"Mereka anak baik-baik..."

by - May 18, 2006

Pulang dari kantor, naik damri. Kebetulan karena beberapa hari ini damri baru "keluar dari penjara" karena kasus polisi yang mintain duit untuk trayek kita, jadi bus kita terpaksa gonta ganti jalur, keluar masuk penjara, dan bayar duit ke polisi (kurang lebih 42 juta...ckckck).
Damri yang jam 06 sekarang lewatin sentul. Sebenernya kalo lewat sentul aku jadi lebih jauh, karena harus naek bus sekali lagi. Tapi yah, memang masih lebih enak dibanding kalo naek bus ke uki dulu...mpffhhhh ngebayanginnya aja udah "ga bijaksana"...Hahaha

Malam itu akhirnya aku turun persis persimpangan jalan baru. Hujan baru mengguyur bogor (memang kota hujan susah ya...), saat itu masih gerimis. Tapi aku enggan mengeluarkan payung, toh bentar lagi busnya juga lewat pikirku. Sambil menunggu bus, aku berdiri di pinggir jalan sambil menatap sekitar. Dideket tempatku berdiri ada anak-anak kecil bergelombol. Kurang jelas mereka sedang apa, tapi sepertinya mereka sedang bermain-main karena sambil berlari-lari dan tertawa. Akhirnya aku memperhatikan mereka juga. Sambil menaruh tanganku di jaket karena hawa malam itu agak dingin, aku bergerak agak mendekati anak-anak itu. Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba mereka berlari menuju ke arahku sambil tertawa-tawa. Ada beberapa orang anak sambil memegang aqua gelas bekas. Ah, mungkin mereka itu anak-anak jalanan yang suka ngamen juga, karena disitu memang pas sekali dengan pemberhentian lampu merah. Tiba-tiba dibelakang mereka ada bapak-bapak dengan gaya mengusir ayam seperti menghalau anak-anak tersebut. Aku perhatikan baju si bapak ini basah kuyup, mungkin kehujanan. Bibirnya yang menggigil, seperti kedinginan. Pakaiannya tidak terurus dan tidak memakai sendal. Hm, sepertinya bapak ini mungkin orang gila atau gelandangan. Dari melihat tampangnya aku yakin seperti itu.

Tapi apa yang sedang terjadi pikirku? Setelah selesai menghalau anak-anak itu, si bapak balik lagi ke tempatnya. Tempatnya adalah mulut sebuah gang kecil dengan gapura tempat dia berteduh. Ku perhatikan, dia berjongkok disitu sambil menyilangkan tangannya tanda dia sedang kedinginan. Untuk tingkah seorang gila sepertinya kurang cocok. Mungkin dia hanya seorang gelandangan...karena tampangnya tidak "membahayakan". Soalnya aku punya pengalamanku pernah hampir kena dilempar oleh orang gila pakai batu besar waktu smp. Untung ga kena...hehe :)

Gerombolan anak-anak jalanan itu tetap tertawa-tawa. Aku kemudian menyimak apa yang sebenarnya terjadi. Anak-anak yang memegang gelas aqua bekas tampak mengisi kembali gelas aqua tersebut dengan air di genangan-genangan air. Ugh, air yang jorok dan coklat (tidak disarankan untuk diminum). Tampak setelah mengisi air tersebut anak-anak tadi bergerak kembali ke tempat si bapak tua yang tengah terjongkong kedinginan. Anak-anak itu berjalan perlahan persis ke belakang si bapak tua itu. Batas gang tersebut dihalangi oleh pagar, jadi si anak-anak bisa melihat dengan jelas si bapak tua yang ada di dinding sebelahnya. Dengan tega, anak-anak tadi mengguyurkan air got yang ada di gelas aqua gelas tadi ke kepala. Bah!!! Kejam sekali seruku dalam hati. Pastinya si bapak tua itu bakal marah dan memburu anak-anak itu. Mereka langsung berlari menjauhi si bapak itu sambil tertawa-tawa karena keisengan mereka sekali lagi berhasil. Kulihat bapak-bapak itu berjalan pelan sambil melambai-lambaikan tangan supaya anak-anak itu menjauh dari tempatnya, persis seperti pertama kali yang aku liat tadi. Ternyata ini yang terjadi.

