Kisah 2 Orang Kesatria

by - June 20, 2006


"Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri." (Roma 14:4)

Ada sebuah cerita tentang dua orang kesatria karangan aku sendiri. Mereka pada masa muda mereka sudah terpanggil untuk berlatih menjadi benar-benar seorang kesatria yang sejati. Setiap hari mereka melatih badan mereka supaya kuat, berlari dengan cepat, memukul dengan kuat, dan mengeluarkan suara keras supaya orang gentar melihatnya. 2 kesatria ini tidak saling mengenal, walaupun sebenarnya rumah tinggal mereka tidaklah jauh.

Setiap hari mereka berlatih sendiri-sendiri di depan halaman. Karena sanking tingginya pagar rumah mereka, mereka tidak bisa melihat ke seberang rumah mereka.
Dua-duanya semakin hari semakin kuat dan tangguh, dan hampir tak terkalahkan. Mereka begitu yakin bahwa mereka sudah mampu untuk membela rakyat mereka ketika nanti ada serangan musuh.
Sampai pada suatu ketika, kedua kesatria ini terpanggil untuk berperang. Rakyat mereka senang dan gembira menyambut kedua kesatria ini untuk berperang. Mereka bersorak-sorai melihat bagaimana postur tubuh kedua kesatria ini begitu meyakinkan untuk dapat mengusir semua musuh yang akan memporakporandakan desa mereka.
Malam harinya, seluruh rakyat merayakan pesta sepanjang malam, tanpa kedua kesatria itu. Di tempat lain, kedua kesatria itu mengalami kondisi menegangkan yang amat sangat, karena besok hari mereka akan berperang. Rakyat begitu yakin akan mereka. Malam itu merupakan pesta bagi rakyat, tapi mimpi buruk bagi para kesatria.
Pagi harinya, perang dimulai. Seluruh rakyat tertidur pulas sanking capenya berpesta semalam suntuk. Sementara kedua kesatria ini bergegas memakai baju zirah, ketopang, pedang, sepatu perang, dan mulai maju berperang. Sementara mereka berperang, seluruh rakyat masih tertidur dengan pulas, yang terdengar hanya suara dengkuran. Dan memang akhirnya mereka membawa kemenangan, seluruh rakyat terselamatkan berkat kedua kesatria ini. Mereka benar-benar tangguh dan tidak terkalahkan.
Malamnya seluruh rakyat merayakan pesta lagi, kali ini bersama kedua kesatria penyelamat mereka. Seluruh rakyat dan kesatria dimabukkan didalam kemenangan yang luar biasa. Semua bersenang-senang, sampai suatu ketika terdengar suara teriakan.
"Aaaaaaa.....", salah satu rakyat yang mabuk itu menghujamkan pisau pemotong daging ke arah salah satu kesatria. Tentu saja kesatria itu mengelak. Tikaman pisau itu berlanjut ke arah kesatria satunya lagi yang kebetulan berada di dekatnya. Kesatria ini tidak sempat mengelak, karena tengah asik bermesraan dengan seorang wanita. Tanpa sadar, pisau itu menusuk tepat di lambungnya. Kesatria tersebut jatuh, dan tewas seketika. Walau masih dalam kondisi mabuk, seluruh rakyat beserta kesatria satunya lagi lantas tersadar akan bahaya yang ada di depan. Kesatria kedua langsung mengeluarkan pedang dari sarungnya, dan menantang pembunuh tadi. Tiba-tiba dari arah belakang, seorang anak muda menusukkan pisau belati kecil ke arah punggungnya. Untungnya sang kesatria sempat melihat kebelakang. Alangkah kagetnya sang kesatria begitu melihat bahwa penusuk adalah anaknya sendiri. Sang kesatria sempat menjauh dari tusukan tersebut, sehingga tidak sampai menembus jantungnya.
Akhirnya jatuhlah juga sang kesatria ini bersimbah darah. Anaknya berdiri dengan memegang pisau tadi dengan mata melotot dan tidak bergeming.
Seluruh rakyat yang melihat kejadian itu hanya bisa menonton tanpa melakukan apapun juga.
Sang kesatria yang kedua belumlah mati...dia masih bisa mengangkat tangannya ke atas untuk meminta pertolongan.
Sampai beberapa menit kemudian, belum ada yang melakukan apapun juga. Semua tidak bergerak dari tempatnya. Malahan kemudian rakyat-rakyat yang menyaksikan itu mulai berbisik-bisik satu dengan yang lainnya, menuding sang kesatria tidak mampu mendidik anak sehingga menjadi pemberontak.

Tangan sang kesatria masih mengepal dan terangkat ke atas...
Sang istri yang melihat itu menangis dan mulai mendekat. Dia berteriak "Tuhan...selamatkan dia...!!!".

Dan rakyat belum ada yang bergerak juga. Si anak pun sudah menurunkan pisaunya, mukanya merah padam dan mulut tertutup.

Dan rakyat belum ada yang bergerak juga...semua masih diam...tapi tidak membisu.

Tangan sang kesatria masih mengepal dan terangkat ke atas...menunggu pertolongan.

(based on true story)
-------------------

Memang kekristenan itu bukan soal seberapa besarnya kamu dipandang rohani oleh orang lain. Bukan juga soal cara bicaramu yang benar-benar penuh dengan ayat-ayat alkitab.
Tidak juga tentang melakukan suatu kegiatan rohani yang sangat banyak sehingga kita hampir menghabiskan waktu kita seolah-olah untuk Tuhan.
Kekristenan juga tidak membahas tentang seberapa hebatnya kita di mata dunia karena sanggup membawa orang lain bertobat.

Karena semuanya itu sia-sia apabila kita tidak memiliki kasih.
Kasih menurut saya identik dengan kesetiaan, karena kesetiaan berarti memiliki komitmen untuk mengasihi apapun yang terjadi.


Mungkin, hanya mungkin...
Kekristenan itu berarti ketika kita dipandang rendah oleh orang lain secara rohani, kita tetap setia.
Ketika kadang kita gagap berbicara di depan orang banyak dan dicerca orang karena cara bicara kita, kita tetap setia.
Sewaktu kita tidak memiliki bakat lain selain satu bakat itu, dan sepertinya kita terkucilkan karena tampaknya kita tidak bisa mengambil bagian banyak dalam suatu kegiatan rohani, kita tetap setia.

Kekristenan berarti ketika kita sedang berada di dalam kejatuhan yang amat dalam...kita tetap setia.

You May Also Like

0 comment