Kau Memanggilku Malaikat

by - March 10, 2009

Akhirnya gw beres juga baca novel "Maryamah Karpov". Baca novel ini lama banget, ga tahu kenapa, dipertengahan novel ini kurang menarik isinya. Mozaik-mozaik terakhir justru lucu dan sangat berkesan.
Ya, walau pertemuan dengan A Ling kurang klimaks, dan juga alur cerita tentang penolakan ayahnya Ikal terhadap rencana pinangan ke keluarga A Ling terkesan buru-buru, tapi overall cerita ini dikemas dengan baik.
Tapi sekali lagi, judulnya cukup "sasra banget" menurutku. "Maryamah Karpov" ditulis besar dan disandingkan dengan "Mimpi-mimpi Lintang". Pemain biolanya sendiri bukan si maryamah, dan untuk sebuah perahu nama "Mimpi-mimpi Lintang" agak sedikit aneh.
Ya, maksudku sedikit tidak nyambung judulnya dan isinya.

Kemarin ke gramedia bareng istriku. Sms Raymon si Raja Buku juga, rekomendasi dia untuk novel yang akan kubaca selanjutnya apa. Dia rekomendasi beberapa yang dikemas dalam 2 sms. Aku pilih "Kau Memanggilku Malaikat"nya Arswendo, dan "To Kill a Mocking bird" karya siapa gw lupa (wakakaka, keliatan banget males ngapalin).

Hari ini di kereta baca lembar-lembar pertama dari "Kau Memanggilku Malaikat". Bahasanya lugas, blak blakkan, dan menarik. Bahkan kata-kata vulgar pun, Arswendo tidak ragu memasukkannya dalam cerita dalam novel ini.

Dan entah kenapa, gw jadi penggemar baca novel. Bukan penggemar berat banget, yang artinya mengkoleksi banyak sekali novel. Tapi sampai sekarang intensitas baca novelku berkelanjutan, setelah habis novel yang satu dilanjut lagi dengan novel yang lainnya. Kebiasaan ini dimulai sejak Raymon si Raja Buku menghadiahi aku novel "The Kite Runner" dalam cross-kado b5. Padahal dia tau, gw ga hobi banget baca novel. Menulis memang sedikit hobi, tapi baca novel...dulu tidak ada kebiasaan itu tersirat. Tapi akhirnya dia berhasil menularkan hobi baca ini ke aku. Hm, selamat deh Mon!


You May Also Like

0 comment