Anak-anak kecil itu bersiap lagi untuk melancarkan serangan berikutnya. Mereka mengisi aqua gelas bekas mereka dengan air got. Mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya, naluri kemanusiaanku lantas naik dan mengambil tindakan. Aku mendekati anak-anak kecil tadi dan berteriak kecil, "Woi...udah udah !!!!". Mereka tetap tertawa, tapi jadi agak ragu-ragu meneruskan apa yang sedang mereka rencanakan. "Woi...udah jangaaan!!!, kuulangi lagi peringatanku ke mereka. Akhirnya mereka mengguyurkan lagi air got yang sudah ada di aqua gelas kembali ke tanah, dan duduk-duduk. Fiuh, untung juga mereka tidak lantas mengguyurkan air got itu kepadaku. Mengetahui mereka menghentikan tindakan mereka (entah untuk berapa lama), aku berjalan mendekati si bapak tua tadi.

Si bapak itu sedang menggigil kedinginan terjongkok di depan gang itu. Bajunya benar-benar sudah basah, bukan karena hujan tentunya tapi karena guyuran air got dari anak-anak itu. Ketika aku mendekati bapak tua itu, dia seperti ketakutan. Seolah-olah dia takut aku akan memarahi dia karena telah melakukan sesuatu kepada anak-anak itu. Tangannya yang tadinya menyilang di badannya diangkatnya sedikit, seperti ketakutan aku akan menendang atau memukulnya. Memang pada saat itu posisiku yang berdiri sedangkan dia jongkong. Akhirnya aku bertanya kepadanya, "Bapak udah makan?". Kata-kata itu keluar dari mulutku, itu pun setelah aku memutar otak dan mengira-ngira apakah di dompet atau kantongku ada uang yang bisa kuberikan kepada bapak tua ini. Si bapak bukannya menjawab pertanyaanku dia malah berkata, "Mereka anak baik-baik...mereka anak baik-baik...", katanya sambil ketakutan. Hatiku terenyuh. Yang gila yang mana sebenernya, bapak ini atau anak-anak itu. Bapak tua ini walaupun sudah 'dikerjain' entah berapa kali oleh anak-anak itu masih bisa membela mereka, dengan alasan bahwa mereka anak baik-baik.

Kuulangi pertanyaanku, "Bapak udah makan pak??". Akhirnya dia seperti tersadar kalau aku mendekati dia bukan untuk menghakimi dia lebih lanjut. Tangannya diturunkan, tapi dia tidak juga menjawab. Akhirnya kurogoh uang di kantong celanaku, ada satu lembar lima ribuan. Kusodorkan kepada bapak tua itu, "Ini pak buat makan...". Si bapak itu belum juga ngeh dengan apa yang terjadi. Kudekatkan lagi tanganku supaya dia bisa melihat uang yang kusodorkan. Awalnya dia seperti menolak, tapi setelah tau aku menyodorkan uang akhirnya dia terima. Dengan masih gaya kedinginan dia memasukkan uang tadi ke kantongnya yang lusuh dan kembali melihat ke bawah, tanpa mengucapkan apapun.

Aku tadinya mengharapkan ucapan terima kasih, tapi setelah dipikir-pikir...ah biarlah, toh aku sudah berbuat kebaikan. Lagipula, apalah artinya sebuah kata-kata kalau hati ini berbeda suaranya. Akhirnya aku naik bus dan pulang ke rumah. Sebuah peristiwa yang cukup mengguncang hati bagiku, karena ternyata sisi baik manusia sudah banyak tertutupi oleh kerasnya hidup ini. Ampuni kami Tuhan!

You May Also Like

0 comment