutin sehingga dia seenaknya hadir hanya 7 hari dari 20 hari berlatih. Ada lagi singa yang dibayar besar sekali padahal kompetensi dia no besar, dia selalu bilang bahwa dia akan memperbaikinya dikemudian hari, tapi ternyata bohong besar karena si singa memang pada dasarnya tidak mampu melakukannya. Dan banyak dari singa-singa lain itupun lebih sering mengaum daripada melakukan pertunjukkan yang bagus.

Si singa pun mulai menunduk lesu.
Dia selama ini yang tidak pernah memperhitungkan bayaran, dia hanya ingin mempertunjukkan apa yang terbaik dari dirinya. Dia selama ini tidak pernah telat dan absen berlatih karena pelatih selalu bilang bahwa dia bisa melakukan yang lebih baik lagi. Tapi begitu melihat kenyataannya sekarang, dia merasa kecewa terhadap diri sendiri, kecewa terhadap pelatih, kecewa terhadap singa-singa yang lain. Lebih dari rasa kecewa itu sendiri, si singa merasa ada atau tidaknya dia tidak lagi menentukan dalam pertunjukkan sirkus. Si singa merasa tujuan sirkus tidak lagi menjadi tujuan dia.

Pada saat  yang sama, semakin banyak singa yang di rekrut, semakin sempit pula kandang yang tersedia. Semakin lama kandangnya semakin tidak nyaman, tidak bersih, dan tidak layak untuk ditempati. Lucunya, si pelatih selalu memarahi dia karena hal tersebut, kenapa dia tidak pernah memperhatikan, harusnya bisa menjaga kandang sendiri. Ditambah lagi dia terus menerus ditekan untuk meningkatkan performance karena dianggap karena dianggap adalah kesalahan dia apabila keuntungan pertunjukan menurun, penonton berkurang, atau atraksi menjadi kurang menarik.

Semua tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan.

Akhirnya diam-diam si singa pun ikut sekolah sirkus yang resmi. Dia ikut kelas lanjutan yang jamnya malam hari yang memaksa dia menyisihkan waktu istirahatnya sehabis pertunjukkan. Dia mempelajari bagaimana seharusnya atraksi yang baik, bagaimana seharusnya kita memperlakukan singa-singa, bagaimana seharusnya sebuah kandang dibangun dan dipelihara, bagaimana seharusnya singa-singa dibayar berdasarkan kompetensinya. Dan dia berhasil lulus dengan cum laude di sekolah sirkus tersebut, sangat memuaskan.

Sampailah waktu dia di wisuda. Pada saat itu pula lah, ada sebuah sirkus kecil yang menawarkan dia pekerjaan sebagai pertunjukkan utama sekaligus pelatih singa-singa di sirkusnya. Si singa tersenyum lebar begitu melihat penawaran yang sangat menarik dan betapa banyaknya hal yang bisa dia lakukan disitu. Dia menemukan kembali dirinya, dia menemukan kembali hasratnya, dia menemukan kembali jiwanya.

Sampai cerita ini ditulis, si singa masih menunggu hari menyampaikan hal mengenai pengunduran dirinya sebagai singa di sirkus yang selama ini membesarkan dirinya. Tapi si singa pun yakin tantangan yang akan dihadapi di sikus yang baru pun akan sama besar atau bahkan lebih besar dari yang saat ini dia hadapi. Namun setidaknya, dia sudah punya pengalaman dan pembelajaran dari apa yang pernah dia alami yang tentunya tidak akan dia lakukan kepada orang lain.

(ditulis oleh Julbintor Kembaren berdasarkan kisah nyata)

You May Also Like

2 comment