Mengambil kembali waktu yang terhilang

by - March 03, 2009

Beberapa minggu ini sedang banyak konflik di rumah.
Hal-hal yang kecil menjadi besar, yang tidak penting menjadi sangat-sangat penting.
Mungkin ini yang sering dinasihati oleh orang-orang tua.
Mungkin ini juga yang sering terjadi di keluarga yang lain.
Ketika selanjutnya berangkat ke rumah dengan perasaan kesal.
Kemudian sampai ke rumah dengan tetap tutup mulut dan tak mau berbicara.

Padahal hal kecil itu apabila dibicarakan dan diselesaikan bisa kok.
Cuma itulah anehnya keluarga, tapi itu jugalah istimewanya keluarga.

Minggu sebelumnya padahal aku baru khotbah di Permata Bogor tentang "Jatuh Cinta".
Menerangkan bagaimana seharusnya mereka berpacaran dengan punya tujuan.
Aku dengan fasih menjelaskan bahwa penyatuan karakter adalah yang terpenting, bukan sex.
Dan minggu-minggu berikut berikutnya aku seolah dihantam oleh batu godam,
yang mengayun kediriku sendiri setelah aku menggoyangkannya.

Tapi bersyukur, semua bisa tersenyum pada akhirnya.

Kemudian aku menyadari waktu yang terhabiskan karena sebuah pertengkaran,
adalah sebuah waktu yang terhilang yang harus diganti di masa depan.

Karena seberapa kecil pun waktu tersebut, memang sudah terhilang dan sudah berlalu,
harus dihayati dengan cara yang berbeda di masa yang akan datang.
Dengan lebih baik, dengan kepala dingin, dengan sebuah senyuman.

You May Also Like

1 comment