Proyek Ketaatan : Mijitin Bulang tiap malem

by - November 07, 2006

Hari-hari belakangan ini aku disibukkan dengan kegiatan yang cukup unik. Sebuah proyek kecil dan tidak terlihat, karena terjadi di rumah setiap aku pulang kerja. Proyek ketaatan itu berjudul mijitin Bulang tiap malam.
Bulang sekarang tinggal di rumah, bogor. Nenek yang pergi meninggalkan Bulang memaksa keadaan menjadi tidak mudah buat kami semua. Dan Bulang
sendiri yang memutuskan untuk tinggal di bogor, karena kalau tetap tinggal di sei batu gingging pasti akan terasa sekali suasana sedih dan sendiri.
Paulus Keliat, begitu nama Bulangku. Seorang yang bijaksana dan keras. Latar belakang kehidupan pada saat jaman kemerdekaan membentuk karakter yang begitu kental dengan militer di dalam diri Bulang. Namun demikian, belakangan aku melihat sosok ini berubah di mataku, berubah menjadi sosok yang berpikir panjang dan penuh kasih.

Sudah hampir 4 malam berturut-turut aku memijit bulang. Ah, malam ini aku pulang jam 10 dari kantor. Badan sudah penat, dan mata sedikit berkunang-kunang. Yang aku ingin lakukan hanyalah langsung rebahan di tempat tidur dan beristirahat. Sampai di rumah jam 00.00, beruntung Bapak sempat telepon ketika di jalan, dan aku meminta supaya gerbang tidak digembok dahulu. Langkah gontaiku menuju gagang pintu dan membuka kuncinya dengan milikku yang kuambil dari dompet. Pelan sekali aku memasuki rumah. Kulepas sepatu dan kaos kaki. TV masih hidup dan kulihat Bulang masih menonton.
"Bulang belum tidur?", sahutku.
"Belum, tadi sudah tidur tapi kaki Bulang kedinginan. Bulang tarik selimut supaya ga dingin, malah jadi keringetan", kata Bulang dengan suara agak lirih.

Aku bergegas ke dapur, dan meneguk segelas air putih segar. Di dalam otakku berkecamuk pikiran untuk segera ke atas dan tidur. Tapi waktu kulihat Bulang kuingat proyek ketaatanku. "Tapi ini udah jam 00.00 dinihari man! "
"Proyek ketaatan..."
"Gila lu! Nanti-nanti juga bisa kaleeee. It's time for sleep!"
"Look at your granpa...look at his eyes..."

Kuputuskan sudah. Aku segera meletakan gelasku. Dan melangkah dengan agak cepat menuju ke tangga atas.
Sambil lewat aku bilang "Bulang, aku ke atas dulu ya...".
"Eh, Itor...coba tolong dulu Bulang ini. Ga bisa tidur. Mungkin kalau dipijit jadi bisa tidur.", sahut Bulangku dengan nada berharap, sama sekali bukan memerintah.
Aku lantas tertegun. Langkahku terhenti dan aku memutar balik badanku.
"Ya, aku harus memijit Bulang", seru hatiku.
"O iya Bulang", kataku. Masih dengan pakaian kerja, aku duduk disamping Bulang dan mulai memijit dari kaki.
Bulang langsung mengerang keenakan. Sepertinya dia menantikan sekali pijitanku sekali ini.

"Tor, kok pulang malam sekali", kata Bulang sambil menikmati pijitanku.
"Iya Bulang, tadi di kantor ada kerjaan dan harus selesai malam ini". kataku hampir terkantuk-kantuk namun tetap serius memijit.
"Bulang khawatir sekali kalau kam pulang malam seperti ini. Perlu dipikirkan itu. Seandainya gajinya kurang setengah dari sekarang pun kalau bisa pulang lebih awal, tidak mengapa itu", kata Bulang dengan suara pelan. Tapi dalam setiap nadanya ada ketegasan yang tersirat.
"Iya Bulang...", kataku pelan.
"Iya, jangan gaji aja yang besar. Kam harus mulai pikirkan juga kesehatan. Maksimal bekerja itu 10 jam sehari. Kalau kerja kam seperti ini sudah tidak sehat lah", kata Bulang lagi.

Otakku menerawang mengartikan setiap makna kata yang terkandung dalam kalimat yang baru saja aku dengar. Kalau aku melihat hanya 5 atau 10 tahun ke depan, tapi Bulang melihat 20-50 tahun ke depan mungkin. Sungguh aku dibukakan dengan kata-kata sederhana itu. Banyak sekali rahasia yang terkandung di dalamnya, dimana Bulang ingin mengatakan bahwa uang bukan segalanya, uang masih bisa dicari, Tuhan pasti menyediakan. Mungkin juga Bulang ingin mengatakan bahwa aku harus menjadi bijaksana akan hidup ini.

Selesai memijit, dimukaku ada senyum. Ya, aku beruntung memiliki kesempatan ini setiap malam, sebuah proyek yang kecil dan tidak terlihat. Belajar tentang kehidupan, belajar tentang kebijaksanaan...

Love u, granpa!

You May Also Like

0 comment