Menjadi lebih pintar dengan berlaku sok bodoh

by - July 27, 2009

Sebuah quote yang kubuat sendiri : "Menjadi lebih pintar dengan berlaku bodoh". Bukan sebaliknya : "Menjadi bodoh dengan berlaku sok pintar". Keduanya berlawanan bukan dalam artikulasi, tapi dalam pengertian tindakan.

Pencapaian suatu prestasi di dalam sebuah pekerjaan selalu dinilai dengan gaya 'performance', 'competence', dan 'job status'. Semua adalah angka, nilai, dan rasio. Seseorang akan dituntut mencapai sebuah titik yang lebih tinggi walaupun dia sudah berada di puncak. Itulah dunia kerja, orang banyak bilang 'tuntutan hidup'.

Saatnya menjadi lebih bijak. Seberapa banyak diantara kita punya motivasi yang menggebu-gebu dalam bekerja? Dan seberapa banyak diantara kita merasa dibayar sesuai dengan pencapaian yang diraihnya? Saya rasa sedikit orang yang merasakan hal tersebut. Kebanyakan dari kita adalah orang-orang yang adalah pekerja punya konsep bahwa kita selalu dibayar kurang dibandingkan dengan apa yang sudah kita kerjakan.

Saya berusaha tidak memberikan prinsip de-motivasi kepada pembaca. Tapi apakah yang lebih baik, mengeluarkan tenaga 10 sekarang dan dibayar 8, dibandingkan dengan punya tenaga 10 nanti dibayar 8?

A Moslow menegaskan bahwa setiap orang punya state of life, tingkatan kebutuhan yang sedang dijalani. Tapi bukankah banyak orang juga punya loncatan-loncatan yang tidak bisa disusun menjadi hirarki kebutuhan? Mereka yang terkadang tidak punya kebutuhan psikologis untuk mendapatkan uang, tapi langsung meloncat menjadi sebuah aktualisasi diri? Mereka yang bahkan sudah mencapai aktualisasi diri, tapi merasa membutuhkan tambahan self-esteem?

Bukan prinsip de-motivasi, melainkan bagaimana kita memberi tingkatan self-esteem kepada perusahaan tempat kita bekerja untuk kemampuan yang kita miliki. Kalau kamu punya 10, berikan dahulu 6, tapi bilang kamu bisa melakukan 10. Kalau kamu punya 4, berikan 3 dahulu, tapi bilang kamu bisa melakukan yang lebih baik lagi ke depan. Kemudian, wujudkan yang 10 itu, wujudkan yang 3 itu. Atau mungkin berikan 15 atau 5.


Untuk melakukan ini, yang kita butuhkan adalah kemampuan managerial dalam mengelola sumber daya yang kita miliki. Saya menyebutnya "Save your breath" technique. Bekerja seperti sedang melakukan pertandingan renang. Kita harus tahu berapa kali kita harus bolak-balik sampai selesai. Didetail lagi dalam bolaknya sendiri kita harus bisa hitung berapa kali kita akan menarik nafas. Seorang juara renang tidak akan pernah menjadi juara kalau dia kelebihan dalam menarik nafas dalam satu kali putaran. Itu artinya dia tahu persis kapan harus menariknya, menahannya, dan kapan harus mengeluarkannya. Bukankah perjalanan bekerja kita masih panjang? Seberapa panjang yang sudah dilalui? Seberapa panjang lagi yang akan kita lewati? Semua itu harus dapat di measure dengan beberapa indikasi. Sebut saja Performance Appraisal. Seandainya ada 1x dalam 1 tahun untuk Performance Appraisal, maka kita punya waktu minimal per 3 bulan untuk menunjukkan hasil kerja kita. Kalau Performance Appraisal adalah 2x dalam setahun, berarti setidaknya 2 bulan sekali kita harus perform.

Setiap orang punya batasan dalam melakukan pekerjaan. Komitmen yang menjaga seseorang tetap melakukan pekerjaannya. Komitmen pun dibuat dua arah. Seharusnyalah memang komitmen karyawanlah yang dituntut terlebih dahulu. Nah, yang sering salah langkah adalah dari awal 3 bulan masa percobaan, karyawan tersebut sudah mengeluarkan semua kemampuannya sampai maksimal. Akhirnya bulan-bulan berikutnya dia tidak bisa mencapai tingkatan yang lebih tinggi. Dan ketika hal ini terjadi, perusahaan tempat dia bekerja akan menilai bahwa dia tidak lagi perform, walaupun sebenarnya dia sedang perform di dalam tingkatan yang sama. Pada saat inilah kemudian perusahaan akan mulai mencari orang yang satu level dengan karyawan tersebut sekarang, dan diharapkan bisa mencapai tingkatan yang lebih tinggi.

Prinsip "Menjadi lebih pintar dengan berlakuk sok bodoh" sangat penting diterapkan karyawan. Terlebih dalam proses pencapaian prestasi kerja, sebaiknyalah dilakukan dalam tahapan-tahapan secara bijak oleh si karyawan.

Tidak perlu menjadi sok pintar dan tahu segalanya, karena justru hal itu akan menghancurkan kita.

You May Also Like

0 comment