Suatu Kebesaran Hati

by - January 25, 2007

Rasanya sudah cukup lama aku tidak pernah dimaki-maki, dicabik-cabik, dan dikata-katai macem-macem. Selama ini aku selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain. Tapi tentunya, telur tanpa retak tidak akan pernah menetas. Demikian juga proses pendewasaan diri perlu suatu kejatuhan, agar bisa mengerti dan paham betul rasanya, bukan sekedar tahu dan kira-kira tahu.

Tapi kali ini bersyukur aku kembali jatuh, namun tidak tergeletak. Saat aku mulai bangkit, dan merekonsiliasi semuanya, tiba-tiba aku kembali dicambuk sampai terjatuh. Bahkan diludahi setelah terjerembab. Beruntung aku punya Tuhan!

"be careful with words, someday it will kill yourself".

Aku disebut orang yang sok suci, anak kecil yang tidak tahu apa-apa, perusak hubungan orang lain, tidak peduli dengan perasaan orang lain, dan tukang janji yang tidak bisa menepati. Aku tidak ingin mengaminkan itu semua. Tapi aku ambil sisi baiknya, sedikit banyak hal ini menjadi koreksi yang cukup tajam bagi aku. Sehingga aku bisa meminta tolong kepada bapak "Pak, tolong doakan Itor, masalah ini sungguh membuat Itor penuh dan tidak tahu harus bagaimana. Itor sedih! Pastinya doa bapak akan memberi kekuatan bagi Itor". Bapak berdoa, tidak sambil memegang tanganku, tidak sambil merangkul aku, tapi memperlakukanku sebagai orang yang sudah cukup dewasa, dia melipat tangannya sendiri dan membiarkan aku melipat tanganku juga. Aku tidak terlalu hapal dengan doa yang diucapkan Bapak, karena saat itu mataku penuh dengan tetesan air mata. Tapi diakhir doanya, Bapak bilang ke Tuhan "biarlah Itor menjadi cukup bijaksana dan dewasa untuk mengambil langkah-langkah hidupnya. Dan suatu saat, dia bisa kembali rukun dengan teman yang memusuhinya". Di dalam tangisku, aku bersyukur bahwa Bapakku mengerti benar perasaanku. Selesai berdoa, dia mengelus punggungku, seperti yang biasa dia lakukan, sambil berkata "Anakku, kamu tidak perlu selalu berusaha merubah orang lain. Hal itu tidak perlu. Setiap orang punya jalannya sendiri-sendiri". Hatiku kembali direngkuh oleh suatu perasaan perendahan hati, suatu rasa pengampunan yang harus aku miliki disertai dengan kebesaran hati.

Mengampuni akan menjadi hal tersulit bagiku, karena aku merasa tidak bersalah. Tapi suatu kebesaran hati akan mempengaruhi aku seiring dengan waktu, dan kasih Tuhan akan terus mengalir dalam hidupku. Aku mengampunimu...

You May Also Like

0 comment