Kebebasan bukan pilihan!

by - August 08, 2006

Saya pernah melihat tayangan di televisi yang menayangkan kesaksian tentang seorang pemuda yang mengklaim telah terbebas dari jeratan narkoba. Awalnya dia adalah seorang pecandu narkoba yang sudah parah sekali, sampai seluruh keluarganya dibuat menderita juga karena satu-persatu barang-barang di rumah harus dijual untuk membiayai pengobatan si anak. Dia memberikan kesaksian bagaimana dia bisa lepas dari keterikatannya dengan barang haram tersebut, dan sekarang sudah mulai bisa ‘berdiri’ kembali untuk menjalani kehidupan yang sebenarnya.

Terpikir oleh saya ketika menonton tayangan itu, bagaimana seandainya dia tidak pernah mendapatkan kesempatan itu, kesempatan untuk terbebas. Bagaimana seandainya keluarganya tidak mendukung dia, malahan meninggalkan dia seorang diri, bahkan tidak mengakuinya lagi sebagai anak di dalam keluarga. Mungkin pemuda ini akan menghabisi hidupnya dalam ketergantungan narkoba dan berakhir dalam over dosis.

Man, life is so cruel!!!

Kita semua walaupun sebagai anak Tuhan, pastinya memiliki keterikatan terhadap satu atau lebih hal. Bisa jadi hal ini berkaitan dengan karakter, kebiasaan, ucapan, atau pikiran. Dalam hidup kita, sering kita berusaha untuk terbebas dari hal-hal tersebut tapi kok sepertinya sulit sekali. Entah sudah berapa kali kita memperbaharui komitmen kita kepada Tuhan, tapi kok balik-balik lagi ya?

Rasul Paulus pun mengalami hal seperti ini juga. Dalam suratnya ke jemaat Korintus dia berkata Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” (II Kor 12:7).Duri dalam daging dapat diartikan sesuatu yang menyakitkan yang hanya bisa dirasakan oleh kita sendiri, orang lain tidak. Setiap orang memiliki kelemahan, itu pasti. Tapi berfokus kepada kelemahan kita hanya akan membuat kita tidak bisa menemukan kelebihan kita, kita tidak akan pernah bertambah baik.

Ada sebuah ilustrasi tentang seseorang anak kecil. Dia sedang duduk di bawah pohon yang cukup rindang bersama dengan temannya. Ketika mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba ada kotoran burung jatuh tepat ke baju si anak. Akhirnya si anak membersihkan kotoran tersebut dari bajunya. Mereka langsung membahas bahwa noda tersebut tidak bisa hilang biarpun disikat berkali-kali. Baru selang beberapa menit, kotoran burung kembali jatuh, kali ini ke kepala si anak. Dengan tangannya dia langsung membersihkannya karena merasa jorok sekali. Kemudian mereka meneruskan obrolan mereka. Tak lama kemudian, kotoran burung kembali jatuh di atas kepala mereka. Kontan saja mereka kesal, dan menengok ke atas. Ternyata memang tepat di atas kepala mereka terdapat sarang burung.

Seperti ilustrasi tersebut, kecenderungan kita adalah memikirkan apa yang terjadi di sekitar kita karena ada akibat dan efeknya terhadap kehidupan kita. Kita sering merasa gagal, sering merasa tidak mampu melakukan sesuatu, sering menjadi anak bawang dalam segala hal, merasa tidak mampu lagi terbebas dari kebiasaan dosa, dan lain sebagainya. Ada benarnya untuk concern terhadap hal-hal tersebut. Tapi mungkin kita perlu retreat sejenak dan melihat big picture dari hidup kita, jangan-jangan semua hal tersebut adalah hanya sebagai akibat dari kita “duduk di bagian pohon yang salah”.

Yohanes 15:5 berkata “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. “ Dari ayat ini jelas sekali terlihat bahwa Allah ingin agar kita berfokus kepada hubungan kita dengan Dia, supaya kita bergaul erat, mengenal Dia, dan mengetahui kehendak-Nya. Dan justru fokus-fokus kita kepada masalah-masalah yang terjadi, keterikatan-keterikatan kita dengan kebiasaan dosa, kelemahan-kelemahan kita tidak perlu dijadikan fokus utama kita dalam menjalani kehidupan, karena hal-hal tersebut akan secara otomatis sirna ketika kita mengetahui kebenaran dan kehendak Tuhan dalam hidup ini. Tentunya Tuhan akan memberi kita kekuatan untuk mengatasi segalanya.

Kebebasan dari dosa bukanlah pilihan, tapi hak kita sebagai anak Tuhan. Pilihan status kita berada di antara bebas dan tidak bebas, sedangkan hak berarti hal tersebut sudah menjadi milik kita. Dan memang benar, kebebasan dari dosa sudah menjadi milik kita, Tuhan Yesus yang memberikannya. Suka atau tidak, diambil atau tidak, itu sudah dinyatakan menjadi milik kita. Dan bersyukurlah kita mengetahui kebenaran ini sehingga kita dapat berkata “…aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.”( II Kor 12:10)

You May Also Like

0 comment