Mengalah itu Indah

by - May 23, 2008

Pagi ini aku berangkat naik bus ke uki dari terminal. Ada kejadian lucu di bus.

Tempat dudukku di bangku tiga. Bagian pojok sudah terisi oleh seorang pria. Seperti biasa, jarak kakinya sudah melebar untuk space yang cukup buat dia bersandar. Aku tadinya duduk di bagian pinggir. Ketika semakin banyak orang yang akan naik, aku bergeser ke bangku tengah, supaya tidak repot menyempitkan bahu dan membiarkan orang lewat menuju bangku tengah.

Seorang bapak berjaket kulit akhirnya menemaniku duduk. Kami pas bertiga. Dia duduk dibagian pinggir. Seperti yang sudah aku duga, akan terjadi ke'hebohan'. Karena pria yang duduk di pinggir kanan sudah terlanjur mengambil space lebih banyak, akhirnya aku menjadi korban yang teraniyaya ketika bapak yang dipinggir kiri mulai mendorong-dorongkan bahunya 'mengemis' space yang cukup buat dirinya agar kedua kakinya bisa masuk tepat sejajar dengan bangku yang dia tempati.

Aku tak bergoyah, karena ini bukan salahku pikirku. Aku 'pura-pura' memejamkan mataku dan membiarkan semuanya terjadi, membiarkan diriku tercabik-cabik dan teraniaya (haha). Tapi lepas memasuki jalan tol, kejadian ini terus berlangsung. Si bapak mengambil beberapa alternatif tindakan. Dia berdiri dan pura-pura membenahi jaket yang dia pakai, kemudian 'blukk!" dia duduk sambil menggeser badanku. Ada lagi gerakan dia membetulkan kerah dimana tangan kanannya bergerak ke atas sambil menggeser bahuku.

Awalnya aku mendumel di dalam hati. Oh my God, egois sekali semua orang di dunia ini. Beratus kali aku duduk di pinggir dalam posisi yang sama dengan bapak ini, aku pun menyerah dan mengalah. Apakah kali ini pun ketika posisiku 'diatas angin' aku harus menyerah dan kalah?

Akhirnya aku mengalah. Aku condongkan badanku ke arah depan dan tanganku memegang bagian belakang bangku depanku. Aku menangkap reaksi ini menimbulkan keheranan bagi si bapak ini. Aku tetap tenang dan memejamkan mata, seolah nyaman dengan posisi ini (padahal tidak sama sekali, karena tas yang aku rangkul cukup besar dan tinggi sehingga daguku tidak bisa berada di atas tas, sehingga mukaku terpaksa kubenamkan di sisi belakang tas).

Tapi setelah tindakan ini, si bapak sama sekali tidak ada gerakan gasak gusuk lagi. Situasi tenang dan nyaman.

Hampir sampainya di uki, bahkan hal ini terjadi. Si bapak memutar badannya ke kiri, dan hanya menempelkan pantatnya di bangku. Tentunya ini memberiku cukup banyak space untuk bisa menyandarkan punggungku di bangku.

Ah...ternyata mengalah ini indah...

You May Also Like

0 comment