...and all connected!

by - February 06, 2009

Semakin hari, keinginan yang ditaruhkan Tuhan ini semakin menjadi.
Membuat otakku seakan mau meledak!
Hati ini selalu gundah ketika memikirkannya
Rentetan kejadian bagai kilapan meteor menimpa bumi
Semua kutatap dengan mata sendiri
Dan cahaya terangnya masih membias terus
Tidak pernah hilang

Ternyata Tuhan tidak pernah diam
Dia lebih kreatif dari diriku, dari siapapun
Keinginan yang tadinya hanya sekecil lintah
Tapi kemudian menyedot darah tubuhku
Menjadikannya bertambah besar
Menjadikannya bertambah banyak
Terus bertambah sampai aku sendiri tak tahan
Rasanya sakit tapi entah kenapa aku menikmatinya

...and all connected!
>>Dahulu orang tuaku bilang "profesi paling aman adalah dosen atau guru"
"Salah satu diantara kalian ambillah PNS, jangan dua-duanya di swasta"
"Ayo siapa lagi diantara kalian yang mau sekolah lagi, silahkan. Kami dukung sebisa mungkin!!! Sekolah lah setinggi-tingginya"

<<Aku bilang "Ah, untuk apa sekolah lagi, sekarang belum perlu"

>>Adikku bilang "Bang, ayo lanjut aja S2, mumpung Fhea masih 0 tahun"

<<Aku menyahut "Untuk apa? S2 hanya buang-buang waktu. Semuanya bisa dipelajari sendiri"

>>Abangku berkata "Kamu ga ambil S2 lagi? Mumpung masih umur dibawah 30tahun. Nanti pasti perlu"

<<Ah, kecuali kalau aku mau jadi dosen atau PNS, mungkin S2 perlu. Sekarang di kantor blm perlu, bang"

>>Istriku setiap pembicaraan sebelum tidur selalu bilang "Abang aja dulu yang sekolah lagi, aku mau ngurusin Fhea dan adeknya dulu nanti"

<<Aku bilang "Ah, aku belum perlu dek. S2 itu tidaklah perlu!"

>>Masuklah bos baru di kantor dengan pengalaman pekerjaan yang lebih dari 10 tahun dan tanpa background S2."

<<Kok seperti ada yang kurang!

>>Masukkan teman-teman di IT yang juga punya pengalaman seabrek dalam satu field saja. Mereka menduduki posisi di atasku

<<Aku menyadari bahwa aku orangnya "generalist", menguasai banyak hal tapi tidak mendalam

>>Minggu kemarin ada top level manager resign dari kantor karena sakit hati.

<<Aku merasa tidak aman dengan kondisi yang terjadi. Merasa bahwa dunia ini tidaklah bersahabat. Kapan saja kita bisa terbuang

>>Pulang kantor, cerita ke Bapak dan Mamah mengenai pemikiran-pemikiran yang mengelanyuti pikiranku belakangan ini. Merasa tidak aman dan bilang bahwa ternyata bekerja di swasta itu kejam. Bapak bilang "Sudah bapak bilang, paling aman itu PNS atau jadi dosen. Atau kamu sekolah lagi S2, Bapak dan Mamah siap mendukung!". Mamah hanya diam-diam saja sambil senyum-senyum kecil, dia tahu berapa kali pun dipaksa untuk sekolah lagi kalau bukan keinginanku sendiri tidak akan pernah jadi.

<<Aku menertawakan ide Bapak dan Mamah mengenai sekolah. Tertawa sambil berpikir. Berpikir keras. Keras menertawakan diriku sendiri

>>Sampai di rumah, istriku membawakan jahe hangat, susu hangat. Sambil pinggangku dipijitin dengan balsem karena pegal sekali sehabis nyangkul kebun depan rumah, aku cerita mengenai ledakan-ledakan dalam pikiranku mengenai sekolah lagi. Istriku bilang "Bang, ambil aja! Bentar aku hitung-hitung dulu biayanya". Istriku mengambil catatan kecilnya, dan hitung-hitungan. "Memang sih bang, biayanya mepet banget bahkan setelah 10 bulan mungkin kurang bang. Tapi bisa lah bang. Pasti Tuhan cukupkan!

<<Biaya kurang? Ouggh, aku ingin sekolah dengan biaya sendiri. Bertanggung jawab untuk hidup sendiri dan keluarga sendiri.

>>Besoknya aku ke kantor seperti biasa. Bias sinar terang meteor itu belum hilang dari mataku. Aku memutuskan untuk mulai cari informasi mengenai meteor dan ledakan-ledakan yang ada di kepalaku ini. Browsing ke website sekolahku yang dulu, Binus. Menarik. Tertarik.

<<Aku sms Mamah, mengenai biaya yang bisa 4 kali bayar, jadwal, dan lama kuliah.

>>Mamah reply "Wow, mama 1 kali, nanti kalau ada rezeki mama tambah lagi. Hehehe. Maju terus. Gbu"

<<SMS yang membuat rohku melonjak!

>>Aku telpon istriku, dan cerita mengenai informasi ini. Dia bilang "Wah, ambil aja bang. "

<<Nanti malam kita cerita-cerita ya, dek.

>>Malamnya, kami doakan semua yang terjadi ini. Berharap Tuhan yang menanamkan sebuah keinginan kecil ini, dan biar Tuhan jugalah yang membuatnya terwujud.

>>Kata istriku "Bang, aku yakin kok, kalau kam udah terjun disitu pasti serius. Ya, kam memang bilang waktu S1 bisa lulus cepet 3.5 tahun karena malas kuliah jadi ga pengen lama-lama. Tapi aku yakin lah bang, aku ga ragu". Istriku matanya berbinar-binar.

<<Ya, aku serius kali ini dek!

>>Pagi tadi naik kereta bareng adikku. Tanya mengenai MMA di IPB.

<<Boleh juga sih secara di Bogor juga. Minta ijin pulang cepet ke kantor selama S2. Walau pulang kuliah malem, tapi toh udah di bogor.

>>Sampai kantor browsing tentang MMA IPB. Menarik dan praktis. Langsung registrasi online.

<<Aku sms istriku bilang "Dek, aku barusan udah daftar MMA IPB"

>>Istriku balas "Kok IPB Bang?"

<<Aku kembali berpikir kerasssss. Niatku memang hari ini mau ke Binus JWC untuk cari informasi.

<<Aku putuskan tidak ikut Pesekutuan Doa kantor, dan menuju JWC di sebalah senayan City. Tempatnya bagus, suasananya pas. Serasa sudah kembali kuliah lagi. Ke bagian Marketing, tanya-tanya, dikasih brosur, ada open house tgl 10 ini. Semua klop!

<<Aku berjalan-jalan, naik tangga di kampus itu. Seakan aku sudah mulai kuliah disitu. Aku telpon Mamah dan Istriku "Aku lagi di Binus nih!!!". Entah kenapa luapan dan ledakan itu mencapai klimaksnya pada saat itu juga.

>>Mamah sms :  "Tor, uang tabungan asuransi bisa diambil 10jt. Dari Mamah 15. Uang kalian 20, kan tinggal 25 (nabung 2.5jt per bulan selama 10bulan, aman). Dulu juga Bella ambil uang sekolah kela. Tak usah dipikirin biaya, bisa dicari. Go ahead. Tuhan pasti beri jalan keluar. GBU!"


...and all connected!



--
www.eethore.com
::faith is seeing the unseen, believing what others not::

You May Also Like

0 comment